myCatalog

Jumat, 01 April 2016

GONE



GONE

Pairing          : Kim JongDae, Kim Minseok, Kim JunMyeon

Genre            : Romance, SAD, DeathChara

Leght             : OneShoot, SongFIc

Tittle              : GONE

Author           : Choi Seorin






            ‘Ting… ting… ting..’

            Denting dari tuts piano berbunyi nyaring dari piano yang berada di ruang tengah sebuah rumah bergaya klasik, namja berwajah bulat penuh seperti bakpau dengan jemari lentik dan terlatihnya menekan tuts dan menghasilnya nada yang indah membuat namja yang lebih dewasa dari nya dan berdiri disisi kiri piano mengangguk-angguk menandakan ia puas dengan suara yang di hasilkan dari piano tersebut

            “Othe Suho Hyung??”

            Namja dewasa yang di panggil Suho itu mengangguk-anggukkan kepalanya “Bagus, semakin hari semakin bagus..” ia menutup buku di tangannya “AKu jauh lebih tua darimu jangan memanggilku dengan sebutan Suho, kau seharusnya memanggilku Junmyeon Hyung, Minseok-ah..”

            Namja berwajah bakpao itu baru saja senang dengan pujian yang ia dapatkan tetapi ia segera mengembungkan pipinya karena mendengar ucapan Suho guru private piano nya “Kau memang tidak tulus memujiku Hyung..”

            “Hanya Yixing yang boleh memanggilku seperti itu.. kajja jam belajarmu sudah selesai.. besok kau datang lagi ne dan harus tepat waktu..”

            Namja bakpao bernama Minseok itu mengangguk-angguk patuh sambil mengambil kertas di hadapannya yang berisi coretan nada-nada yang ia ciptakan “Ah.. andai Jongdae bisa bermain sepertimu..” Minseok segera menoleh ketika mendengar Suho bergumam di dekatnya “Ne Hyung?”

            “Ah, aniya… sudah cepatlah kau pulang..”

            “Araseo…” Minseok segera mengambil tas nya yang tergeletak di kaki piano lalu segera beranjak keluar dari ruang tengah itu “Aku pulang Hyung…” Suho hanya mengangguk-angguk dan kembali sibuk dengan segala buku-buku yang baru saja ia ambil dari rak di sisi kanan piano

            “Tuan Muda Kim..”

            Minseok memberikan cengiran khasnya pada pengawal pribadinya sebenarnya mereka hanya berbeda beberapa tahun Minseok lebih tua 2 tahun, hanya saja karena namja yang baru saja memberikan hormat padanya adalah pengawal pribadinya namja itu harus memanggilnya tuan muda “Ne Kyungsoo-ah, kajja kita pulang..”

            “Ne..” namja bernama Kyungsoo itu mengangguk sekali menuruti perintah Minseok tetapi langkah mereka terhenti ketika sebuah mobil berhenti tepat didepan keduanya dan tidak lama sesosok namja keluar dari pintu mobil yang di bukakan oleh sesosok namja tinggi

            “Apa dia juga berlatih piano disini? Ah Suho Hyung akan kaya raya kalau begitu..” gumam Minseok dan hanya di tanggapi gendikan bahu oleh Kyungsoo

            “Biar ku antar tuan muda..” ucap namja tinggi itu pada namja yang baru saja turun dari mobil

            “Aniya, biarkan aku masuk sendiri Chanyeol-ah..” namja itu melangkah perlahan lurus menatap depan tanpa menoleh kekanan ataupun kiri sama sekali bahkan menghiraukan Minseok dan Kyungsoo yang menatapnya hingga namja itu masuk kedalam rumah milik Suho

            “Dia menghiraukanku Kyungsoo-ah, aku padahal ingin berteman..” keluh Minseok sedikit kecewa padahal ia sudah memberikan senyuman terbaik miliknya tetapi dihairaukan begitu saja

            Kyungsoo tersenyum “Namja itu mungkin terburu-buru tuan muda.. kajja kita sebaiknya lekas kembali..” Kyungsoo segera menarik Minseok segera kemobil mereka setelah membungkuk kearah namja tinggi yang di panggil Chanyeol tadi

            Esoknya seperti yang dijadwalkan Minseok sampai bersama Kyungsoo dan supir mereka “O.. ada mobil yang kemarin Kyungsoo-ah, apa namja yang kemarin ada disini juga?”

            Kyungsoo menatap keluar jendela mengikuti jejak Minseok dan mendapati namja tinggi yang kemarin pun ada didekat mobil yang di maksud Minseok “Sepertinya seperti itu, kajja aku akan mengantarmu kedalam Tuan Muda..” Kyungsoo segera beranjak turun terlebih dahulu dari mobil dan segera di susul MinSeok

            Minseok melangkah masuk dengan senyum lebar di wajahnya Kyungsoo mengikutinya dari belakang dengan wajah datar khas seorang pengawal pribadi Minseok membungkukkan tubuhnya pada namja tinggi yang ia temui kemarin ketika namja itu membungkuk padanya dan disusul Kyungsoo di belakangnya “Sepertinya hari ini aku harus menunggu, kau temani aku menunggu ne Kyungsoo-ah..” ucap Minseok sembari berjalan mundur menghadap Kyungsoo di belakangnya

            Kyungsoo mengangguk “Ne Tuan Muda.. sebaiknya cepat masuk..” Kyungsoo membukakan pintu untuk Minseok masuk, namja berwajah bakpao itu segera berbalik badan kembali lalu masuk kedalam dan menghempaskan pantat bulatnya di sofa ruang tunggu tepat bersebelahan dengan pintu masuk ruang tengah yang terbuat dari kaca, sedangkan Kyungsoo berdiri tepat berhadapan didepan Minseok

            “Ah, lihat..” Minseok menatap kedalam ruang tengah dari balik kaca “Itu memang namja yang kemarin Kyungsoo-ah..”

            Kyungsoo ikut menatap kedalam ruang tengah dari balik kaca “Jangan mengintip dan menguping Tuan Muda, itu tidak baik..” Kyungsoo tersenyum jahil ketika ia melihat Minseok menatap nya jengkel karena mengucapkan kata-kata yang sering di ucapkan almarhum ayah Minseok

            ‘BRAAAK’

            Minseok dan Kyungsoo terhentak kaget keduanya segera menatap kedalam ruang tengah ketika mendengar suara gebrakan piano “Ini nada awal Kim Jongdae! Kau masih belum bisa menguasainya?” omel Suho bahkan namja itu mengacak rambutnya

            Namja yang dipanggil Kim Jongdae oleh Suho hanya menunduk jemarinya masih bertengger di atas tuts piano “Kau tahu Jongdae-ah, aku berharap padamu Appa berharap padamu, paling tidak kau bisa bermain piano lagi..”

            “Mianhae Hyung..”

            Suho menhempaskan catatan nadanya kelantai dan melangkah pergi bahkan tanpa sengaja menyenggol kotak permen kesayangan Minseok yang Minseok berikan padanya dulu ketika awal Minseok datang di antar Yixing sebagai salam perkenalan untuk Suho

            Jongdae terdiam dan tidak lama ia bangkit dari kursinya ia melangkah perlahan menuju kotak permen milik Minseok ia berjongkok meraba lantai berusaha menemukan sisa permen yang terjatuh dilantai, kedua bola mata Minseok membulat kaget ia segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Kyungsoo

            “Kyungsoo-ah kau lihat?? Dia tidak bisa melihat..” Minseok hampir berteriak mengucapkan kata-kata Jongdae tidak bisa melihat andai saja ia tidak melihat tatapan tajam dari mata bulat Kyungsoo

            Kyungsoo segera menggeleng dan meletakan telunjuknya pada bibirnya sendiri “Tuan Muda..”

            “Ah, mianhae…” Minseok segera melangkah kembali menghampiri pintu kaca ia sudah melihat Jongdae tengah meraba meja mengembalikan toples permen milik nya ke tempat nya lalu kembali melangkah perlahan menuju piano besar itu, namja bernama Kim Jongdae itu menarik perhatian Minseok semenjak kemarin mereka bertemu di depan rumah Suho ia fikir Jongdae menghiraukannya dan tidak ingin mengenalnya makanya Jongdae mengabaikan senyuman darinya kemarin ternyata namja itu tidak bisa melihat dirinya, Minseok membuka pintu perlahan ia melangkah mendekati Jongdae ia menatap punggung namja itu dari belakang

            “Tuan muda..” panggil Kyungsoo berbisik “Tuan muda ini belum waktunya kau masuk..”

            “Sssst…” Minseok segera meminta Kyungsoo diam dan tetap di tempatnya, langkah Minseok semakin pasti mendekati Jongdae, Minseok bahkan segera duduk di sebelah Jongdae yang sama sekali tidak menyadari kedatangannya

            “Ya, Annyeong..” ucap Minseok dari sisi kiri Jongdae dan reflek membuat namja itu menoleh bingung

            Minseok segera memainkan nada dasar yang Suho maksudkan tadi pada Jongdae, Jongdae segera menoleh kearah piano senyum di bibirnya yang sedari dulu tidak terlihat tiba-tiba kembali, senyum yang bahkan membuat leher seorang Kim Minseok terhenti pada posisi menoleh menatap Jongdae, bagi MInseok entah kenapa wajah Jongdae dilihat dari spot seperti ini terlihat sangat tampan

            “Gomawo..”

            Bahkan suara Jongdae yang baru saja masuk ketelinganya ia rekam baik-baik dalam benak dan ingatannya, ia menyukai suara Jongdae ia suka tulang rahang Jongdae yang tegas yang saat ini ia lihat dari samping “Ne… Aku Kim Minseok…”

            “Ah, aku…”

            “Jongdae-ah?? Apa itu kau yang memainkan nada dasarnya??” suara langkah terburu-buru milik Suho membuat Minseok segera melangkah secepat mungkin bersembunyi di balik piano milik Suho, ia yakin kalau Suho tidak mungkin menemukannya yang tengah bersembunyi disana.

            Jongdae tanpa sadar tersenyum bahkan hampir tertawa geli mendengar langkah gusar Minseok dan gumaman gelisah dari bibir Minseok sebelum Minseok menemukan tempat bersembunyinya “Omoo.. Omoo aku harus bersembunyi..”

            “Jong-dae?” Suho bahkan sampai terbata memanggil nama Namdongsaeng nya karena ini pertama kalinya ia melihat namdongsaengnya tersenyum semenjak kecelakaan mobil setahun yang lalu

            “Ne Hyung?”

            “A-Aniya.. aku, aku harus menghubungi Appa..” Suho kembali melangkah keluar rasanya ia masih shock antara kaget dan senang melihat perubahan dari NamDongsaeng nya bahkan ia sampai mengabaikan Kyungsoo yang membungkuk padanya

            Minseok segera keluar dari balik piano ia segera menumpukan dagunya di atas piano dan langsung menatap Jongdae yang masih tersenyum entah karena masih mengingat tingkah gaduh Minseok yang masuk ketelinganya atau karena ini pertama kalinya ia mendengar suara piano seindah tadi setelah sekian lama

            “Jadi siapa namamu tadi?”

            Jongdae reflek mendongak mengikuti asal suara Minseok “Jongdae, Kim Jongdae..”

            Minseok segera melompat bahkan mengepalkan kedua tangannya keatas udara, rasanya mengetahui siapa nama namja dihadapannya ini adalah hal paling membahagiakan didunianya, bisa saja Minseok akan mlompat kesenangan berjam-jam andai saja ia tidak tiba-tiba limbung dan hampir terjatuh ke tanah

            Kyungsoo hampir menghampiri Minseok secepat kilat begitu melihat Minseok hampir terjatuh karena terlalu senang berlebihan bahkan sampai melompat berlebihan, untung saja Minseok segera meraih botol obat di saku jas sekolahnya dan mengeluarkannya beberapa obat tersebut dari botolnya lalu tanpa air ia segera meminum obatnya dan menelannya agar rasa limbung dan sakit di kepalanya segera menghilang

            Jongdae mengerutkan kening dan alisnya ia seperti mendengar sesuatu yang aneh terjadi pada Minseok “Minseok-ah, gwenchana?”

            Minseok bersandar pada piano milik Suho jujur jika bukan karena di hadapannya adalah Jongdae ia pasti sudah melangkah keluar dan meminta segera kembali kerumah bersama dengan Kyungsoo, dan Kyungsoo yang panic pasti akan segera memanggilkan dokter keluarga mereka untuk mengecek keadaannya “Ne Gwenchana..”

            “Apa kau memakan sesuatu? Terdengar seperti obat…”

            Minseok segera menghadap Jongdae “Aniya, ini permen..” Minseok merogoh saku celananya dan mengeluarkan permen dalam kaleng kecilnya “Buka mulutmu jika kau ingin mencobanya..”

            Jongdae reflek membuka mulutnya dan Minseok segera memasukan sebutir permen kedalam mulut Jongdae

            ‘DEG!’

            Minseok segera menatap jemarinya yang baru saja bersentuhan dengan bibir Jongdae ia segera kembali menatap Jongdae bahkan tanpa sadar Minseok tersenyum ketika ia menatap Jongdae dihadapannya rasanya seperti ada ratusan Kupu-kupu yang ingin terbang keluar dari dalam perutnya ketika kedua bola matanya menatap wajah Jongdae dengan jelas di hadapannya apa ia menyukai Jongdae?

            Hari ini sudah seminggu tepat setelah Jongdae dan Minseok berkenalan, Suho pun tidak bisa menolak ketika MInseok mengatakan ia ingin latihan bermain piano bersama dengan Jongdae bahkan mengatakan jika bermain bersama ia yakin Jongdae akan bisa bermain piano lagi seperti dulu dan jelas saja mendengarkan alasan itu Suho segera menyetujui permintaan Minseok, sebagai seorang Hyung yang sangat ingin NamDongsaeng nya bisa bermain piano lagi seperti dulu jelas tawaran Minseok tidak mungkin ditolaknya

            “Tuan Muda mu terlalu bersemangat..”

            Kyungsoo mengangguk-angguk mengiyakan ucapan namja tinggi disebelahnya “Sejak kecil ia tidak memiliki teman.. orangtuanya melarangnya bersekolah karena kesehatan Tuan Muda kami sangat lemah, lelah sedikit saja Tuan Muda bisa saja pingsan…”

            “Kau bercanda? Tuan muda mu setiap hari datang dengan baju seragam Kyungsoo-shii..”

            Kyungsoo menoleh dan mendongak dengan wajah datar ia menjawab “Minseok Hyung membuat seragamnya sendiri agar bisa memakainya ketika latihan piano, ia hanya ingin terlihat sama seperti anak seumurannya.. mungkin kau tidak akan mengerti apa yang dirasakan Minseok Hyung, Chanyeol-shii..”

            Chanyeol namja tinggi pengawal pribadi Jongdae hanya terdiam ia fikir hanya Jongdae yang paling menderita semenjak kecelakaan setahun yang lalu ternyata Minseok juga sama menderitanya seperti Jongdae pantas saja Minseok sesemangat itu mendapatkan Jongdae sebagai temannya dan Jongdae yang juga senang mendapatkan teman yang tulus padanya seperti Minseok

            “Jongdae Hyung, kecelakaan setahun yang lalu..” Kyungsoo mau tidak mau mendengar ucapan Chanyeol mungkin ini balasan Chanyeol karena baru saja Kyungsoo menceritakan tentang Minseok padanya “Seharusnya aku melarangnya pergi malam itu, tetapi aku tidak melarangnya aku bahkan membantunya izin keluar hari itu dari rumah… dan ketika kecelakaan itu terjadi kedua mata Jongdae Hyung terluka parah karena terkena serpihan kaca mobil, untung keluarga Kim tidak memecatku karena kejadian itu dan Jongdae Hyung tetap memintaku menjadi pengawal pribadinya sampai hari ini.. aku benar-benar merasa bersalah pada Jongdae Hyung..” Chanyeol menghela nafas sesaat rasanya berat jika mengingat kejadian dimana sahabat sekaligus teman dan Hyung nya hari itu kehilangan penglihatan karena kecerobohannya

            “Sejak saat itu dunia nya berubah, ia merasa dunianya tidak sama lagi seperti dunia nya yang dulu, Jongdae Hyung meragukan teman-temannya yang dulu selalu menjadi temannya ketika ia masih bisa melihat, teman-temannya mengolok-olok kebutaannya di belakang nya, bahkan hanya ingin berteman dengan dirinya jika mereka mendapatkan imbalan dari Jongdae Hyung.. hingga akhirnya ia memutuskan berhenti dari sekolah dan menutup dunianya sendiri dari orang asing ia tidak ingin mengenal siapapun karena dia berfikir semua orang yang ingin mengenalnya hanya ingin mengolok-oloknya dan memanfaatkannya..”

            Kyungsoo terdiam ia tidak tahu harus member komentar seperti apa, ia tersenyum ketika ia mengalihkan padangannya kearah pintu dan melihat Minseok melangkah keluar bersama dengan Jongdae “Mereka sudah selesai Chanyeol-shii..”

            “Mungkin teman yang seperti Tuan Mudamu yang di butuhkan Tuan Mudaku..”

            Kyungsoo lagi-lagi terdiam, ia melirik Chanyeol yang tersenyum senang menatap Jongdae yang tengah berbicara dengan semangat bersama dengan Minseok, andai Chanyeol tahu ia berbohong tentang Minseok, Minseok lebih lemah dari yang terlihat bahkan Minseok bukan hanya bisa pingsan ketika namja bakpau itu kelelahan tetapi juga bisa kehilangan nyawanya..

            “Jongdae-ah..” Suho menghampiri Jongdae yang tengah duduk di depan piano milik nya sendiri, piano yang ia minta Chanyeol untuk membuangnya setahun lalu semenjak ia kehilangan penglihatannya, untung nya namja tinggi itu tidak benar-benar membuang piano itu tetapi hanya di pindahkan ke ruang tamu di lantai bawah

            “Ne Hyung?”

            “Gwenchana?” Tanya Suho sembari bersandar di sisi kanan piano milik Jongdae

            Jongdae mengerutkan keningnya “Gwenchana?”

            “Kau mau berlatih lagi karena Minseok bukan? Apa jika Minseok nanti tidak ada kau tidak akan berlatih lagi?”

            “Maksudmu?”

          “Maksudku jika dia pindah bagaimana? Jika dia suatu saat tidak belajar piano lagi di tempat ku bagaimana? Itu tidak menutup kemungkinan bukan?"

            Jongdae kembali tersenyum bahkan jemari nya sudah menekan tuts dan mengeluarkan sebuah nada “Gwenchana Hyung… hanya pindah bukan…kami tetap bisa bermain piano bersama” Jongdae melanjutkan permainan piano nya bahkan membuat Suho tersenyum senang rasanya ia ingin segera berlari memberitahu pada Appanya Jongdae mereka sudah kembali Jongdae mereka sudah pulang

            Chanyeol menggoyang-goyangkan kepalanya sambil menikmati suara piano yang masuk kedalam telinganya “Kau menyukainya Hyung?”

            Jongdae masih memainkan jemarinya di atas tuts ia bahkan menutup kedua matanya yang memang tidak dapat melihat apapun ketika ia membukanya sekalipun, ketika bertemu dengan Minseok ia baru tahu ada cara lain memainkan Piano tanpa harus melihat  “Maksudmu?”

            “Kim Minseok, teman latihanmu… kau menyukainya bukan?”

            Gerakan jemari Jongdae berhenti kedua matanya terbuka ia terdiam sebentar “Kenapa berhenti Hyung? Aku menyukai permainanmu..”

            “Apa menurutmu aku menyukainya?”

            “Ne?? Siapa?”

            “Kim Minseok.. apa aku menyukainya?”

            Chanyeol hampir terbahak “Kenapa kau tanyakan padaku? Yang merasakannya dirimu Hyung..”

            ‘Cleeeek’

            “Ah, orang nya datang Hyung..”

            “Mwo?? Dia sudah datang?” Jongdae segera meraih jam tangan di pergelangan tangannya ia membuka kacanya meraba deretan angka dipermukaan jam nya “Dia lebih cepat 15 menit hari ini..”

            “Dia akan semakin cepat sepertinya setiap hari demi bertemu denganmu, Tuan Muda..” Chanyeol membungkuk pada Minseok lalu beranjak meninggalkan Jongdae bersama dengan Minseok

            “Mwo?? Apa yang kau bicarakan Chanyeol-ah..”

            “Chanyeol sudah keluar Jongdae-ah..” rengut Minseok sembari duduk disisi kiri Jongdae, dan Jongdae mau tidak mau segera menoleh kearah suara Minseok

            “Kau datang sangat awal hari ini Minseok-ah?”

            Minseok meletakkan tasnya disisi kaki piano jemari nya segera memainkan tuts-tuts piano dan segera di susul dengan Jongdae yang juga segera memainkan tuts-tuts piano di hadapannya walau ia tidak bisa melihat tetapi ketika ia bermain bersama Minseok dan ketika ia membayangkan bagaimana rupa wajah Minseok rasanya kumpulan tuts berwarna hitam dan putih itu bisa ia lihat dengan mata buta nya

            “Aku merindukanmu Jongdae-ah..”

            Jongdae menoleh kearah Minseok ia tidak kaget lagi mendengar ucapan Minseok padanya, hampir setiap hari ia mendengar Minseok mangatakan padanya jika namja bakpau itu rindu padanya, dan tidak bisa ia pungkiri ia juga merindukan Minseok ia selalu menantikan datang nya waktu berlatih piano bersama dengan Minseok setiap hari “Kau baik-baik saja?” Jongdae merasa ada yang aneh dengan suara Minseok suara itu terdengar lelah ketika ia mendengar Minseok mengucapkan kata-kata rindu padanya

            “Aku baik-baik saja..” Minseok menghentikan permainan piano nya membuat kening Jongdae berkerut tidak pernah Minseok menghentikan permainan piano nya ketika lagu itu belum selesai

            “Aku ingin memainkan lagu ini untukmu Jongdae-ah.. kau harus mengingatku ketika mendengar lagu ini araseo..” Minseok mengeluarkan buku music miliknya dari dalam tas miliknya, ia mulai menekan-nekan tuts dihadapannya hingga menjadi sebuah lagu yang cukup familiar di telinga Jongdae

            “Aku pernah mendengar lagu ini sebelum nya Minseok-ah..”

            Minseok tersenyum walau wajahnya hari ini sedikit lebih pucat dari biasanya tetapi ia tetap tidak bisa menyembunyikan rasa senang nya ketika bertemu dengan Jongdae, hanya itu alasannya datang lebih cepat setiap hari ke tempat latihan untuk bertemu dengan Jongdae orang pertama yang membuat dirinya merasakan ribuan kupu-kupu ingin keluar dari perutnya setiap hari

            “Sing For You?”

            “Ne Sing For You Jongdae-ah, kau menyukainya?”

            Jongdae mengangguk-angguk “Tentu saja, apalagi kau yang memainkannya untukku aku sangat menyukainya..”

            Minseok menghentikan gerakan tangannya sungguh ia ingin berteriak dan melompat mendengar ucapan Jongdae tetapi disaat bersamaan justru semakin senang, semakin pening kepalanya sangat berdenyut dengan kuat andai ia bisa mengganti penyakitnya ini dengan apapun dan dapat memperpanjang waktunya bersama dengan Jongdae tentu ia akan bersedia memberikan dan melakukan apapun

            “Minseok-ah..”

            “Ummh?”

            “Bolehkah aku menyentuh wajahmu?”

            Minseok menoleh kaget apa ini artinya Jongdae ingin merekam bentuk wajahnya dengan jemari Jongdae?? “Tentu saja Jongdae-ah..”

            Jongdae mengarahkan kedua tangannya kedepan sebenarnya sudah lama ia ingin menyentuh wajah Minseok, ia ingin tahu bagaimana rupa Minseok walau Chanyeol selalu bilang kalau Minseok terlihat bulat seperti Bakpao dan sangat imut ketika tengah merajuk tetapi tetap saja dirinya tidak bisa membayangkan dengan pas seperti apa bentuk wajah Minseok

            “Disini Jongdae-ah..” Minseok meraih kedua tangan Jongdae dan meletakkannya di kedua pipi bulatnya, Minseok bisa menatap mata Jongdae dengan jelas dari jarak sedekat ini dan Minseok yakin Jongdae juga tengah menatapnya dalam kegelapan, Minseok mengukir senyum ketika jemari Jongdae mulai meraba bentuk mata hidung pipi kening dan telinga nya, tetapi lagi-lagi denyut di kepalanya benar-benar membuatnya menderita ia benar-benar membutuhkan obatnya saat ini tetapi ia tidak mungkin meminta Jongdae berhenti merekam wajahnya

            “Chanyeol benar, pipimu bulat Minseok-ah..” Jongdae tertawa pelan begitu ia bisa menggambarkan bagaimana rupa Minseok dengan pipi bulatnya mata kecilnya dan hidung mancungnya

            “Apa kau sudah merekam baik-baik wajahku dalam ingatanmu Jongdae-ah?”

            “Tentu saja, kurekam dengan sangat jelas Minseok-ah..”

            Kyungsoo berlari turun keluar dari mobil ketika mobil yang membawanya baru saja berhenti didepan rumah latihan milik Suho, tepat di belakang mobil milik Jongdae bahkan Kyungsoo  mengabaikan Chanyeol yang ingin menyapanya “Mwoya?? Tapi kenapa Kyungsoo-shii datang lebih telat daripada Tuannya?” Chanyeol yang penasaran pun mau tidak mau menyusul Kyungsoo yang berlari kearah pintu masuk

            Jemari Jongdae turun meraba bibir tipis Minseok “Bibirmu seperti bibir yeoja Minseok-ah..”

            Minseok mau tidak mau tertawa pelan “Kau… namja kesekian yang mengatakan hal itu padaku..” ucap Minseok susah payah ia benar-benar menahan sakit di kepalanya tetapi ia tidak ingin Jongdae tahu ia tengah kesakitan saat ini

            “Kyungsoo-shii!” Chanyeol segera menahan lengan Kyungsoo ketika Kyungsoo hampir masuk kedalam rumah

            “Mwoya??!”

            “Waeyo? Kau tahu bukan mereka tengah latihan?”

            “Penyakit Minseok Hyung kumat seharusnya dia beristirahat dirumah Chanyeol-shii, tetapi ketika aku lengah dia malah datang kemari aku harus membawa nya kembali pulang..”

            “Chamkanman! Apa kau tidak bisa memberikan mereka sedikit waktu? Bagaimana jika Jongdae Hyung..”

            “Wae? Kau hanya memikirkan Tuanmu, bagaimana dengan kesehatan Tuanku!” Kyungsoo segera menepis tangan CHanyeol yang menahan lengannya bahkan memotong ucapan Chanyeol yang belom selesai

            “Bagaimana jika aku menyukaimu Minseok-ah..”

            Kedua mata Minseok membulat kaget ia fikir hanya dirinya yang merasakan ribuan kupu-kupu di dalam perutnya apa ini artinya Jongdae juga merasakan ribuan kupu-kupu di dalam perutnya juga ketika Jongdae tengah bersama dengan nya? Minseok meremas celana seragam nya rasanya kepalanya benar-benar ingin pecah, rasa sakitnya lebih menusuk dari biasanya bahkan untuk mengatakan ia juga menyukai Jongdae bibirnya terasa sulit untuk digerakan

            “Aku…”

            ‘BRAAK’

            “Kyungsoo-shii!”

            Jongdae tersentak kaget karena mendengar pintu ruang latihannya terbuka tiba-tiba dengan kasar dan terdengar suara Chanyeol yang memanggil pengawal pribadi Minseok “Chanyeol-ah?”

            “Kyungsoo-ah…” panggil Minseok lemah sebelum tiba-tiba tubuh MInseok limbung kebelakang dan wajah Minseok yang tengah di sentuh Jongdae terlepas dari genggaman tangan Jongdae

            ‘BRUUK!!’

            “MINSEOK HYUNG!” Kyungsoo segera menghampiri Minseok yang sudah tidak sadarkan diri dan tergeletak di lantai “Chanyeol-shii, tolong panggilkan supir di dalam mobil! Palliiii!!” Chanyeol pun mau tidak mau segera beranjak kembali keluar dari dalam ruangan mengikuti perintah Kyungsoo

            Jongdae segera berdiri ia meraba udara kesembarang arah ia ingin tahu apa yang terjadi ia ingin tau ada apa dengan Minseok? Apa yang terjatuh tadi Minseok? “Minseok-ah?” panggil Jongdae tetapi tidak ada satupun yang menyahutinya bahkan Kyungsoo pun tidak menyahutinya

            “HYUNG! Ironaa! Yaaak..” Kyungsoo menepuk-nepuk wajah Minseok ia benar-benar berharap Minseok hanya pingsan seperti biasa, jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Minseok ia akan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak menjaga Minseok dirumah dengan baik

            “Siapapun, tolong katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Minseok-ah?”

            “Ada apa?” Suho datang sambil berlari memasuki ruang latihan ia kaget melihat Kyungsoo tengah menepuk-nepuk wajah Minseok yang tengah tergeletak di lantai sedangkan  Namdongsaengnya tengah meraba-raba udara dengan panic “Jongdae-ah..” Suho segera meraih kedua tangan Jongdae “Ini aku Jongdae-ah, ini aku..”

            “Hyung?” Jongdae meraba-raba wajah Suho seolah-olah meyakinkan dirinya kalau dihadapannya memang Suho “Minseok, Minseok.. ada apa dengan nya? Aku mendengar dia terjatuh Hyung..” Jongdae kembali panic bahkan ia hampir melangkah lagi kesembarang arah ingin mencari Minseok andai Suho tidaj segera menahan tubuh Jongdae agar tidak melangkah kemana-mana

            “Aku sudah memanggil supirmu Kyungsoo-shii..” Chanyeol masuk kedalam ruangan bersama seorang namja berbadan tambun sudah di pastikan ia cukup kuat untuk mengangkat Minseok sendirian

            “Tuan Park bantu aku mengangkat Tuan Muda..” ucap Kyungsoo susah payah ketika menarik tubuh Minseok agar terduduk dia tas lantai

            “Tunggu, Kyungsoo-shii apa yang terjadi dengan Minseok bisa aku berbicara dengan nya? Boleh aku menyentuhnya?” pinta Jongdae dengan sangat, jujur ia sangat panic karena tidak mendengar sepatah kata pun yang keluar dari bibir Minseok ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada namja itu

            “Mianhae..” hanya itu yang di ucapkan Kyungsoo lalu ia membungkuk hormat pada Suho dan Jongdae lalu segera beranjak pergi mengikuti Tuan Park yang menggendong Minseok seorang diri keluar dari ruangan itu menuju mobil mereka

            Chanyeol terdiam ia menoleh menatap Jongdae yang masih tidak tahu kalau Minseok sudah tidak ada diruangan ini, Chanyeol beralih menatap Suho dan ketika Suho memberikan isyarat pada Chanyeol untuk keluar dari ruangan Chanyeolpun menurut dan segera keluar dari ruangan itu ia menatap punggung supir Kyungsoo dan Kyungsoo yang sudah jauh mereka memasukkan tubuh MInseok kedalam mobil dan ia sempat melihat Kyungsoo membungkuk padanya dan segera menghilang setelahnya karena namja itu segera masuk kedalam mobil dan mobil itu pun langsung melesat pergi dengan cepat

            “Ini pasti lebih dari sekedar pingsan jika kelelahan Kyungsoo-shii, kau berbohong padaku.. bahkan pada Tuan Mudaku…”

            Jongdae terdiam dikamarnya, ia menunduk menatap kedua telapak tangannya walau ia sebenarnya tidak benar-benar bisa melihat kedua telapak tangannya “Apa yang terjadi padamu Minseok-ah..”

            ‘Clek’

            “Nugu?”

            “Ini aku CHanyeol..”

            “Masuklah Chanyeol-ah..” Jongdae masih tetap dalam posisinya ia masih menatap kedua telapak tangannya

            “Gwenchana Hyung?” Tanya Chanyeol setelah ia masuk dan menutup pintu kamar Jongdae lalu melangkah menghampiri Jongdae

            “Apa Minseok baik-baik saja? Apa dia terluka?” Tanya Jongdae tetap pada posisinya semula ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Chanyeol ia justru bertanya balik pada Chanyeol, kenapa tidak ada satu orangpun yang mau menjelaskan apa yang terjadi pada Minseok? Bahkan sudah 2 hari ia tidak mendengar suara Minseok lagi di tempat latihan, Suho pun hanya diam ketika ia bertanya tentang Minseok

            “Kenapa tidak ada yang mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padaku?!” Jongdae bangkit dari duduknya “Chanyeol-ah!! Katakan padaku ada apa? Aku benar-benar ingin bertemu dengannya..”

            Chanyeol menghela nafas berat ia tidak tahu harus menjawab apa pada Jongdae, tidak mungkin ia mengatakan pada Jongdae hari itu wajah Minseok pucat pasi ketika Minseok digendong oleh Tuan Park keluar dari ruang latihan “Kurasa dia baik-baik saja Hyung..”

            Jongdae tahu jawaban Chanyeol tidak sepenuhnya benar, jika Minseok baik-baik saja tidak mungkin namja itu tidak datang selama 2 hari ini, dirinya benar-benar merindukan namja berwajah bulat itu bahkan ia baru saja menyatakan perasaannya belum ia mendengar jawaban dari Minseok tiba-tiba namja bakpau itu terjatuh dan menghilang sampai hari ini “Kau membohongiku Chanyeol-ah? Jika Minseok baik-baik saja tidak mungkin aku tidak mendengar suaranya sampai hari ini..”

            “Aku baru mengatakan aku menyukainya Chanyeol-ah, dan tiba-tiba dia menghilang.. aku tidak ingin mendengar jawabannya aku hanya ingin tahu apa Minseok benar-benar baik-baik saja.. aku ingin mendengar suara nya Chanyeol-ah..”

            Chanyeol menghela nafas berat, “Akan kucari tahu bagaimana keadaannya Hyung.. kupastikan kau pasti akan mendengar suaranya lagi..” Chanyeol segera beranjak keluar dari kamar Jongdae ia harus bertanya pada Suho dimana rumah Minseok ia yakin 500% kalau Suho tahu sesuatu

            “Apa Minseok baik-baik saja Yixing-ah?”

            Langkah Chanyeol yang hampir saja memasuki ruang kerja milik Suho tertahan, ia mendengar Suho membicarakan tentang Minseok dengan Zhang Yixing sahabat terdekat yang Suho miliki apa mungkin Zhang Yixing kenal Minseok?

            “Dia masih dirawat di RS. Seoul?” Suho kembali melanjutkan pembicaraanya lewat telfon genggam yang masih bertengger di telinga nya “Mungkin besok malam aku akan menjenguknya.. jika aku tidak sibuk Yixing-ah..”

            Chanyeol membatalkan niatnya menemui Suho ia segera melangkahkan kaki panjangnya keluar dari rumah kediaman KIM segera menaiki motor pribadinya ia sudah tahu dimana keberadaan Minseok dan ia akan meminta Minseok untuk bertemu dengan Tuan nya sekali lagi untuk sekali lagi saja

            Kyungsoo berdiri di depan pintu kamar rawat Minseok, baru saja Minseok sadar setelah 2 hari tertidur tidak sadar kan diri semenjak pingsan di ruang latihan hari itu, ia mengecek jam yang melingkar di tangannya sudah pukul 9 malam seharusnya sebentar lagi pengganti nya untuk berjaga di pintu depan akan datang lalu ia akan pindah masuk kedalam kamar dan tidur di sofa untuk menjaga Minseok sampai besok pagi datang

            ‘Drap… Drap… Drap’

            Kyungsoo menoleh keujung koridor rumah sakit, ia bahkan sampai menyipitkan kedua matanya untuk menajamkan penglihatan nya yang memang sedikit rabun pada malam hari ia seperti melihat sesosok namja tinggi tengah berlari dengan cepat kearahnya “Chamkanman.. itu bukannya Chanyeol-shii?” Mata Kyungsoo segera membulat kaget ia hampir mengambil langkah seribu dan ingin masuk kedalam ruang rawat Minseok andai saja lengan nya tidak keburu di tahan Chanyeol

            “Chamkanman!”

            Kyungsoo segera menghempas cengkraman Chanyeol di lengannya “Mwoya? Kenapa kau kemari? Tuanmu memintamu eoh?”

            “Jebal, Jongdae Hyung hanya ingin tahu keadaan Tuanmu..”

            “Minseok Hyung baik-baik saja cukup sampaikan itu pada Tuanmu..” Kyungsoo segera beranjak ingin masuk kedalam

            “Kau berbohong padaku Kyungsoo-shii..” ucapan Chanyeol berhasil menahan langkah Kyungsoo masuk kedalam kamar Minseok ia kembali menutup pintu kamar Minseok dan berbalik menghadap Chanyeol “Tuan Mudamu itu, bukan hanya sekedar pingsan bukan jika kelelahan?”

            “Ne, jika kau sudah tahu seharusnya kau juga sudah tahu harus menjawab apa pada Tuan Mudamu, Minseok Hyung tidak akan kembali ke tempat latihan piano itu..”

            “Tapi Jongdae Hyung ingin bertemu dengannya!”

            “Kau jelas tahu bukan apa yang sebenarnya terjadi disini Chanyeol-shii, aku tidak akan membiarkan Minseok Hyung kesana lagi ketika ia tengah dalam masa pemulihan..”

            “Kim Jongdae benar-benar merindukan nya Kyungsoo-shii, tidak bisakan kau ijinkan mereka bertemu sekali saja?”

             “Mengorbakan kesehatannya untuk Tuan Mudamu? Itu maksudmu? Tidak akan pernah..”

            “Apa fikiranmu sesempit ini Kyungsoo-shii?”

            “FIkiranku? Atau fikiranmu?” Kyungsoo menatap kebelakang Chanyeol pengawal penjaga MInseok yang lain sudah datang “Sebaiknya kau pergi, sebelum mereka akan menyeretmu keluar dari rumah sakit ini Chanyeol-shii..”

            Chanyeol menatap Kyungsoo tidak percaya, kenapa ada namja sedingin Kyungsoo? Apa namja itu tidak pernah jatuh cinta sampai-sampai tidak mengerti apa yang Jongdae rasakan sebenarnya “Araseo..” Chanyeol segera beranjak pergi dengan wajah kecewa, sedangkan Kyungsoo ia juga tertunduk kecewa bukan ia tidak ingin membiarkan Minseok bertemu dengan Jongdae, ia hanya tidak ingin keadaan Minseok yang belum stabil akan membuat Minseok tumbang lagi ketika namja bapkau itu tetap bertemu dengan Jongdae

            Minseok membuka matanya ia menoleh kearah pintu kamarnya, ia mendengar semua pertengkaran Chanyeol dan Kyungsoo didepan kamarnya ia mengerti kenapa Kyungsoo bersikeras melarang dirinya bertemu dengan Jongdae itu semua demi kesehatannya tetapi ia benar-benar merindukan Jongdae, paling tidak walau tidak bertemu Jongdae rasanya ia ingin memainkan piano itu sekali lagi sebelum ia tidak bisa lagi bertemu dan melihat Jongdae dan piano itu lagi

            ‘Tok…Tok…Tok…’

            Suho membuka pintu kamar Jongdae dan ia mendapati NamDongsaengnya tengah terduduk di tepi tempat tidur sudah beberapa hari ini setiap malam ia melihat Jongdae seperti ini “Jongdae-ah.. Kau belum tidur?”

            “Hyung.. bolehkan malam ini aku menginap di tempat kau mengajar?”

            “Mwo? Tapi ini sudah larut Jongdae-ah..”

            “Jebal Hyung, hanya malam ini saja..”

            Suho berfikir sejenak sebelum mengangguk walau ia tahu Jongdae tidak akan melihatnya tetapi ia tahu Jongdae pasti tahu ia setuju “Baiklah, tetapi aku akan menemanimu disana..”

            “Ne Hyung..” Suho segera menghampiri Jongdae meraih kedua tangan dongsaeng nya dan membantu Jongdae melangkah keluar dari kamar menuju mobilnya, Suho mengirimkan Chanyeol pesan agar segera menyusul mereka ke tempat Suho mengajar bagaimanapun merka membutuhkan penjagaan dari Chanyeol ketika berada disana

            “Kau siap?” Tanya Suho ketika mereka sudah berada didalam mobil pribadi milik Suho dan Jongdae hanya mengangguk “Jongdae-ah..”

            “Ne?”

            “Kau tahu bukan kau tidak akan mungkin bertemu Minseok..”

            Jongdae menunduk, ia benar-benar merindukan namja itu dadanya bahkan ribuan kali lebih sesak daripada saat ia tahu ia kehilangan penglihatannya ia hanya ingin berada ditempat terakhir ia bersama dengan Minseok mungkin saja itu bisa meringankan sedikit rasa rindunya “Aku hanya ingin menginap Hyung..”

            Suho menghela nafas pelan, ia juga sakit melihat namdongsaengnya justru terlihat lebih menderita daripada dahulu ia melihat Jongdae Koma setelah kecelakaan “Jongdae-ah..”

            “Ne?”

            “Bagaimana jika Minseok tidak kembali lagi? Kau akan tetap bermain piano?” kali ini jika Jongdae akan meninggalkan piano setelah Minseok menghilang Suho tidak akan lagi memaksa namdongsaengnya ini kembali belajar piano seperti dulu ia tahu yang membuat Jongdae bisa bermain kembali adalah Minseok jika Minseok menghilang sama saja Jongdae tidak akan bermain lagi bukan?

            “Igo..” Jongdae masih menunduk bahkan ia tanpa sadar menetes kan arimatanya entah kenapa ucapan Suho padanya seperti seolah-olah ia akan kehilangan Minseok selamanya “Bisakah kita berangkat sekarang Hyung?”

            Suho segera menghidupkan mesin mobilnya dan menjalankan mobilnya tanpa mengatakan apapun lagi, ia yakin perasaan Jongdae pada Minseok lebih dari sekedar sahabat lebih dari yang ia bayangkan selama ini

            Minseok dan Kyungsoo sama-sama duduk dalam diam di dalam kamar rawat Minseok entah kenapa Minseok yang selama ini sangat bawel tiba-tiba jadi diam dan Kyungsoo juga tiba-tiba jadi lebih diam dari biasanya mungkin karena pembicaraan nya dengan Chanyeol tadi

            “Kau merindukannya Hyung?” Tanya Kyungsoo tiba-tiba, namja bermata bulat itu masih menunduk menatap lantai rutinitasnya sedari tadi

            Minseok tersenyum rasanya ia ingin menjawab pertanyaan Kyungsoo dengan candaan yang biasa ia lakukan tetapi rasa sesak di dada nya membuatnya sangat sulit menjawab “Sangat..”

            “Kau ingin bertemu dengannya Hyung?” Kyungsoo mendongak ia menoleh menatap Minseok

            “………….”

            “Katakan padaku apa yang sangat kau inginkan?” Kyungsoo menghembuskan nafas berat ia melihat Minseok sangat lemah di atas tempat tidur, tetapi wajah Minseok tidak menunjukan ia menderita karena sakit yang di deritanya, wajah itu menunjukkan keputusasaan bahkan mata Minseok sudah berair semenjak Kyungsoo bertanya pada Minseok “Aku pernah berjanji akan mengabulkan permintaanmu bukan?”

            “Aku… tidak tahu..”

            “Kau ingin bertemu dengannya?”

            Minseok menggeleng ia memang merindukan Jongdae bahkan dada nya sangat sesak karena rindunya pada Jongdae tetapi ia tidak ingin bertemu Jongdae dengan keadaan seperti ini “Bolehkah aku ke tempat latihan Kyungsoo-ah?” Minseok mendongak dan menatap Kyungsoo ia baru sadar mata pengawal pribadinya sudah merah apa itu artinya pengawal pribadinya yang selalu ingin terlihat tangguh itu akan menangis?

            “Sekarang?” Minseok segera mengangguk dengan semangat, Kyungsoo lagi-lagi menghela nafas berat dirinya dan Minseok jelas tahu apa resikonya jika ia membiarkan Minseok keluar sekarang padahal Minseok baru saja sadar tadi siang

            “Kau jelas tahu resiko nya bukan?”

            Minseok kembali mengangguk ia memberikan sebuah surat pada Kyungsoo yang baru saja ia keluarkan dari balik selimutnya “Kau boleh membaca ini jika kalian tidak bisa membawaku kembali..”

            “Hyung.. haruskah? Demi namja itu?”

            “Aku hanya ingin bermain piano Kyungsoo-ah, bermain piano yang terakhir kalinya untukku dan untuk Jongdae..”

            Kyungsoo segera mengambil kertas di tangan Minseok dengan kasar dan menyimpan surat itu di saku celananya “Aku berjanji akan membawamu kembali Hyung..” Kyungsoo segera melangkah keluar kamar setelah 2 menit berlalu Kyungsoo kembali masuk kedalam dan segera memakaikan Minseok Jaket tebal

            “Palli mereka hanya pergi sebentar..” Kyungsoo membantu Minseok turun dari tempat tidurnya lalu menuntun Minseok berjalan keluar dari kamar dan segera menuju lift

            “Gomawo Kyungsoo-ah.. kau memang selalu bisa kuandalkan..” ucap Minseok terengah-engah, apalagi setelah jarum infus di tangannya ia cabut begitu saja

            “Jangan mengucapkan terimakasih padaku sebelum aku membawamu kembali Hyung..”

            Minseok mengangguk dan tersenyum lebih tepat nya pura-pura tersenyum ia tahu ia tidak akan berhasil kali ini, baru saja ia melepaskan jarum infus kepalanya sudah sepening ini bahkan pandangannya sesekali kabur, ia sendiri tidak yakin ia bisa sampai didepan piano itu atau tidak

            Jongdae melangkah masuk bersama dengan Suho, Suho segera mengantarkan Jongdae keruang kerja tepat disebelah ruang tengah tempat piano yang biasa Jongdae dan Minseok gunakan untuk berlatih “Aku akan menghubungi Chanyeol..” Suho segera merogoh saku celananya tetapi ia mengumpat ketika ia mendapati ponselnya tidak mendapat sinyal di dalam sini

            “Wae?”

            “Aku tidak mendapat sinyal Jongdae-ah..”

            “Keluarlah Hyung, aku bisa sendirian disini..” Jongdae meraba dinding lalu segera bersandar di dinding

            “Apa kau tidak apa-apa disini sendirian?”

            “Gwenchana..”

            “Baiklah kau tetap disini jangan melangkah kemanapun?” pinta Suho dan setelah ia melihat anggukan dari Jongdae ia segera beranjak keluar meninggalkan Jongdae didalam ruangan itu dan melangkah keluar sedikit menjauh dari rumah latihan piano miliknya

            Kyungsoo memarkir dengan cepat mobil yang dikendarainya, ia yakin jika tadi ada polisi ia akan terkena tilang karena mengendarai mobil di atas kecepatan rata-rata, tetapi ia sedang dalam keadaan darurat tiap menit bagi Minseok sangat berarti “Chamkanman aku akan membantumu turun..” Kyungsoo segera beranjak keluar dari mobil dan membantu Minseok untuk turun dari mobil, dengan langkah tertatih Kyungsoo menuntun Minseok

            “Hhhhh, Kyungsoo-ah apa pandanganku yang kabur atau memang lampu di dalam menyala?”

            “Lampunya memang menyala Hyung..”

            “Ah, Hhhh kalau begitu kau harus membantuku berbicara dengan Suho Hyung jika dia ada didalam nanti..”

            “Arraseo.. kau tenang saja Hyung aku tahu apa yang harus kulakukan..” Kyungsoo menuntun Minseok sampai memasuki pintu keruang tunggu baru Kyungsoo ingin membuka pintu menuju ruang tengah tapi Minseok menahannya

            “Kau bisa menungguku diluar Kyungsoo-ah, aku ingin sendirian didalam..”

            Kyungsoo menatap Minseok tidak percaya, dengan keadaan seperti ini Minseok ingin masuk sendirian? Tetapi melihat tatapan Minseok yang memohon padanya mau tidak mau ia pun mengangguk “Baiklah..” Kyungsoo membantu Minseok berdiri dengan benar “Kau yakin kau bisa berjalan kedalam?”

            Minseok menatap Kyungsoo lalu mengangguk meyakinkan Kyungsoo “Kau ingat pesanku bukan? Jangan sampai kau lupa membaca surat itu Kyungsoo-ah..” Minseok segera berbalik perlahan melangkah meninggalkan Kyungsoo yang masih menatap punggung Minseok sepertinya ini terakhir kalinya ia bisa melihat punggung itu melangkah menjauh dari nya

            “Arasseo Tuan Muda..” gumam Kyungsoo sebelum segera beranjak keluar dengan cepat dan segera menutup pintu juga dengan cepat dan segera bersandar di pintu 

            “Kyungsoo-shii?”

            Kyungsoo mendongak ketika namanya di panggil dan matanya membulat kaget ketika ia melihat Suho dan Chanyeol di hadapannya, itu artinya Jongdae berarti ada di dalam??

            ‘CLEK’

            Jongdae tersentak dari fase diamnya ketika mendengar suara pintu ruang tengah dibuka, awalnya ia berfikir itu mungkin Suho tetapi jika itu memang Suho kenapa Suho tidak langsung masuk keruang kerja menghampirinya?? Jujur ia kurang hafal bentuk ruang kerja Suho ia tidak berani beranjak untuk melihat keluar sana tetapi Jongdae melangkah perlahan berusaha mencari pintu keluar

            Minseok melangkah perlahan menghampiri piano dihadapannya, padahal piano itu sangat dekat dengannya tetapi kenapa dengan keadaannya yang seperti ini piano itu terasa sangat jauh dengan nya “HHhhhh Hhhhh..” Minseok menghirup nafas sebanyak mungkin ia benar-benar lelah ketika sudah mendudukkan pantat bulatnya pada bangku di depan piano dengan cepan ia membuka papan kayu penutup piano

            “Jongdae-ah.. aku tahu aku tidak disini.. tetapi aku bermain disini untuk dirimu..” gumam nya, jemari Minseok menyusuri tuts-tuts piano yang mulai terlihat buram di pandangan matanya perlahan ia menekan beberapa nada dasar piano untuk memastikan jemarinya menekan tuts yang benar

            ‘Ting…Ting..’

            Langkah Jongdae terhenti jantung nya tiba-tiba berdebar dengan kuat, ia semakin yakin itu bukan Suho entah kenapa kepalanya langsung mengkomando bibirnya untuk bergumam sebuah nama “Minseok?”

            Jongdae mengarahkan kedua tangannya sembarang arah ia benar-benar ingin menggapai pintu yang ia tidak tahu dimana letaknya, ia ingin bertemu dengan namja itu sekali saja, menyentuhnya sekali saja, dan mengatakan pada namja itu ia menyukai namja itu sekali lagi “Argh!” Jongdae terperosok jatuh kelantai ketika kakinya menabrak bangku yang ia tidak tahu ada didepannya

            Minseok menghela nafas ia memainkan nada awal lagu yang pernah ia mainkan untuk Jongdae sebelum nya ‘Sing For You’ Minseok menutup matanya ia menghayati permainan piano nya yang ia tujukan untuk 1 orang dan sangat ia harapkan saat ini mendengar permainannya “Jongdae-ah.. aku juga menyukaimu..”

            ‘DDAAAANG!!!!’

            Tubuh Minseok tiba-tiba limbung ia hanya melihat bayangan abu-abu sebelum ia merasa menabrak sususan tuts-tuts piano di hadapannya dan tidak sadarkan diri, padahal lagu yang ingin ia mainkan belum usai tetapi kenapa ia merasa waktu nya sudah usai??

Jongdae segera bangkit dari jatuh nya ia semakin yakin itu Minseok setelah mendengar lantunan piano yang di mainkan dan masuk ketelinganya ia semakin berjalan tidak tentu arah tangannya mengapai-gapai udara kosong padahal ia sangat ingin mengapai pintu ataupun dinding tetapi nihil dirinya tidak mendapatkan apa-apa langkahnya semakin kacau ketika ia mendengar dentingan kasar dari piano yang ia yakinin di mainkan oleh Minseok “Minseok-ah!!”

            Suho segera berlari masuk kedalam disusul Kyungsoo dan Chanyeol akibat mendengar dentingan kasar dari piano di dalam, dan mendengar teriakan Jongdae “Hyuuung!! Yak ireona..” Kyungsoo segera meraih Minseok dibantu Chanyeol

            “Kajja kita bawa dia kembali kerumah sakit Kyungsoo-shii..” ajak Chanyeol, namja tinggi itu bersusah payah mengangkat tubuh Minseok dibantu Kyungsoo keluar dari ruang tengah sedangkan Suho ia mengusap kasar wajahnya ia yakin Jongdae pasti tahu barusan Minseok datang kemari apa yang harus ia katakan pada Jongdae??

            Suho menghela nafas ia segera duduk di depan piano yang tadi di duduki Minseok ia melanjutkan permainan piano yang belum diselesaikan Minseok ia tahu lagu apa yang di mainkan Minseok untuk Jongdae barusan karena Minseok mati-matian meminta kelas Khusus tambahan untuk dirinya agar mengajarkan nya memainkan Sing For You

            Jemari Suho menekan tuts-tuts yang sebelum nya dimainkan Minseok, ia memainkan nada yang sama seperti yang Minseok mainkan persetan ia harus menipu NamDOngsaengnya ia hanya tidak ingin namdongsaengnya terpuruk lagi

            Jongdae menghentikan langkahnya yang hanya berputar-putar sedari tadi di tempat ketika mendengar permainan piano terdengar kembali di telinga nya ia menajamkan indera pendengarannya ia melangkah mendekati asal suara hingga ia mendapati pintu ada di hadapannya, baru saja ia ingin membuka pintu ruang kerja milik Suho tetapi gerakannya terhenti “Minseok? Itu bukan Minseok..” gumamnya, dan entah kenapa kedua kakinya tidak dapat lagi menumpu tubuhnya hingga ia terduduk didepan pintu walau ia buta ia tahu bagaimana bedanya cara bermain piano milik Suho dan Minseok, dan jelas permainan yang barusan masuk ketelinganya tidaklah sama seperti sebelum dentingan kasar itu terdengar, apa itu artinya yang terakhir ia mendengar Minseok memainkan piano itu untuknya??

            Kyungsoo hanya bisa menatap bangsal yang terisi tubuh Minseok yang sudah tertutupi kain putih didorong menjauhi dirinya dan Chanyeol, ia tidak bisa lagi menahan airmata yang sudah ingin jatuh dari matanya semenjak ia memutuskan akan mengantarkan Minseok ketempat latihan piano itu “Gwenchana?” Tanya Chanyeol ia tahu Kyungsoo pasti merasa bersalah karena mengijinkan Minseok pergi bahkan mungkin rasa bersalah Kyungsoo jauh lebih besar dari yang dirinya rasakan dulu

            “Kau jelas tahu apa yang kurasakan.. kau pernah merasakannya bukan?”

            Chanyeol terdiam ia tidak menyangka Kyungsoo akan membiarkan Minseok keluar walau Minseok tidak sempat bertemu dengan Jongdae tetapi keputusan yang Kyungsoo ambil membiarkan Minseok keluar sebelum waktu nya habis sungguh diluar prediksi Chanyeol

            “Aku tidak apa-apa, aku tidak akan menangis meraung-raung seperti yeoja..” lanjut Kyungsoo, ia merogoh sakunya ia memenuhi janjinya pada Minseok jika ia tidak berhasil membawa Minseok kembali ia akan membaca surat yang dititipkan Minseok padanya, perlahan ia membaca isi surat itu dan tanpa bisa di tahan Kyungsoo tiba-tiba jatuh terduduk di lantai usai membaca surat terakhir dari Minseok bahkan kini Kyungsoo menarik semua kata-katanya kalau ia tidak akan menangis meraung-raung seperti yeoja karena sekarang Kyungsoo tengah meraung di tengah koridor rumah sakit setelah membaca deretan kata yang di tulis Minseok untuknya, bahkan Chanyeol sampai menenangkan Kyungsoo

            “Gwenchana?? Kyungsoo-shii..” merasa ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Kyungsoo Chanyeol dengan mengesampingkan rasa sopan santun segera mengambil surat yang di baca Kyungsoo dan segera membaca nya

            Kyungsoo-aaaaahhhh, kau namdongsaeng terbaikku walau kau bukan namdongsaengku, tapi paling tidak kau sudah ku anggap namdongsaeng yang tidak pernah kumiliki sebelumnya..

            Gomawo aku tahu kau pasti tidak akan tega dan membiarkanku keluar untuk menemui Jongdae, kau sangat baik Kyungsoo-ah… sekarang aku sudah tidak ada lagi untukmu, kau tidak perlu lagi menjadi pengawalku, aku sudah meminta umma untuk mengurus kepindahanmu ketika aku sudah tidak ada lagi disisimu, kau sudah tidak harus home schooling lagi bersamaku, kau sekarang bisa merasakan masa sekolah yang tidak pernah kau rasakan sebelum nya karena diriku.. kau bebas Kyungsoo-ah..

            Dan umma juga sudah membuat surat asuh untukmu Kyungsoo-ah, sekarang kau adalah adikku dan aku tidak menerima penolakkan.. nae NamDongsaeng…

            GOMAWO, kau sudah menjagaku dengan baik selama ini…

            Aku punya 1 permintaan lagi kuharap kau mengijinkannya karena Umma sudah mengijinkannya kau tentu harus mengikuti kemauan Hyung mu ini bukan?

            Ijinkan aku mendonorkan kedua mataku untuk Jongdae..

            Kau pasti mengijinkannya bukan?

            Annyeong… aku harap Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk menjadi Hyungmu lagi suatu saat nanti Kyungsoo-ah, dan memberikanku kesempatan untuk mengenal Jongdae dan Chanyeol di kehidupan selanjutnya..

            ~Kim Minseok~

            Chanyeol meremas pelan surat dari Minseok, ia mengusap punggung Kyungsoo yang masih menangis di sisinya ia mengerti mengapa Kyungsoo sampai menangis seperti ini bahkan jika ia bisa dirinya juga ingin menangis Minseok rela memberi matanya untuk Jongdae, Jongdae akan bisa melihat lagi

            1 tahun kemudian

            Bruk Bruk Bruuuk!!

            “Yaak kau bisa tidak periu berlari Kim Jongdae?” omel Suho sembari meminum kopi dipagi hari nya sambil menggeleng melihat namdongsaengnya yang selalu terlambat di pagi hari

            “Kenapa Chanyeol tidak membangunkanku??? Aku telaat..” Jongdae berlari dan langsung menyambar roti bakarndi atas piring milik Suho

            “Yaak itu rotiku!”

            “Aku tidak punya waktu untuk membuat roti lagi Hyung, dimana Chanyeol?” Tanya Jongdae sembari menguyah roti nya dan memakai dasinya hari ini semester baru di sekolahnya

            “Dia menjemput Kyungsoo sepertinya, anak itu semenjak ia bisa kembali bersekolah bahkan bisa bersekolah bersama dengan Kyungsoo dia selalu rajin berangkat pagi hanya untuk menjemput Kyungsoo..”

            Jongdae meminum susu miliknya agar roti di dalam mulutnya segera tertelan, “Arasseo arasseo aku berangkat Hyung aku akan bertemu dengan mereka nanti disana.. annyeong..”

            “Hei, ini masih terlalu awal untuk kau berangkat..” Suho baru sadar Jongdae berangkat terlalu awal setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, jadi tadi Chanyeol berangkat jauh lebih pagi lagi “Ck, mau kemana mereka sebenarnya?” Suho segera melangkah menuju ruang kerjanya tetapi langkahnya terhenti ketika melewati kalender, ia sampai mundur beberapa langkah kembali menghampiri kalender dan menatap kalender di hadapannya “Ah, sudah setahun ternyata..” gumam Suho

            Jongdae memarkir mobilnya lalu segera beranjak keluar dari dalam mobil dan melangkah dengan cepat melewati beberapa batu nisan disekitarnya, ia melangkah dengan pasti menuju sebuah batu nisan tepat di dekat ujung bukit menghadap ke pantai ia membaca ukiran nama di batu nisan itu dalam hatinya ‘Kim Minseok’

            Jongdae meletakkan seikat bunga di samping batu nisan milik namja yang ia sukai setahun lalu bahkan masih tetap ia sukai sampai sekarang “Minseok-ah, aku tahu kau datang malam itu.. lagumu untukku sampai dengan jelas ketelingaku…” Jongdae berjongkok di depan batu nisan itu “Gomawo untuk matamu Minseok-ah… hari ini seharusnya Chanyeol dan Kyungsoo juga datang mungkin mereka telat..”

            Jongdae mengeluarkan sebuah walkman dan sebuah kaset dari tasnya ia meletakkan walkman itu di depan batu nisan dan memutar kaset nya setelah ia memasukkan nya kedalam walkman berwarna biru itu “Sing For You…” gumam Jongdae ketika mendengar lantunan nada yang eluar dari walkman milik Minseok yang diberikan Suho padanya 3 bulan setelah Minseok meninggalkannya dan seusai ia menjalani terapi mata setelah usai pencakokan mata

            “Saranghae Minseok-ah… aku yakin dikehidupan selanjutnya kita akan bertemu lagi bukan?” Jongdae menatap batu nisan itu lagi ia meraba ukiran nama di batu itu “Aku yakin akan melihat mata itu lagi, hidung itu lagi, wajah bulatmu lagi.. bahkan bibirmu lagi Minseok-ah..”

            “Saranghae..” ucap Jongdae lagi bahkan hampir setiap hari dalam setahun Jongdae akan mengucapkan ‘Saranghae’ ketika ia melihat pantulan mata milik Minseok di kaca di hadapannya yang sekarang bersarang di rongga matanya, seolah-olah setiap ia mengatakan kata-kata itu mata milik Minseok akan mengucapkan kata balasan ‘Nado Saranghae’ padanya “Saranghae Kim Minseok..”


THE END

31 MARET 2016


20:15 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar