myCatalog

Kamis, 12 November 2015

IT’S HURT ----------- [Epilog]



IT’S HURT   -----------  [Epilog]







                Namja tinggi itu baru saja melangkah memasuki apartement miliknya ia langsung melangkah memasuki kamarnya tanpat menghidupkan lampu lagi diruang tamu, ia lebih suka dengan kegelapan malam hari, ia melempar ponselnya ke atas tempat tidur ia melangkah menghampiri jendela apartementnya yang merupakan pintu menuju balkon di kamarnya ia menatap keadaan kota kelahirannya dimalam hari, ia hanya menatap dalam diam keadaan diluar sana ia bahkan bisa melihat bayangan dirinya sendiri dari kaca bening dihadapannya ia tidak menyangka walau susah awalnya ia bisa sukses setelah keluar dari EXO, semua orang sekarang akan meneriakan namanya Wu Yifan iya, nama aslinya bukan lagi nama stagenya dulu Kris ia senang dengan keadaan saat ini tetapi tidak bisa dirinya pungkiri jauh disudut hatinya, ia selalu merasa kosong, sangat kosong, bagai ada tempat yang tidak bisa diisi oleh apapun yang sudah ia raih saat ini, tempat yang kosong dan selalu kosong semenjak ia keluar dari grup nya EXO

                Wu Yifan atau Kris membuka pintu jendela apatementnya dan melangkah keluar ia berdiri di balkon, ia menikmati angin yang mengacak-acak rambutnya, ia menatap keatas langit hitam entah sudah berapa lama ia tidak melihat ada bintang di atas langit dan entah sejak kapan ia jadi merindukan langit berbintang dimalam hari padahal itu bukanlah kepribadiannya sama sekali, terakhir kali ia melihatnya ketika ia masih di Seoul bersama dengan si manja itu ketika maknae manja itu memaksanya untuk menemaninya ke namsan tower dimalam hari hanya untuk melihat pemandangan malam dan jelas saja untuk melihat langit berbintang dimalam hari

“Yeoppeuda..”

Kris tersenyum mengingat kata yang selalu keluar dari maknae EXO M itu setiap mereka menghabiskan sisa malam di namsan tower ataupun di bukti di dekat namsan tower,  namja tinggi itu tersenyum bodoh ia merindukan saat-saat seperti itu ia benar-benar berharap waktu bisa kembali terulang “Apa kabarmu disana anak manja?” gumamnya ia bahkan tersenyum ketika mengucapkan pertanyaan itu

                ‘Wuuzzhhhh’

                Senyumnya pudar seketika saat hanya angin yang ia dengar menyapa telinganya, Kris menunduk bahkan sampai merosot duduk di atas lantai balkon ia menumpukan dagunya di atas lututnya ia menatap kosong pagar pembatas balkon di hadapannya, hanya ini yang ia lakukan setiap malam setelah sibuk dengan aktifitasnya seharian untuk melupakan si maknae manja itu, tetapi jika malam sudah datang dan mengharuskan seluruh makhluk hidup untuk beristirahat dirinya malah terjaga dengan kenangan yang menyiksanya setiap malam, ia rindu akan rupa si maknae EXO M itu, ia merindukan suara manja Maknae EXO M itu ketika membujuknya melakukan sesuatu ataupun meminta sesuatu

 “Aku merindukanmu Huang Zitao..” gumamnya bahkan mata tegas yang pernah menatap Tao dengan kebencian kini terlihat berkaca-kaca penuh dengan airmata, ia tidak menyangka merindukan seseorang sesakit ini, terlebih seseorang yang dirindukan adalah orang yang sudah ia sakiti, orang yang pernah mendengar ucapan menyakitkan dari bibirnya

                “Tao-ah…” Kris menelungkupkan wajahnya di atas lutut “Bogoshipeo..”


-Wu YiFan-


                “Istirahatlah dan jangan terbangun tengah malam lagi Tao-ah..” ucap namja Pikachu itu sambil menyelimuti maknae EXO-M itu dan namja bakpao juga berdiri di sebelah Chen si namja Pikachu

                “Ne tidurlah, kami ada disebelah kau bisa memanggilku jika butuh apa-apa itu hanya mimpi buruk..” Xiumin si namja bakpau mengacak pelan surai rambut Tao sang Maknae EXO-M

                Tao si maknae pun mau tidak mau mengangguk ia benar-benar tidak suka ketika ia mengalami mimpi buruk ia pun mau tidak mau hanya bisa diam melihat ke-2 hyung nya sudah keluar dari kamarnya ia bangkit dari posisi tidur nya lalu duduk di atas tempat tidur ia meraih kalender meja di meja nakas sebelah tempat tidurnya, ia menatap kalender yang sudah terdapat banyak coretan silang di setiap angka, ia kembali membuka laci meja nakasnya mengambil spidol merah membukanya lalu mencoret tanggal hari ini usainya ia kembali menutup spidol dan melemparnya kembali ke laci dan menutup laci itu dengan kasar, sejujurnya ia malas mencoret tanggal setiap hari karena itu menandakan ia sudah melewati 1 hari lagi tanpa seseorang yang sangat ia butuhkan lebih dari apapun

                Ia kembali menatap deretan coretan di tiap angka di kalender meja nya “Sudah selama ini kah?” gumam Tao, ia membalik-balik kalender hampir seluruh kalendernya penuh dengan coretan di setiap tanggal, Tao kembali meletakkan kalender itu di meja nakas dengan kasar ia menerawang menatap langit-langit kamarnya entah fikiran maknae EXO-M itu melayang kemana ia hanya diam dan lama kelamaannya matanya terpejam ia memikirkan memorynya dengan seseorang yang sudah meninggalkan dirinya dan grupnya

 Jika dulu setiap ia tidak bisa tidur karena mimpi buruk leader mereka di EXO-M akan menemaninya tidur sampai pagi padahal hanya Tao yang tidur di tempat tidur sedangkan Kris sang leader hanya tidur sambil duduk dilantai dan bersandar di tepi tempat tidur Tao, tentu saja Tao sangat merasa terjaga dengan apa yang dilakukan Kris semalaman menjaga maknae itu tidur sampai Kris sendiri tertidur dengan posisi tidur yang paling tidak enak dimuka bumi ini

                Tapi sekarang bahkan beberapa bulan ini dirinya hanya sendirian setiap ia mimpi buruk ia tidak bisa langsung kembali tertidur, walaupun Xiumin ataupun Chen menawarkan diri agar bisa menemaninya tidur seperti yang Kris lakukan hasilnya tidak bisa sama seperti yang Kris lakukan, bahkan ketika Lay mencoba pun tidak bisa walaupun pangeran Changsa itu menyanyikan nya lagu tradisional yang sering di nyanyikan nenek Lay ketika Lay masih kecilpun tidak memberikan hasil apapun, Tao menghela nafas berat rasanya benar-benar sesak hidup tanpa Kris disini ia benar-benar merindukan namja tinggi itu, terlalu sangat merindukannya tetapi apa Kris juga merindukannya disana? Kris terlihat baik-baik saja di setiap berita di media yang Tao baca setiap hari bahkan nama tinggi itu bisa tersenyum senang, dan jangan lupakan acting mantan leader itu dengan beberapa yeoja china disana seolah-olah menegaskan pada Tao betapa STRAIGHTnya Kris, dan hanya dirinya yang masih mengharapakan kalau yang dikatakan Kris waktu itu hanyalah bohong belakang

Tao menghela nafas lelah “Hhhhh..” harusnya Tao sadar memang itulah yang Kris inginkan bukan bahagia diluar sana setelah meninggalkan mereka semua, meninggalkan dirinya dengan untaian kata-kata menyakitkan hari itu

                “Hyung…” Tao menghapus setetes airmatanya yang entah sejak kapan mulai menetes dari mata panda nya walaupun setelah ia menghapusnya akan adalagi tetesan air mata lagi yang jatuh dari matanya membasahi kedua pipi tirusnya “Aku merindukanmu Kris Hyung..”


-Huang ZiTao-


                “Kau baik-baik saja?” Tanya sang manager pada Suho karena akhir-akhir ini Suho selalu menerima banyak job entah apapun itu job nya, Suho terlihat menghindari sesuatu

                “Aku baik-baik saja, wae?” Suho tidak berpaling dari map yang tengah ia baca ia hanya menyahut tanpa harus repot menoleh ke manager EXO itu

                “Apa ada hubungannya dengan Yixing?”

                Suho menutup map yang tengah ia baca ia tetap menunduk “Aku hanya ingin bekerja Hyung..” ucap Suho lalu beranjak berdiri “Akan ku baca kontrak ini di dorm, jika aku menerimanya akan ku hubungi kau segera..” Suho memakai coat berwarna coklatnya “Aku pulang dulu Hyung..” Suho pun beranjak tanpa sempat mendengarkan sedikitpun ucapan dari managernya yang sebenarnya sangat ingin berbicara sedari tadi karena ia tahu managernya akan membahas masalahnya dengan Lay

                Suho melangkah pelan ia menatap lurus jalanan yang sudah sepi bagaimana tidak sepi ini sudah jam 11 malam baru saja Suho mengecek jam digital yang melingkar di pergelangan tangan kanannya dan menunjukkan hari sudah sangat larut tetapi ia malah memutuskan untuk berjalan kaki pulang dari kantor agency mereka menuju dorm, ia benar-benar ingin menyegarkan fikirannya, apa begitu terlihat dirinya berusaha menghindari Lay? Dirinya bukan menghindari Lay ia hanya ingin belajar menjalani segalanya tanpa Lay disisinya, ia bahkan sampai mendaftarkan diri ikut les bahasa mandarin secara online agar suatu saat tanpa bantuan Lay ia bisa menghandle urusan member mereka ketika berada di China

                Drrrttt Drrtttt

                Suho merasakan ponselnya bergetar ia merogoh sakunya dan mengeluarkannya mau tidak mau senyum manis mengembang di bibirnya begitu melihat layar ponselnya menunjukkan ada panggilan dari Lay, jujur setiap berada di dekat Lay sekarang ia tidak merasa sakit ia merasa senang tetapi logikanya membuatnya tersadar kalau ia memang harus menjauhi Lay jika tidak ingin sakit hati lagi seperti dulu, karena yang memiliki perasaan disini hanya dirinya seorang

                “Ne Lay-ah?” sahut Suho dengan suara yang ia buat sesenang mungkin

                “Kau dimana? Ini sudah larut, manager bilang kau sudah kembali dari agency sedari tadi..”

                Suho terdiam ia sebenarnya ingin berteriak senang setiap mendapatkan perhatian lebih dari Lay tetapi lagi-lagi logikanya membuatnya sadar ia tidak boleh sakit lagi seperti hari itu “Aku sebentar lagi sampai..” Suho tidak bohong ia sekarang sudah berdiri di bawah gedung apartement dorm mereka ia bisa melihat lampu di dorm mereka masih menyala pasti itu Lay yang masih bangun dan menunggunya kembali

                “Masih lama kah? Kenapa kau lama sekali Junmyeon-ah..”

                Suho terdiam lagi bahkan ia sampai membulatkan matanya dan menghentikan langkahnya sudah lama ia tidak mendengar Lay memanggilnya Jumyeon apalagi setelah debut “Yi-Yixing-ah..”

                Lay menepuk mulutnya rasanya ia ingin membanting dirinya sendiri karena kelepasan memanggil Suho dengan panggilan yang dulu hanya dirinya yang menggunakannya untuk memanggil Suho “A-aku sepertinya mengantuk Suho-ya bisakah kau cepat? Atau aku akan mengunci pintu dorm agar kau tidak bisa masuk..”

                Suho tersenyum miris jantungnya kembali berdenyut walau tidak sesakit hari itu tetapi tetap saja ketika mendengar Lay barusan terdengar sekali ingin menyangkal panggilan yang baru saja ia dengar  keluar dari bibir namja china itu “Yixing-ah..” Suho tetap memanggil Lay dengan panggilan Yixing namja China itu kini terdiam ia melangkah menuju jendela menutup matanya bersandar pada sisi pintu jendela jantungnya berdebar kuat, sungguh ia sakit mendengar suara Suho seperti itu ia rasanya ingin merengkuh SUho kedalam pelukannya dan meminta maaf atas semuanya yang sudah terjadi beberapa tahun ini atas sikap nya, ia benar-benar tidak bermaksud menyakiti Suho

                “Kau masih disana Yixing-ah..”

                “Suho-ya.. kumohon..”

                “Kali ini saja, kumohon padamu Yixing-ah..” Suho mendongak keatas ia bisa melihat bayangan Lay yang berdiri di kaca jendela dorm mereka, kali ini Suho benar-benar putus asa ia benar-benar ingin di berikan kesempatan sekali saja menunjukkan perasaannya pada Lay tanpa namja itu langsung pergi menghindar darinya

                “Junmyeon-ah..” ucap Lay jemari tangannya menyentuh kaca jendela ketika ia menangkap bayangkan Suho di bawah sana tengah menatapnya walau jarak itu jauh dirinya yakin Suho tengah menatapnya

                “Bogoshipeo Yixing-ah..” ucap Suho tanpa berhenti mendongak ia tetap menatap Lay-nya di atas saja “Jeongmal bogoshipeo Zhang Yixing..”

                Tubuh Lay merosot jemarinya masih menempel dijendela ia berjongkok di depan jendela kepalanya terkulai lemah di kaca pintu jendela rasanya sesak mendengar suara Suho diseberang sana, ia juga merindukan YIXING dirinya yang dulu bukan LAY yang sekarang “Argh..” Lay berteriak pelan bahkan mulai terisak “Junmyeon-ah…”

                Suho menunduk ia merasakan airmatanya lagi-lagi menetes tanpa ia komando, kenapa airmatanya mudah terjatuh karena seorang Zhang Yixing? “Saranghae..” ucap Suho lagi

                Lay menenggelamkan wajahnya di atas lutut sesak rasanya mendengar pengakuan Suho “Junmyeon…” Kata-kata itu yang selalu Lay hindari terucap dari bibir Suho selama ini, hatinya bagai ditusuk belati ketika ia mendengar orang yang dicintainya mengucapkan perasaan yang sama seperti dirinya tetapi dirinya tidak bisa membalasnya “Mianhae..” ucap Lay sebelum mematikan sambungan ponselnya

                “Nado Saranghae..” gumam Lay pelan pada kaca dihadapannya ia berharap Suho di bawah sana mendengar balasannya melihat bibirnya mengucapkan balasan atas perasaannya, tetapi yang ia lihat Suho hanya menunduk bahkan ponselnya masih menempel di telinganya, Lay terisak melihat KIM JUNMYEON-nya seperti itu dan itu karena dirinya

                “Argghh!!” Lay membanting ponselnya lalu jatuh terduduk diatas lantai dari posisi berjongkoknya ia menghapus airmatanya dengan kasar rasanya benar-benar seperti mati perlahan

                Suho meneteskan airmatanya lagi tetapi bibirnya tersungging senyum bodoh, senyum yang ia tujukan untuk dirinya sendiri bayangkan saja bahkan ponsel yang sudah tidak ada sambungan panggilan masih menempel manis di telingannya dirinya bodoh bukan? Suho sudah mengungkapkannya tetapi kenapa rasanya seperti ia ingin mati saja mendengar isakan YIXING-nya dan mendengar ucapan maaf dari Lay, ia tidak berharap Lay akan membalas tetapi ia tidak menyangka setelah mengucapkan perasannya rasanya jauh lebih sakit daripada mendengar ucapan Lay beberapa bulan yang lalu

                “Aku benar-benar mencintaimu Yixing-ah..”


-Kim JunMyeon                                Zhang YiXing-


                Namja cantik itu memberikan senyum terbaiknya ketika kamera tengah memotret dirinya dari berbagai sudut, ia baru saja beberapa waktu ini sembuh dari cideranya dan kembali memulai langkah debutnya sebagai artis di negaranya sendiri, usai dengan acara foto-foto dengan wartawan di ruang konfrensi pers ia melangkah keluar dari ruang konfrensi pers senyum yang sedari tadi ia sunggingnya perlahan lenyap ketika ia masuk kedalam ruang ganti yang ia gunakan di gedung tempat dirinya mengadakan konfensi pers  dan kini ia hanya sendirian di dalam ruangan itu, ia menatap sekitarnya

                “Rasanya aneh..” ucap namja cantik itu, ia menatap pantulan dirinya di kaca meja rias, dan di meja itu sudah ada bunga ucapan selamat yang entah dari siapa, terdapat huruf alphabet dengan tulisan capital besar menuliskan GOOD LUCK XIU LUHAN ia menghela nafas ia menghampiri bunga itu ia hanya melihatnya tanpa menyentuhnya, biasanya yang ia terima adalah ucapan dengan nama dirinya CHUKHAE EXO-M LUHAN sekarang gelar EXO-M sudah hilang dari namanya

                Ia menatap ruangan tempatnya berdiri saat ini ia menatap kesegala sudut ruangan, ruangan ini adalah ruangan yang sama yang sering digunakan EXO dulu ketika mereka akan mengadakan press conference di China tentang album comeback mereka tapi hari ini ia hanya sendirian disini, ada perasaan senang setelah ia bisa kembali bernyanyi lagi hanya saja ia kini bernyanyi seorang diri tidak ada sahabat-sahabatnya, walaupun hampir seluruh member sering menghubunginya bahkan Kris yang sekarang sudah sangat tenar pun sering menghubunginya hanya untuk berbincang tentang masa-masa mereka di EXO dulu, iya mengenang masa lalu yang ternyata sangat indah dikenang ketika masa itu kini sudah tidak bisa ia rasakan lagi, sayang nya dari hampir seluruh member yang menghubunginya ada 1 orang yang sama sekali tidak pernah menghubunginya benar-benar tidak pernah walaupun Luhan selalu berdoa agar orang itu menghubunginya sekali saja walau hanya untuk mengumpat ataupun memarahinya ia tidak masalah dengan itu

                “Luhan?”

                Luhan mendongak ia menatap pintu ruang ganti yang terbuka “Ne? ah maksud ku iya?” Luhan bahkan menyahuti dengan bahasa Korea yang biasa ia gunakan ia lupa kini dirinya sudah bukan di Korea lagi, ia sudah jauh dari Korea bahkan mungkin tidak bisa kembali lagi

                “Ayo kita kembali..” orang yang mengajak Luhan kembali itu adalah manager baru Luhan, saudara sepupu Luhan yang Luhan angkat menjadi managernya dan tentu saja dia tahu segalanya tentang alasan Luhan keluar dari EXO demi melindungi semua member EXO disana dan seseorang, seorang maknae bodoh yang mengira Luhan tidak pernah menaruh rasa padanya

                Luhan menatap jalanan dari mobil Van nya seketika matanya menatap kedai bubble tea tempat biasa ia membeli bubble tea jika dirinya dan namja yang ia rindukan yang tidak pernah menghubunginya selama ini jika tengah berada di china untuk promosi comeback mereka, setetes airmata Luhan menetes begitu saja tanpa ia sadari

                “Hhh..” Luhan menyentuh pipinya ia tidak percaya ia menangis hanya karena melihat toko bubble tea, serindu itukan dia pada maknae bodoh itu?

                “Kau baik-baik saja?” Tanya sepupu Luhan sedikit khawatir karena sedari tadi namja cantik itu hanya diam saja menatap jendela

                “Bisa kau belikan aku bubble tea di toko itu? Toko tempat biasa aku membeli bubble tea dulu?” Tanya Luhan tanpa menoleh ia tidak ingin sepupunya tahu airmatanya sudah menggenang di pelupuk mata

                “Kau merindukan SeXin?” Tanya sepupunya tepat sasaran bahkan pertanyaan itu sukses membuat airmata yang tadinya hanya menggenang dipelupuk mata Luhan kini menetes sukses membasahi kedua pipi Luhan

                Melihat Luhan hanya diam sepupunya pun memutuskan meminta supir berhenti dan ia turun membelikan bubble tea yang diminta Luhan walau ia harus berjalan kembali menuju toko yang Luhan maksud

                Luhan lagi-lagi mengusap kasar wajahnya ia benar-benar cengeng hari ini, ia selalu menanamkan dirinya adalah seorang lelaki dan lelaki pantang menangis tetapi kenapa dirinya selalu menangis jika dihadapankan dengan kenyataan dan kenangan akan seseorang diKorea sana “Aku benar-benar merindukanmu Sehun-ah..” Luhan menutup wajahnya dengan jaket hitam miliknya karena dengan bodohnya ia tidak bisa menghentikan lelehan airmatanya ketika ia menyerukan nama Sehun dari bibirnya, ia benar-benar merindukan maknae EXO-K itu bahkan rasanya sangat sesak ketika ia sama sekali tidak mendapat telfon ataupun pesan satupun dari Sehun setelah ia keluar dari EXO sampai sekarang “Sehun-ah..” Luhan terisak bahkan sampai meremas bajunya ia benar-benar sesak “Bogoshipeo..”


-Xiu LuHan-


                Namja tinggi berkulit pucat menatap pantulannya di kaca ia memandangi wajahnya ia merasa tidak terlihat seperti dulu, wajahnya sekarang lebih banyak menunjukkan raut kurang bersahabat bahkan terlihat lebih pucat ia tidak terlihat seperti manusia normal, terlebih ketika tempat bersandarnya orang yang selalu ada disisinya ketika ia membutuhkan seseorang kini malah pergi begitu saja meninggalkannya, meninggalkan segalanya bukan hanya dirinya

Ia merasa tidak ada lagi yang bisa ia percaya karena seluruh kepercayaannya telah ia berikan pada namja itu tetapi kepercayaannya dirusak begitu saja, ia membenci kenyataan ia sekarang harus berdiri sendiri ia harus berjuang sendiri walau member yang lain ada untuknya hanya saja keadaan sekarang benar-benar sama sekali tidak sama dengan keadaan dulu ketika namja itu masih ada untuknya

                “Apa yang kau harapkan Oh Sehun?” Tanya nya pada pantulan bayangannya sendiri, ia bahkan sepertinya mulai lupa bagaimana cara bahagia jika namja itu tidak ada, ia terpuruk karena terlalu mencintai namja yang ternyata meninggalkannya begitu saja, bahkan setelah mengetahui kenyataan bahwa namja cantik yang ia cintai tidak pernah menyukai segala tingkah laku nya masih bagus ia tidak langsung bunuh diri saat itu

                Oh Sehun memalingkan wajahnya dari cermin, ia berjalan menuju tempat tidurnya ia menoleh kearah jendela ia bisa melihat tirai di jendelanya bergoyang tertiup angin malam ia mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur jemari lentiknya membuka laci meja nakasnya dan meraih sebuah buku, buku yang baru ia beli beberapa bulan lalu setelah Luhan namja yang dicintainya keluar dari grup mereka, ia membuka buku itu dari lembar pertama sudah ada tulisan besar dengan huruf capital dicetak tebal XIU LUHAN dilembar berikutnya banyak potongan-potongan artikel dari Koran ataupun majalah bergambar namja cantik itu tertempel di buku itu, ia terus membaliknya hingga ke halaman paling terakhir berita beberapa hari lalu ketika Luhan konfrensi pers tentang debutnya sebagai penyanyi SOLO di China sana

                “Apa kabarmu Hyung?” Tanya Sehun, entah pada siapa ia hanya tersenyum bodoh benar-benar bodoh kenapa ia masih merasakan perasaan ini? Kenapa jantungnya masih berdebar halus ketika melihat wajah Luhan di majalah, dilayar televisi, dimanapun, setelah apa yang ia dengar dari bibir namja rusa itu kenapa ia masih saja mencintai namja itu?

                Sehun menuntup matanya menghela nafas kasar lalu bangkit dari duduknya, ia menutup buku yang berisi tentang Luhan dan melemparnya ke ujung tempat tidur ia sangat ingin melupakan Luhan tetapi yang terjadi dirinya dengan bodoh diam-diam memotong setiap artikel tentang Luhan setelah namja itu hengkang dari EXO dan menempelnya pada sebuah buku kosong yang sekarang sudah terisi hampir setengah, apa yang kau harapkan Oh Sehun?

                “Kenapa aku masih saja merindukanmu?” ucap Sehun frustasi ia menjatuhkan tubuhnya dan duduk dilantai bersandar pada tepi tempat tidur miliknya ia rasanya ingin menjambak rambutnya, rasa cintanya pada Luhan tidak membuatnya sesakit sekarang ketika rindu melanda, ia tidak menyangka rasa rindunya pada Luhan jauh lebih menyakitkan daripada rasa cintanya pada Luhan apalagi di banding rasa sakit akibat ucapan Luhan sehari sebelum perpisahan dengan Luhan sakit dihari itu tidak ada artinya jika di banding dengan kerinduannya pada namja rusa itu

                Sehun sangat ingin menghubungi Luhan hanya saja ego nya sebagai maknae membuatnya menjaga harga dirinya untuk tidak menghubungi Luhan terlebih dahulu, apa Luhan tahu bagaimana sakitnya perasaan Sehun ketika mendengar Xiumin selalu menceritakan kepada seluruh member jika dirinya baru saja mendapat telfon dari Luhan, kenapa Luhan tidak menghubunginya juga? Apa Luhan tidak merindukannya? Apa Luhan tahu, disini Sehun hampir mati merindukannya?

                “Luhan Hyung..” Sehun menyandarkan tubuhnya lemah pada tempat tidur ia menatap langit-langit kamarnya “Aku merindukanmu Hyung.. bagaimana denganmu?”


-Oh Sehun-


                Chen melangkah masuk kedalam kamarnya bersama Xiumin, tetapi langkahnya terhenti ketika baru saja ia membuka pintu kamar dan melihat Xiumin tengah menerima telfon yang entah dari siapa, ia hanya diam ditempat tidak bergerak dan tidak bersuara sebenarnya ia tidak ingin mendengar percakapan Xiumin dengan orang lain hanya saja ia tidak bisa menggerakan tubuhnya lagi ketika mendengar ucapan-ucapan manis XIumin yang entah ditujukan untuk siapa

                “Belajarlah yang benar, akan ku kirim kan hadiah jika kau berhasil… aku merindukanmu juga sampaikan salam pada Ummamu ne.. ne annyeong.. nadoo..” XIumin memutuskan panggilan telfon lalu berbalik sambil tersenyum, tetapi ia tersentak kaget begitu melihat ada Chen di pintu tengah menatapnya dengan tatapan dan wajah datarnya

                “Omo! Jongdae-ah kau mengagetkanku..”

                Chen tidak menyahut ia mengambil nafas sebelum memutuskan tidak menganggap serius kejadian yang barusaja ia lihat, namja Pikachu itu terus melangkah masuk kedalam kamar dan menghampiri tempat tidur lalu mengambil ponselnya yang tertinggal di meja nakas, dan kembali beranjak keluar dari kamar wajah Chen benar-benar tidak enak dilihat bahkan Chen sama sekali tidak membalas tatapan Xiumin

                “Jongdae-ah..” panggil Xiumin ketika Chen hampir saja membuka pintu kamar dan beranjak keluar kamar

                “Ne?” sahut Chen hanya melirik tanpa menoleh, memang rasanya itu tidak sopan tetapi Chen sama sekali tidak bisa melupakan expresi wajah Xiumin barusan ketika usai menerima telfon ia tahu dengan jelas pasti itu dari yeojachingunya yang dichina itu, dan wajah Xiumin terlihat sangat bahagia bagaimana ia bisa tidak sakit melihat wajah itu? Apa Xiumin tahu kejadian hari itu sukses membuat dirinya terlihat seperti orang bodoh yang menangis di tengah taman? Dan sekarang apa dirinya harus menangis juga di hadapan Xiumin? Agar namja bakpao itu tahu seberapa sakit yang ia rasakan? Jangan salahkan expresi wajah Chen yang seperti ini, karena hanya ini pilihan nya daripada dirinya menangis meraung-raung seperti hari itu sudah pasti ia lebih memilih bersikap cuek pada Xiumin dan tidak memperdulikan Xiumin dan berpura-pura tidak perduli namja itu baru saja menerima telfon dari yeojanya

                “Kau kenapa? Kenapa kau tidak menyahutiku? Belakangan ini juga kau menjauhiku Jongdae-ah” Tanya Xiumin bingung, namja bakpao itu malah sudah hampir melangkah menghampiri Chen

                Chen menutup matanya ia begitu menyukai suara Xiumin yang mengalun indah memanggil namanya tetapi hatinya begitu sesak ketika menyadari bahwa namja bakpao itu juga sudah dimiliki oleh seseorang “Aku tidak apa-apa dan aku tidak menjauhimu, buktinya kita masih menjadi roommate bukan?” Chen berbalik badan dan sukses membuat Xiumin menghentikan langkahnya, Chen terdiam sebentar menatap ponselnya lalu kembali mendongak menatap Xiumin “Kau berhasil mengajari yeojachingumu itu bahasa korea ternyata, chukhae memang benar katamu bahasa bukanlah penghalang dalam sebuah hubungan..”

                Xiumin hanya diam, memang benar yang menelfonnya adalah yeoja yang waktu itu tapi itu sepupunya walaupun hanya dirinya yang tahu dan sekarang Chen salah paham tentang itu Xiumin tidak bisa membela dirinya sendiri bukannya memang itu tujuan nya sejak awal, bahkan mungkin sekarang Chen sudah membencinya, seharusnya ia senang bukan rencana nya berhasil? Tetapi kenapa rasanya sesak melihat tatapan mata Chen yang seperti ini, sikap Chen yang seperti ini, mereka memang masih selalu bersama tetapi Chen terlihat menjaga jarak darinya, Chen nya bukan Chen yang dulu..

                “Wae? Kenapa kau hanya diam saja? Bukankah tadi kau memanggilku?” Tanya Chen, suaranya benar-benar tidak bersahabat Xiumin tahu Chen marah padanya tetapi semakin hari Chen semakin menjauhinya bahkan mereka terlihat seperti tidak bersahabat lagi bukan ini yang dirinya mau yang ia mau dirinya dan Chen masih bisa berteman dan bersahabat dekat, egois memang..

                “Aku minta maaf Jongdae-ah, kejadian di China waktu itu aku hanya..”

                Chen segera mengangkat tangannya itu artinya ia ingin Xiumin berhenti berbicara “Araseo, aku mengerti sudah tidak usah di bahas lagi..” Chen segera keluar dari kamarnya bahkan menutup pintu kamar itu dengan kuat dan berhasil membuat Xiumin berjengit kaget sekarang XIumin hanya sendirian di dalam kamar ia menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat rasanya ia ingin mengejar Chen dan memaksa Chen untuk memaafkannya

                Xiumin menghela nafasnya kasar, tidak mengakui perasaannya saja sudah cukup menyiksanya dan sekarang ditambah Chen berubah dan semakin hari semakin menjauhinya ini lebih menambah rasa sakitnya apa tidak bisa hubungannya dengan Chen juga baik-baik saja, ia melakukan itu semua agar Chen tidak meninggalkannya seperti Kris yang meninggalkan Tao dan Luhan yang meninggalkan Sehun tetapi kenapa Chen justru menjauhinya? Xiumin segera melangkah keluar dari kamar ia ingin menanyakan pada Chen apa yang membuatnya menjauhi dirinya? Bukankah mereka bisa baik-baik saja jika mereka tetap berteman? Kembali seperti dulu sebelum kejadian di China itu terjadi

                ‘Prang!’

                Xiumin menahan langkahnya begitu mendengar suara benda di banting ke lantai, ia bersembunyi di balik tembok mata sipitnya mengintip dari balik tembok dan melihat ponsel milik Chen sudah tidak berbentuk lagi di lantai bahkan ia bisa melihat Chen kini tengah mengatur nafasnya di ruang tengah, kenapa Chen harus membanting ponselnya?

                Namja Pikachu itu mengacak rambutnya ia bahkan menendang bangkai ponselnya yang tidak berdosa itu, rasanya ia benar-benar frustasi ia sudah berusaha mengikuti apa yang SUho katakan untuk tetap berada disisi Xiumin seperti sedia kala, seolah-olah tidak terjadi apa-apa di China hari itu, tetapi semakin ia mencoba yang ia rasakan hanya sakit sesak bahkan ia tidak tahu kapan terakhir ia memberikan senyum tulusnya pada Xiumin semenjak hari itu ia terlalu banyak berpura-pura dan bodohnya setiap ia melihat XIumin berkomunikasi dengan yeojanya di China sana Chen menghancurkan dinding kepura-puraannya ia tidak bisa lagi menyembunyikan emosinya ia tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya, dirinya hanya manusia biasa ia juga bisa sakit jika orang yang dicintainya menyakitinya sampai seperti ini

“Kim Minseok.. argghh!!” Chen mendudukkan dirinya dilantai dan bersandar pasrah di dinding tepat dibelakangnya kepalan tangannya memukul lantai kayu berkali-kali “Rasanya ingin mati saja jika begini..” bahkan Chen sekarang sudah terisak bagaimana ia tidak terisak dan tidak menangis setiap hari ia masih harus melihat XIumin mereka 1 grup bahkan mereka 1 sub grup bahkan mereka adalah teman sekamar, bagaimana caranya Chen melupakan perasaannya pada XIumin namja yang sekarang sudah jadi milik orang lain? Bagaimana lagi Chen harus bersikap pada Xiumin? Chen benar-benar putus asa Chen benar-benar tidak tahu lagi harus melakukan apa? Dirinya bagai di eksekusi mati ketika ia masih saja  menyukai Xiumin ketika seharusnya ia melupakan namja bakpao itu

                “Apa bisa kau tidak dengan yeoja itu Hyung..” gumam Chen dibalik isakannya, ia tidak masalah menahan sesaknya ketika harus selalu bertemu dengan XIumin bahkan harus tersenyum seolah-olah dirinya baik-baik saja ketika Xiumin menatapnya tetapi ia tidak bisa menahan sesaknya ketika mendengar sendiri Xiumin menghubungi yeojanya di hadapannya walaupun itu tidak disengaja oleh Xiumin dan bodohnya entah kenapa takdir selalu mempermainkannya berkali-kali ia memergoki Xiumin tengah menghubungi yeoja nya dan hasilnya adalah dirinya yang hanya bisa berusaha menahan sakitnya sendiri dan itu benar-benar menyiksa nya

                “Aku mencintaimu Hyung..” gumam Chen putus asa “Tapi kenapa kau mencintai yeoja itu..” Chen menelungkupkan kepalanya keatas lutut, beruntung saat ini di dorm tidak ada orang tidak ada yang harus melihatnya menangis seperti sekarang, dan Chen yakin XIumin masih ada di kamar tidak mungkin keluar dan memergokinya menangis seperti ini, katakanlah Chen cengeng ia tidak perduli ia hanya ingin mengeluarkan rasa sakitnya ia ingin berteriak malah agar semua nya tahu ia mencintai XIumin dan sekarang ia hampir mati sekarat karena dicampakan Xiumin

                “Seharusnya kau tahu kesamaan kelamin di antara kita juga bukan penghalang Hyung, arghhhh…” Chen kembali terisak “Aku benar-benar mencintaimu Minseok Hyung..”

                Xiumin melangkah mundur jemari mungil nya sudah menutup mulutnya ia segera kembali melangkah ke kamarnya walau ia akhirnya malah hanya bersadar di pintu kamar tanpa membuka pintu kamar itu ia mengetuk-ngetukkan kepalanya di pintu kamar ia menahan isakan yang hampir keluar dari bibirnya sesak mendengar pengakuan Chen andai Chen tahu dirinya juga merasakan hal yang sama andai Chen mengerti kenapa dirinya melakukan ini semua

                “Mianhae Jongdae… hhhh mianhae..” Xiumin mengigit bibirnya susah payah menahan isakannya agar tidak keluar dari bibirnya padahal jauh di dalam dadanya sangat sesak dan rasa sesak itu benar-benar meronta agar bisa dikeluarkan, ia tidak menyangka tindakan konyolnya ketika di China akhirnya menyakiti Chen sampai seperti ini andai ia bisa mengembalikan waktu ia tidak akan menjalankan rencana bodoh itu berfikir untuk membuat Chen berhenti mencintainya sama saja membunuh namja Pikachu itu secara perlahan bahkan juga membunuh dirinya secara perlahan

                “Nado Saranghae Jongdae-ah..”

               
-Kim Minseok-                  -Kim JongDae-


                Baekhyun menatap Chanyeol yang duduk disebelahnya di dalam mobil van, ia sengaja merangkul lengan namja tinggi itu agar focus namja itu yang tengah memperhatikan orang lain teralihkan pada dirinya “Chanyeollie..” gumamnya

                “Ah ne?” CHanyeol menoleh canggung, ia benar-benar takut Baekhyun melihatnya tengah menatap Kyungsoo, ia bukan sengaja menatap namja mungil itu ia benar-benar tengah khawatir dengan namja itu karena sedari kemarin namja itu lebih banyak diam apa namja itu tengah sakit

                “Mainkan 1 lagu untukku bagaimana?” Tanya Baekhyun dengan girang bahkan senyum bahagia mengembang indah di wajahnya dan jangan lupa mata namja itu sudah menghilang ketika ia tersenyum senang

                “Lagu? Kau ingin kunyanyikan lagu?” Tanya Chanyeol tidak yakin “Bagaimana jika aku memainkan gitarnya dan kau menyanyikan lagunya?” tawar Chanyeol lagipula mereka jarang menyanyikan lagu bersama lebih sering ia berduet dengan member lain khususnya Kyungsoo

                “Boleh, lagu apa baiknya?” Tanya Baekhyun lagi ia bingung jika harus menentukan harus menyanyikan lagu apa? Tidak bisa disembunyikan wajah Baekhyun sangat bahagia ketika CHanyeol mengajaknya untuk berduet

                “Love Song..”

                “Billionare..”

                Chanyeol dan Baekhyun saling bertatap mereka berdua mengajukan 2 judul lagu yang berbeda, Chanyeol menggaruk tengkuknya ia tidak enak pada Baekhyun karena menyebutkan lagu yang pernah ia nyanyikan berdua dengan Kyungsoo dulu di radio dan disebuah acara tv china, ia tidak bermaksud seperti itu nama lagu itu melayang begitu saja dari mulutnya “Ah Love Song juga bagus..” ucap Chanyeol

                Baekhyun menunduk sebentar lalu kembali menatap CHanyeol ia kembali tersenyum “Ah ani Billionare juga bagus itu saja..” Baekhyun berusaha mengontrol emosinya ia jelas tahu kenapa Chanyeol memilih lagu itu lagu kenangannya bersama dengan Kyungsoo, ia tidak lupa bagaimana wajah Chanyeol ketika memainkan gitar dan menyanyikan lagu itu bersama dengan Kyungsoo bahkan setelah menyanyikan lagu itu Chanyeol tersenyum-senyum seperti orang bodoh yang ada dimuka bumi, terlalu senang kah?

                “Gwenchana kita nyanyikan Love Song saja..”  Chanyeol segera memetik gitarnya ia sudah siap mengiringi Baekhyun bernyanyi, Baekhyun tersenyum senang karena Chanyeol memilih lagu pilihannya yang AKAN MEREKA nyanyikan, bahkan Baekhyun menyanyi sambil tersenyum-senyum ia tidak perduli Suho di sebelahnya menutup kuping nya dengan hoodie di kepalanya dan Sehun di depannya menutup telinganya dengan bantal milik Kai yang selalu Kai bawa kemana-mana karena sekarang Kai sudah memiliki bahu Kyungsoo yang bisa gunakan untuk bersandar jika ingin tidur

                Chanyeol mengoyang-goyangkan kepalanya sembari terus melantukan nada yang sesuai dengan suara milik Baekhyun, hanya saja wajah bahagia Baekhyun yang awalnya sangat bahagia berubah datar di akhir lagu, baru kali ini ia menyanyikan lagu seperti ini rasanya ia tidak mengeluarkan seluruh ketulusannya dalam lagu yang ia nyanyikan, ia menoleh pada Chanyeol yang kini sudah meletakkan kembali gitarnya pada tasnya

                “Suaramu bagus seperti biasanya Baekhyun-ah..” puji Chanyeol dengan senyum 5 jari nya dan jangan lupa jemari lentiknya mengacak sayang rambut Baekhyun, ia sangat menyanyangi Baekhyun ia sudah belajar untuk menyanyangi Baekhyun lebih dari yang ia rasakan hari ini dan sebelum-sebelum nya ia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan pada Kyungsoo bukan? Walau susah melupakan Kyungsoo tetapi ia tahu akan mudah mencintai namja dihadapanya ini

                Baekhyun hanya mengangguk ia lagi-lagi tersenyum padahal sebenarnya ia tengah kecewa Baekhyun mengalihkan posisi duduknya kembali menghadap depan ia hanya bisa merasakan sesak setiap kali ia mencoba membuat hubungannya dan CHanyeol terlihat baik-baik saja di depan semua orang, mungkin orang lain akan melihat mereka baik-baik saja bahkan Chanyeol juga begitu, tetapi hanya dirinya yang tahu apa yang kurang dari setiap hal yang ia lakukan namja sipit itu selalu merasa Chanyeol tidak bisa bersikap adil antara dirinya dengan Kyungsoo

                Setiap Chanyeol mengiringi Kyungsoo pasti tanpa di komandi Chanyeol akan menyumbangkan suaranya dengan sendirinya bernyanyi bersama dengan Kyungsoo, sedangkan setiap bernyanyi dengan dirinya CHanyeol hanya diam dan focus terhadap gitarnya bahkan menoleh padanya pun tidak, apa begitu susah mendapatkan hati seorang Park Chanyeol? Apa namja tinggi itu tidak tahu Baekhyun sudah seperti seorang pesakitan karena sakit yang ia rasakan hanya karena tetap memaksa menyukai Park CHanyeol? Ia tetap memaksa hubungan ini tetap berjalan bagaimanapun sakitnya, ia tidak perduli mata Chanyeol tetap terarah pada Kyungsoo yang terpenting status Chanyeol adalah miliknya bukan milik orang lain, katakan lah Baekhyun maniak ia tidak perduli, katakanlah ia terobsesi pada CHanyeol ia pun tidak perduli karena itulah kenyataannya

                Chanyeol menoleh ia melihat Baekhyun hanya terdiam ia mengelus pelan pipi putih Baekhyun hingga namja itu menoleh menatap nya bingung “Wae? Kenapa hanya diam saja?” Tanya Chanyeol, dan Baekhyun menggeleng lalu lagi-lagi tersenyum

                “Aniya aku hanya memikirkan lain kali akan menyanyikan lagu apa lagi berdua denganmu..” Baekhyun memeluk lengan panjang CHanyeol dan menyandarkan kepalanya pada bahu Chanyeol ia menghela nafas berat walau bibirnya tetap meyunggingkan senyum “Aku sangat mencintaimu Chanyeol-ah..”

                CHanyeol menatap puncak kepala Baekhyun yang kini bersandar di bahunya, ia tahu Baekhyun berbohong ia tahu kapan saja Baekhyun mengatakan kebenaran dan kebohongan di hadapannya, CHanyeol mengelus sayang rambut Baekhyun lalu menghela nafas ia benar-benar merasa berdosa pada Baekhyun sudah lewat bertahun-tahun semenjak hari itu hari dimana Baekhyun menyatakan perasaannya pada dirinya tetapi sampai hari ini Chanyeol belum pernah membalas ucapan cinta Baekhyun dengan tulus, ia tahu Baekhyun selama ini menahan sakit karena mencintainya ia tidak mengerti bagaimana cara Baekhyun bisa bertahan selama ini? Bagaimana Baekhyunbisa berbohong sepintar ini? Dan dengan bodohnya ia tetap memikirkan Kyungsoo memperhatikan Kyungsoo apapun segalanya tentang Kyungsoo sungguh berdosanya dirimu Park CHanyeol

                Bagaimana bisa dirinya seberuntung ini mendapatkan seorang Byun Baekhyun tetapi dirinya malah masih saja tidak puas? CHanyeol bukan tidak mencintai Baekhyun, dirinya memang menyukai Baekhyun tetapi jika di ibaratkan lingkaran hatinya terbagi dua antara Baekhyun dan Kyungsoo hanya saja sampai kapan ia akan terus begini? Menyakiti dirinya sendiri, menyakiti Kyungsoo yang terbebani dengan perasaanya pada namja mungil itu dan yang paling jahatnya ia menyakiti Baekhyun yang tulus mencintainya, CHanyeol mengecup sayang puncak kepala Baekhyun ia benar-benar berjanji akan belajar mencintai namja ini dan melupakan namja mungil yang kini duduk jauh di depan mereka, walau sebenarnya tidak mungkin dan kenyataannya melupakan Kyungsoo adalah hal yang sangat mustahil yang bisa ia lakukan, tetapi demi Baekhyun ia harus mencoba bukan

                “Aku juga mencintaimu Byun Baekhyun..” ucap Chanyeol tetapi lagi-lagi tanpa Baekhyun tahu mata Chanyeol tanpa di komando menatap punggung Kyungsoo di depan sana

                Baekhyun memeluk erat lengan CHanyeol ia tidak menyahut tetapi ia tahu ucapan itu tulus benar-benar tulus, bahkan tanpa di komando airmatanya menetes dari pelupuk matanya Baekhyun menyembunyikan wajahnya ke dada Chanyeol baru kali ini ia merasa lega mencintai seorang Park Chanyeol

                CHanyeol mendekap kepala Baekhyun di dadanya rasanya benar-benar sesak melihat Baekhyun sampai meneteskan airmata hanya karena ucapannya “Mian Baekhyun-ah.. mianhae… “ gumam Chanyeol di dalam hati nya karena lagi-lagi walau ia mengucapkan perasaannya tetapi ia mengucapkan nya sambil menatap Kyungsoo sama seperti dulu ketika ia meminta Baekhyun menjadi kekasihnya


-Park Chanyeol-                               -Byun Baekhyun-


                Kyungsoo melangkahkan kakinya keluar dari kamar sambil membaca artikel di ponselnya, lagi-lagi ia sibuk dengan ponselnya, tangan mungilnya membuka kulkas tetapi matanya tetap menatap ponsel tanpa henti, bahkan sekarang tangan itu dengan teliti meraih botol minum di dalam kulkas tanpa harus melihat lagi dimana letak botolnya di dalam kulkas dan dengan 1 tangan Kyungsoopun membuka tutup botol itu dengan cepat lalu meminum isinya sampai setengah

                “Ahh, leganya..” ia kembali menutup botolnya dengan sebelah tangan dan memasukkannya kembali ke dalam kulkas ia melangkah kembali dari dapur dorm ke kamarnya tetapi langkah nya berhenti ketika artikel yang tengah asik ia baca malah berganti dengan panggilan dari namjanya ‘Kai’

                “Ne? Kai?”

                “Cepat sekali? Kau pasti sedang membaca artikel lagi ne?” ucap Kai diseberang sana sambil tertawa kecepatan Kyungsoo mengangkat panggilannya mengalahkan kecepatan cahaya

                “Bagaimana kau tahu aku sedang membaca?”

                “Apa yang tidak aku ketahui tentang dirimu eoh? Aku tahu semua tentangmu Hyung..” Kai disebrang sana memainkan pulpen ditangannya sebenarnya ia tengah ada jadwal latihan koreo bersama dengan Sehun dan Lay dan sekarang dirinya tengah beristirahat sambil menunggu Sehun dan Lay kembali dari membeli makan siang jadi ia menghabiskan waktu menunggunya dengan menhubungi namja nya

                Kyungsoo melangkah kembali ke kamarnya ia tersenyum-senyum sendiri “Kau terlalu tahu tentang diriku, kau benar-benar terlihat seperti sesaeng fans Kai-ya..”

                Kai tersenyum senang “Aku yakin kau juga tahu segalanya tentang diriku bukan?”

                Kyungsoo terdiam bahkan ia membatalkan niatnya untuk mendudukkan pantat bulatnya di tempat tidur, ia bingung harus menjawab apa jujur ia tidak mengetahui banyak tentang Kai salahkan dirinya yang hanya sibuk melakukan pekerjaan sesuai permintaan agency dan salahkan dirinya juga yang selalu menyibukkan diri menghindar dari kenyataan sampai-sampai ia tidak menggunakan waktu nya yang sebenarnya banyak untuk mencari tahu dan bertanya pada Kai apa saja hobby namja berkulit tan itu selain menari? Apa makanan kesukaan seorang Kim Jongin, bahkan mungkin fans-fans fanatic Kai diluar sana jauh lebih tahu apa yang disukai dan tidak disukai Kai daripada dirinya sendiri namjachingunya

                “Hyung? Kau masih disana?”

                “Ah, um ne aku masih disini Kai-ya..”

                “Benarkan? Kau tahu segalanya tentang diriku?” Tanya Kai lagi bahkan puplen ditangannya sudah ia letakan kembali minatnya bermain dengan pulpen sedikit berkurang sedangkan disebrang sana Kyungsoo kembali terdiam ia tidak tahu harus menjawab apa? Berbohongkah demi menyenangkan hati Kai? Tetapi jujur jauh lebih baik bukan? Sedangkan Kai masih menunggu jawaban Kyungsoo jujur ia penasaran dengan jawaban Kyungsoo tidak mungkin bukan hanya dirinya yang tahu segalanya tentang Kyungsoo tetapi tidak sebaliknya dengan Kyungsoo?

                “Makan siang datang..” ucap Lay sambil membuka pintu dengan senang di belakangnya sudah ada Sehun dan Suho entah sejak kapan leader EXO itu ikut bergabung datang bersama dengan Lay dan Sehun

                “Ah, itu suara Lay Hyung  bukan? Makan siang dulu Kai-ya.. aku tidak ingin kau sakit..” Kyungsoo segera mengalihkan pembicaraan ia tahu tidak sopan mengalihkan pembicaraan tapi hanya itu yang bisa ia lakukan karena ia sendiri tidak tahu harus memberikan jawaban apa untuk Kai

                “Kau tidak ingin menjawab?” Tanya Kai dengan suara beratnya rasanya Kyungsoo tahu Kai tidak suka ia mengalihkan pembicaraan

                “Ani, hanya saja lebih baik kau makan saja dulu Kai-ya..” jelas Kyungsoo susah payah benar-benar ia tidak tahu harus memberikan alasan apa lagi agar Kai berhenti memaksanya menjawab

                “Araseo..” Kai langsung mematikan ponselnya lalu melemparnya begitu saja keatas tasnya di lantai ia tidak perduli ponselnya tadi hampir menabrak dinding yang keras ponselnya bisa saja rusak

                Ke-3 namja yang baru saja masuk hanya bisa diam dan saling bertatap bingung melihat ponsel itu melayang di depan mereka, Lay dan Suho bertatapan mereka tahu Kai pasti bertengkar dengan Kyungsoo “Kai-ya ayo makan siang, hyung mentraktirmu makan hari ini..” ucap SUho berusaha mencairkan suasana panas yang Kai ciptakan tepat ketika mereka datang

                “Aku tidak lapar..” Kai segera beranjak keluar dari dance practice room ia tidak perduli ke-3 orang itu akan marah pada dirinya karena sikap nya yang bisa dibilang kurang sopan, Lay hampir saja mengejar Kai tetapi Suho menahan lengannya  dan menggeleng, SUho tahu Kai butuh sendirian Kai sudah dewasa seharusnya Kai bisa memikirkan sendiri jalan keluar yang tepat

                Kai mendorong pintu atap di gedung agency nya dengan kencang ia menutup pintu itu kembali dengan kasar bahkan membantingnya tidak perduli pintu itu akan rusak nantinya akibat kelakuannya, ia tidak perduli panasnya matahari siang itu juga akan makin membuat kulitnya menghitam ia menendang dinding pembatas dengan kesal “Sial!” umpatnya

                Ia menatap sekeliling ia mendudukkan dirinya dan bersandar pada dinding pembatas yang tadi ia tendang, padahal mood nya tadi sedang sangat baik apalagi mendengar suara Kyungsoo tetapi karena satu pertanyaan yang tidak terjawab dari Kyungsoo langsung membuat moodnya menjadi sejelek ini, ia mengacak rambutnya yang sudah mulai memanjang karena memang tuntutan untuk comeback album baru mereka “Apa kau benar-benar tidak tahu apapun tentang diriku Hyung?” gumamnya

                Rasanya sesak jika mengingat kenyataan bahwa Kyungsoo memang belum sepenuhnya menyukainya, bagaimana mungkin namja mungil itu bisa tahu apapun tentang dirinya bisa jadi Kyungsoo hanya tahu sesuatu yang memang seharusnya diketahui public awam, ulang tahunnya, hobby nya dan hal-hal yang seharusnya seluruh manusia dimuka bumi ini tahu jika mereka seorang EXO-L

                “Apa hanya Park CHanyeol yang ada diotakmu Hyung? Lalu dimana posisiku di hati dan otakmu?” gumamnya lagi, ia menghela nafasnya berat ia sebenarnya lelah hanya menjadi selingan pelarian, walau bukan Kyungsoo yang menyuruhnya menjadi pelarian dan selingan tetapi dirinya sendiri yang menawarkan diri tetapi rasanya benar-benar lelah mencintai seseorang tanpa balasan selama bertahun-tahun tetapi entah kenapa tidak pernah melintas di otaknya kata menyerah atas Do Kyungsoo

                “Apa aku harus menjadi Park CHanyeol agar kau mencintaiku?” ucapnya lagi ia memeluk lututnya ia menelungkupkan wajahnya kelututnya ia benar-benar putus asa

                Memang Kyungsoo terlihat tidak terlalu merespon apapun sikap Chanyeol padanya, Kyungsoo seperti menganggap Chanyeol  tidak ada di matanya bahkan di hidupnya tetapi kenapa Kyungsoo juga menganggap dirinyapun tidak ada dalam hidupnya dan matanya padahal Kai selama ini selalu ada di sisi Kyungsoo, tapi kenapa rasanya sangat susah menyentuh hati namja mungil itu

                “Aku mencintaimu Hyung… tolong lihat aku hyung..” ucap nya sebelum isakan keluar dari bibirnya ia tidak bisa berucap apapun lagi, dadanya benar-benar sesak setelah selama ini ia hanya menahannya sendirian biasanya ia akan mengomel memaki dan melabrak CHanyeol jika namja tinggi itu mendekati namjanya tapi sekarang Chanyeol pun juga menjaga jarak dari Kyungsoo, mereka benar-benar terlihat jauh sekarang tetapi Kyungsoo tetap saja tidak bisa di raih olehnya, entah apa lagi yang harus dirinya lakukan demi menarik perhatian Kyungsoo agar melihatnya

                Kyungsoo menatap ponselnya sambungannya dengan Kai terputus, biasanya Kai akan mengucapakan ‘Annyeong’ sebelum memutuskan sambungan panggilan mereka dirinya tahu Kai pasti marah karena dirinya tidak menjawab pertanyaan Kai tetapi memang ia tidak tahu segalanya tentang Kai, dirinya tidak seperti Kai yang sibuk mncari tahu apa saja kesukaan pasangannya

                “Huft, baiklah nanti aku akan minta maaf padanya..” ucap Kyungsoo santai sambil mendudukan tubuhnya diatas tempat tidur ia kembali membaca artikel yang tengah ia baca tadi yang tertunda karena Kai menghubunginya “Hmm sampai dimana aku tadi?” Kyungsoo memutar bola matanya malas ia tiba-tiba tidak ada semangat lagi untuk melanjutkan kegiatan membacanya ia melempar pelan ponselnya keujung tempat tidur lama-lama dadanya mulai sesak ia mulai memikirkan Kai disana

                “Hhhhh.. bodohnya kau Do Kyungsoo..” gumam Kyungsoo pelan dirinya yang salah dirinya yang berdosa ia memutar otaknya memang apa yang sudah ia lakukan untuk Kai selama ini? Tidak ada. Ia hanya mengikuti apa kemauan Kai menjadi kekasih namja berkulit tan itu, berdiri didekat Kai di berbagai kesempatan jika bisa, makan bersama hampir setiap malam itupun karena Kai yang meminta hhh benar-benar ia tidak pernah melakukan apapun untuk Kai, seharusnya dirinya mengerti Kai ingin dirinya menunjukkan kalau dirinya adalah namjachingu Kai bukan hanya seorang namja yang berdiri disisi Kai

                Apa yang tidak Kai lakukan untuknya? Kai selalu ada disisi nya terutama ketika Kyungsoo ingin menghindar dari namja tinggi bernama Park CHanyeol, Kai selalu berdiri didepannya menjaganya mengalihkan perhatiannya tetapi dirinya malah tidak bisa mencurahkan hatinya pada Kai dirinya sibuk dengan dunianya sendiri, sibuk menghindar dari perasaannya pada Chanyeol hingga tanpa sadar dirinya menghindar dari Kai juga ia mengabaikan Kai seperti hal nya ia mengabaikan keberadaan Chanyeol

                Kyungsoo cepat-cepat meraih ponselnya ia mencoba menghubungi Kai kembali ia benar-benar ingin meminta maaf pada Kai, ia ingin mengatakan pada Kai untuk memulai lagi semuanya dari awal dengan benar, dan hentikan semuanya yang sudah terjadi kemarin-kemarin dirinya lelah dengan hubungan seperti itu sudah waktunya ia dan Kai mengubah hubungan mereka menjadi lebih baik, tanpa sikapnya yang menghindari Chanyeol tanpa kepura-puraan tanpa rasa sakit

                Kyungsoo menghela nafas ketika ia tidak mendapatkan jawaban dari Kai, ia mencoba menghubungi Kai lagi bahkan hingga 3-4 kali ia terus mencoba ia tidak akan menyerah sampai Kai menjawab panggilannya, Kai saja tidak lelah terus menantinya iapun tidak boleh menyerah sampai Kai menerima panggilannya

                Sehun menatap ponsel Kai yang bergetar-getar di atas tas namja berkulit tan itu “Sepertinya Kyungsoo daritadi menelfon Kai haruskah kita angkat telfonnya?” Tanya Sehun pada Suho dan Lay, kedua namja itu hanya bertatap bingung

                “Biar aku yang mengangkatnya mungkin Kyungsoo sedang dalam keadaan terdesak..” Lay meninggakan makanannya lalu menghampiri tas Kai baru saja ia meraih ponsel Kai tiba-tiba pintu ruang dance practice terbuka Kai menatap Lay bingung kenapa namja china itu memegang ponselnya

                “Apa yang kau lakukan Hyung?” Tanya Kai bingung

                Lay menyodorkan ponsel Kai pada pemiliknya “Sedari tadi Kyungsoo menghubungimu mungkin sudah 6x dengan yang barusan terputus.. mungkin ada hal penting…”

                Ucapan Lay menggantung bahkan belum sempat ia selesaikan ketika Kai sudah langsung merebut ponselnya dari tangan Lay dengan terburu-buru dan mengecek panggilan tidak terjawab di ponselnya, benar Kyungsoo menghubunginya sampai 7x senyum bodoh mengembang di bibirnya padahal baru saja ia menangis di atas atap tetapi hanya tahu Kyungsoo menghubunginya dia sudah sesenang ini

                “Gomawo Hyung..” Kai kembali melangkah keluar dari ruang dance practice dan lagi-lagi membuat Sehun Suho dan Lay yang masih berjongkok di lantai menatap Kai yang menghilang di balik pintu dengan bingung

                Kai mencari tempat yang nyaman untuk menelfon namja mungilnya ia memutuskan untuk menghubungi Kyungsoo rasanya ia tidak sabar menunggu Kyungsoo yang menelfonnya lagi, tetapi belum ia menemukan tempat yang nyaman ponselnya kembali bergetar tanda panggilan masuk dan itu ternyata dari Kyungsoo

                “Ne Hyung???” Kai langsung cepat-cepat menjawab panggilan Kyungsoo bahkan lebih cepat daripada Kyungsoo yang menjawab panggilan dari Kai tadi

                “Mianhae Kai-ya..” Ucap Kyungsoo disebrang sana Kyungsoo memeluk lututnya kuat-kuat dagunya ia sandarkan pada lututnya ia benar-benar takut Kai tadi tidak mau menjawab telfon darinya lagi

                “Kau baik-baik saja hyung?” Tanya Kai bingung suara Kyungsoo benar-benar tidak terdengar baik-baik saja

                “Ku fikir kau tidak akan mengangkat panggilanku Kai-ya..” Kyungsoo terdiam ia mengigit bibirnya “Ku fikir kau sudah berfikir untuk meninggalkanku karena aku tidak tahu apapun tentang dirimu..”

                Kai mau tidak mau mengembangkan senyumnya walau sakit ternyata memang Kyungsoo tidak tahu apapun tentang dirinya tetapi ia senang karena tahu kalau Kyungsoo ternyata takut kehilangan dirinya jika bisa ia ingin melompat bahagia saat ini “Apa aku terlihat seperti akan meninggalkanmu?”

                Kyungsoo mengangguk walau ia tahu Kai tidak mungkin bisa melihatnya “Ne..”

                “Mwo? Aku tidak seperti itu kau tahu..”

                “Tapi kau tidak menjawab panggilanku..” protes Kyungsoo, hei Kai baru kali ini mendengar suara Kyungsoo seperti ini terdengar tengah merajuk padanya ini pertama kalinya

                “Aku tadi meninggalkan ponsel ku diruang dance, mianhae aku tidak menyangka kau akan menghubungiku..” Kai benar-benar menyesal andai ia tahu Kyungsoo akan menghubunginya kembali ia tidak akan meninggalkan ponselnya

                “Kai-ya..”

                “Ne?”

                “Ayo kita hentikan semua ini Kai-ya..”

                Kai menghentikan langkahnya matanya bahkan hampir melompat keluar dari rongganya, apa yang diucapkan Kyungsoo?? Apa itu artinya putus? Tidak dirinya tidak mau ia lebih memilih tetap menjadi selingan pelarian atau apapun itu namanya di mata Kyungsoo dan akan rela Kyungsoo tetap menyukai Chanyeol asal Kyungsoo tetap menjadi namjachingunya

                “Kai-ya kau masih disana?” panggil Kyungsoo

                “Ne.. maksudmu apa Do Kyungsoo?” Tanya Kai putus asa, dirinya sudah bersandar di dinding ia menghentikan langkahnya tepat ketika dirinya berada didalam tangga darurat gedung agency mereka

                “Kita sudahi saja hubungan kita Kai-ya… aku lelah terus berpura-pura aku lelah melihatmu berpura-pura..”

                Tubuh leader dance itu merosot begitu saja ia terduduk dilantai kotor itu, rasanya bagai tersambar petir mendengar Kyungsoo memintanya mengakhiri hubungan mereka “Kau bercanda? Kau tahu bukan aku mencintaimu Hyung..”

                “Jinjja? Aku tidak pernah mendengarmu mengucapkan itu padaku..”

                “Mwo?” rasanya Kai ingin menghantamkan kepalanya kedinding, ucapan Kyungsoo seperti menusuknya ia memang mencintai Kyungsoo ia rela melakukan apapun untuk Kyungsoo tapi yang belum pernah ia lakukan adalah mengucapkan perasaannya secara langsung pada Kyungsoo ingat bukan mereka menjadi sepasang kekasih secara tiba-tiba tanpa ucapan cinta atau apapun

                Kyungsoo memeluk bantal kesayangannya yang Kai belikan sebagai hadiah ulang tahun untuknya “Kita akhirnya saja hubungan kita, dan memulai dengan hubungan yang baru Kai… aku lelah harus berpura-pura menjadi kekasihmu selama ini..”

                Kai tersenyum seperti idiot mendengar ucapan Kyungsoo, ia senang rasa sesak yang sebelumnya menyelimuti hatinya lenyap begitu saja bahkan airmatanya sampai menetes karena ia terlalu bahagia Kai benar-benar lupa kalau bukan hanya dirinya yang menjalain kepura-puraan selama ini tetapi Kyungsoo juga hubungan yang tercipta dengan sendirinya tanpa ucapan apapun apalagi namanya kalau bukan hubungan bohongan, paboya Kim Jongin

                “Mianhae Kai-ya aku tahu sudah banyak menyakitimu..” Kyungsoo menghela nafasnya “Aku terlalu sibuk dengan duniaku, dengan Chanyeol Hyung.. hhh aku benar-benar minta maaf akan itu.. tetapi jika kau ingin aku melupakannya setidaknya buatlah aku ini memang benar-benar namjachingumu secara resmi..” ini kalimat terpanjang yang Kyungsoo ucapkan pada Kai yang pernah Kai dengar

                “Araseo..” Kai mengangguk pelan “Ayo kita putus Hyung..”

                Kyungsoo memeluk erat bantal miliknya “Kenapa sesak ketika kau memutuskanku..” gumamnya dan membuat Kai disebrang sana tertawa pelan “Aku masih belajar Kai-ya.. aku berjanji ini tidak akan lama..” ucap Kyungsoo lagi

                “Araseo Hyung.. aku akan menunggu untuk itu sampai hari itu datang..” Kai menghela nafasnya “Berjanjilah tidak akan lama Hyung..” ucap Kai dengan suara rendahnya bahkan hampir tidak terdengar oleh siapapun kecuali Kyungsoo yang jelas mendengarnya

                Kyungsoo mengigit bibirnya “Ne Kai-ya..”

                “Annyeong Hyung…” Ucap Kai sebelum memutuskan sambungan telfon mereka

                “Annyeong.. Kai..” balas Kyungsoo

                ‘Tuuut Tuuuut Tuuut’

                Kai dan Kyungsoo sama-sama menatap ponsel mereka entah apa yang mereka fikirkan mereka lega dengan keputusan ini terutama mereka sadar selama ini mereka memang hanya menjalani hubungan tanpa perasaan yang jelas, Kai tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Kyungsoo dan Kyungsoo yang hanya diam saja selalu berada di sisi Kai entah hubungan apa yang mereka jalani selama ini, tetapi entah kenapa air mata keduanya menetes begitu saja dari pelupuk mata bahkan Kyungsoo sampi menuntup mulutnya dengan telapak tangannya

                “Aku akan menunggu Hyung… hhhh walau aku tahu itu selama nya..” gumam Kai kembali memeluk lututnya putus asa

                “Mianhae Kai-ya…”



-Kim JongIn-                      -Do Kyungsoo-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar