myCatalog

Selasa, 22 September 2020

TWISTED - PROLOG



∵ TWISTED ∵

|

|

|

|










Suara langit terdengar bergemuruh, kilat dan guntur saling menyambar diatas sana dan perlahan tetesan air dari langit mulai membasahi tanah yang penuh dengan darah, ratusan nyawa tewas melayang begitu saja pada hari itu, mereka dibunuh oleh pasukan putra mahkota yang baru akan dilantik dengan keji.

Tidak ada satupun nyawa yang selamat pada siang hari tersebut termasuk balita dalam pelukan seorang ibu sekalipun, bahkan remaja pria, gadis dan wanita hamilpun tewas terbantai dengan keji dihari itu, tanpa ampun.

Seketika hujan semakin deras membanjiri permukaan bumi membuat darah kental yang mulai mengering kini menggenang bagai kubangan air darah diatas tanah merah tersebut, suara tetesan air hujan menemani keheningan disana.

Hingga, secara mengejutkan salah satu jasad pria diantara tumpukan para mayat tersebut tiba-tiba membuka kedua matanya dengan lebar dan menarik nafas dalam serta kuat dalam satu tarikan.

"Haaaaaah!!!!"

"Aargghhh!!!" Ia menjerit kuat dan meringkuk menahan rasa sakit dari dalam dirinya sendiri, tubuhnya yang terbangun dari fase tewas terasa amat sangat sakit, ia bisa merasakan tulang-tulang tubuhnya yang hancur dan remuk karena hantaman benda tumpul kini perlahan menyatu kembali menjadi utuh dan rasa sakit itu seperti kian membunuhnya untuk yang kesekian kali, berulang-ulang.

Nafasnya tersengal-sengal teriakan sakit tiada henti-hentinya terdengar dari bibirnya ketika bunyi tulang-tulang patah ditubuh rusaknya tersambung kembali seperti semula tanpa diminta olehnya, seolah-olah tubuhnya sendiri yang bergerak untuk menyembuhkan diri dan membuatnya kembali hidup dari kematian.

Luka sobek di dadanya yang melebar bahkan perlahan tertutup seolah-olah tidak pernah ada yang melukai tubuhnya sama sekali "Aarrghhh!!!" ia menatap ngeri tubuhnya sendiri "Apa yang terjadi padaku."

Pria itu memeluk tubuhnya, ada rasa takut yang menyelimuti dirinya saat ini, pakaian kumuh yang digunakannya penuh dengan darah dan sayatan pedang, rambutnya berantakan ia terlihat seperti orang gila ditengah gelimpangan mayat yang ada disana, semuanya tewas tak bernyawa disekitarnya dan hanya dirinya seorang yang kembali hidup.

Ketika dirinya mencoba untuk bangkit berdiri dirinya tiba-tiba saja merasa sangat lapar dan haus. Namun sama sekali tidak terlintas makanan apapun dalam benaknya untuk dimakannya saat ini layaknya manusia yang kelaparan. Yang dirinya rasakan tiba-tiba saja tenggorokannya terasa terbakar karena dahaga luar biasa yang tengah dirasakannya, menelan air liurnya sendiripun rasanya tidak akan pernah cukup.

Penciumannya mengendus aroma yang sangat memikat insting berburunya, ia bahkan tak sadar bahwa kini kedua mata coklat yang pernah dibanggakan oleh kedua orangtuanya telah berubah menjadi merah terang menyala.

Pria itu bangkit berdiri untuk melangkah dan mencari sumber aroma yang memikatnya tersebut, rasa laparnya memanggil-manggil rasa panas ditenggorokannya yang semakin memaksa kedua tungkainya untuk berlari menghampiri tubuh tak bernyawa yang penuh dengan sayatan dan mengalirkan darah segar tersebut.

Taring normalnya memanjang saat ia menggigit tubuh tak bernyawa itu, ia bahkan menutup kedua matanya menikmati bagaimana caranya menghisap darah dari jasad tersebut hingga dahaga yang membakar tenggorokannya terbayarkan.

"Uhuukkk.."

Dirinya tersadar akan apa yang diperbuatnya ketika pasokan darah yang harus diminumnya terpenuhi, pria muda itu berteriak terkejut dan mendorong tubuh yang hampir kering karena dihisap darahnya hingga habis oleh dirinya yang lapar.

"Apa yang terjadi padaku?" Ia menyentuh wajah dan bibirnya yang penuh dengan darah, air wajahnya tidak bisa menyembunyikan raut terkejut dan takut. Ia segera memeluk tubuhnya sendiri karena rasa takut yang menyelimutinya, namun dirinya terkejut kembali karena tak lagi merasakan suhu panas ditubuhnya.

'Apa aku sudah mati?'

Jemarinya menyentuh hampir seluruh tubuhnya yang hanya tertutup pakaian rusak nan usang, ia sama sekali tidak merasakan suhu panas ditubuhnya hanya suhu rendah yang ia rasakan, bahkan semakin lama semakin rendah. Seolah-olah dirinya bukan lagi seutuhnya manusia, apa suhu tubuhnya dapat menjelaskan perilaku anehnya barusan yang meminum darah dari jasad tersebut?

"Kau takut?"

Sebuah suara datang dari arah belakang tubuhnya, pria yang tengah dilanda rasa takut itu menoleh dengan cepat dan menyambar pedang disekitarnya. Siapapun yang akan menyerangnya sekarang dirinya akan mencoba untuk tidak takut lagi walaupun tangannya pun gemetar saat memegang pedang tersebut.

"Tenang, kami sama sepertimu."

Sosok pria berwajah teduh itu tersenyum ramah dan melangkah mendekat dengan seorang pria lain berwajah lebih pucat dibelakangnya, dilihat dari pakaian yang mereka gunakan sangat rapi, bersih dan mahal sepertinya kedua sosok pria yang tiba-tiba muncul itu adalah seorang bangsawan.

"Kau tidak akan bisa membunuh kami dengan pedang yang tengah kau genggam itu, karena kaupun tidak akan bisa lagi membunuh dirimu dengan benda apapun didunia ini."

Ucapan pria berkulit putih pucat itu membuat si pria muda tersebut bergidik ngeri dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya sendiri ia segera melempar pedang yang digenggamnya menjauh tangannya gemetar takut, ia tidak tahu apa yang sudah terjadi pada tubuh miliknya yang seharusnya mungkin sudah mati.

"Renjun-ah, kau hanya akan membuatnya merasa takut." Pria dengan perawakan ramah itupun mengulurkan tangannya pada pria ketakutan itu, ia berusaha membuat keadaan jauh lebih tenang karena mungkin pria ini terkejut saat terbangun dengan rasa haus yang membakar tenggorokannya, bagaimanapun ini adalah pengalaman pertama baginya.

"Ikutlah denganku, akan kujelaskan siapa kami dan makhluk apa dirimu saat ini."

Dengan tangan gemetar ketakutan ia menerima uluran tangan pria itu dan menggenggamnya erat, ia merasakan suhu dingin yang menjalar dari jemari dalam genggamannya sama seperti suhu tubuhnya. Netranya perlahan menatap sosok ramah tersebut, apa dia juga makhluk yang menghisap darah seperti yang dirinya lakukan barusan?

"Namaku Donghae, Lee Donghae. Siapa namamu?"

"Jin.. Jin.." Ia melepas genggaman tangannya pada si pria bangsawan tersebut dan memegang kepalanya yang berdenyut kencang, ingatan tentang namanya pun tak bisa diingat olehnya seolah-olah ada yang hilang. Sepertinya luka yang terlalu parah dibagian kepala membuatnya lupa pada namanya sendiri.

"Jeno.. Namamu mulai hari ini adalah Jeno, Lee Jeno adikku."

Pria yang ketakutan itu kembali mendongak saat dirinya diberikan nama baru oleh si pria bangsawan tersebut "J-Jeno?"

"Iya, mulai saat ini namamu Lee Jeno. Lupakan kehidupan masa lalumu, hari ini kau terlahir kembali menjadi adikku." Pria bernama Donghae itu mengulurkan tangannya sekali lagi pada pria penakut yang baru saja di namai olehnya Jeno "Ayo ikut denganku."

Dengan sedikit ragu ia kembali menggenggam jemari Donghae, kemudian tubuhnya ditarik bangkit berdiri dengan bantuan dari pria pucat yang terlihat dingin tadi "Namaku Renjun, Huang Renjun. Selamat datang Lee Jeno-ssi." Sambutnya dengan senyum simpul, tapi walau hanya sebuah senyuman simpul yang singkat bisa ia rasakan ketulusan disana.

Ketiganya pergi dari tempat yang dipenuhi jasad manusia tersebut, dengan perlahan Donghae serta Renjun memapah Jeno yang masih terlihat shock, apalagi ditambah penampilannya saat ini. Orang tidak akan mau mendekatinya karena mereka pasti akan menyangkan pria ini adalah orang gila.

Begitu tiba di mansion keluarga Lee, Jeno segera mendapatkan perlakuan istimewa, beberapa pelayan membantunya untuk membersihkan diri bahkan dirinya baru sadar kalau kulitnya yang dahulu terlihat menghitam serta kotor kini perlahan berubah menjadi putih ia hampir sama pucatnya dengan Huang Renjun ketika Jeno berkaca dalam sebuah kamar luas yang katanya akan menjadi kamarnya mulai hari ini.

Pakaian indah selembut sutra kini ia kenakan ditubuhnya, bahkan dengan bangga Jeno bisa katakan pakaian ini sama mahalnya dengan yang dipakai oleh para raja brengsek diatas sana, kilasan akan tubuhnya yang di dicabik dengan pedang dan dipukuli benda tumpul membuat kepalanya kembali berdenyut sangat sakit dirinya benar-benar sulit melupakan bagaimana caranya mati tadi, walau samar namun kilasan-kilasan tersebut benar-benar membekas dikepalanya.

Namun yang ia tidak ingat, siapa dirinya, siapa keluarganya, kenapa dirinya ada diantara mayat bergelimpangan itu? Mengapa mereka semua dan dirinya harus dibunuh saat itu?

'Tok tok tok'

Sebuah suara ketukan dari pintu membuat Jeno membuyarkan lamunannya, setelah merasa rapi dirinyapun segera beranjak membukakan pintu kamarnya agar terbuka lebar dan terlihat Lee Donghae disana.

"Wah, kau benar-benar terlihat seperti si bungsu keluarga Lee jika sudah dibersihkan seperti ini."
Jeno membungkuk hormat dan malu di saat bersamaan ia berterima kasih karena sudah ditolong oleh pria ini "Ini, sekarang plat nama ini adalah identitas milikmu." matanya melirik kearah plat persegi panjang yang terbuat dari kayu dengan rumbai berwarna merah dengan ukiran aksara cina diatasnya bertuliskan Lee Jeno.

Ragu namun Jeno menerima pemberian Donghae tersebut dan menyematkannya pada ikat pinggang kain yang melilit pinggangnnya seperti yang ia lihat dilakukan oleh Donghae "Sekarang, keluarlah. Aku akan menjelaskan mengapa kau bangkit lagi dari kematianmu, kenapa kau meminum darah manusia, dan kenapa kau merasa tidak hidup ataupun mati."

Donghae mengibaskan pakaian bawahnya kemudian melangkah pergi terlebih dahulu menuju ruang tengah dari mansion besar ini, dan Jeno segera mengekorinya dari belakang. Begitu masuk diruang tengah yang terdapat dibangunan luas tersebut ia disambut oleh si pria pucat Huang Renjun yang membawanya bersama dengan Donghae tadi.

Netranya beralih pada seorang pria lagi yang segera bangkit dari duduknya, ia berkulit tan dan penuh dengan senyuman ramah diwajahnya saat menyapa Jeno.

"Selamat datang, aku Lee Donghyuk."

Twisted

Penghisap darah, begitulah mereka menyebut diri mereka sendiri. Donghae mungkin bukan yang pertama menjadi seorang penghisap darah karena dirinyapun tewas namun tersadar kembali karena haus akan dahaga di tenggorokannya.

Namun Donghae-lah yang pertama kali mengumpulkan sesama penghisap darah seperti ini, mereka sama-sama belajar untuk hidup berbaur dengan manusia, memperdalam kekuatan mereka agar mata merah mereka tidak terlihat mencolok disiang hari, dan tentu saja membatasi dahaga akan darah manusia dan menggantinya dengan darah binatang.

Sebagian para pekerja disini adalah manusia yang sudah ditolong oleh Donghae dan mengabdikan hidup mereka untuk para penghisap darah ini. Karena bagi mereka yang suatu saat akan tewas termakan usia, tenaga adalah salah satu balas budi terbaik bagi para penghisap darah yang akan tetap diterlihat seperti terakhir kali mereka tewas selamanya, ya mereka immortal layaknya dewa.
Lee Donghae, Huang Renjun, Lee Donghyuk dan Lee Jeno, entah takdir apa yang menimpa ke-4nya hingga mereka ditakdirkan untuk tidak bisa mati selama-lamanya, sedangkan mereka harus menyaksikan para pengikut mereka tewas perlahan karena termakan usia.

200 tahun berlalu setelah hari itu, tidak ada yang berubah dari kehidupan mereka hanya sistem pemerintahan dan cara berpakaian mereka saja yang sedikit berubah. Mereka tidak lagi terlihat seperti masyarakat dari China namun Korea, mereka menyebut pakaian tradisional ini 'Hanbok' sedikit lebih berat dari pakaian mereka 100 tahun lalu tapi tidak masalah selama itu tidak menganggu aktivitas.

Pagi itu Jeno dan Donghyuk tengah berjalan-jalan ditengah kota, mereka mencari hadiah kecil untuk Renjun pria yang berasal dari China dan tewas dinegeri mereka itu. Pria tersebut akan berulang tahun hari ini, walau mereka tidak pernah merayakan dan mengingat cara mereka mati, tetapi yang mereka ingat hari kematian mereka sekarang adalah hari lahir mereka jadi bisa dikatakan umur Renjun saat ini adalah 225 tahun sedangkan Donghyuk 216 tahun sedangkan Jeno yang termuda 205 tahun dan jangan pernah menanyakan berapa umur Lee Donghae, bisa mereka pastikan umurnya lebih dari 350 tahun jika melihat pengalaman hidup yang dilaluinya.

"Apa yang harus kita belikan, hampir semua barang sudah dimiliki olehnya."

"Bagaimana jika kita belikan dia tusuk konde ini." Donghyuk mengambil sebuah tusuk konde berwarna kuning keemasan dan memamerkannya dihadapan saudara tak sedarahnya itu sambil tertawa lebar.

Jeno menaikan topi lebarnya dan menatap tusuk konde tersebut ia hampir tertawa andai saja dirinya tidak melihat sebuah kilasan masa lalu di ingatannya.

Sebuah tusuk konde berwarna sama namun dengan ukiran yang berbeda menusuk perut kanan seorang pria dengan wajah samar dan menggunakan pakaian sutra berwarna biru langit. Jemarinya seperti berada disana mengenggam erat jemari pria yang baru saja tertusuk itu.

"Pergi sekarang juga"

'Buukk'

Lamunannya akan kilasan diingatannya teralihkan ketika seseorang tak sengaja menabrak bahunya, ia menoleh dan melihat seorang pria membungkuk dan meminta maaf padanya begitu pria tersebut kembali berdiri tegap Jeno terdiam ditempatnya.

"Joesonghamnida.." Ucap pria itu merasa bersalah karena menabrak Jeno yang terlihat seperti seorang bangsawan, salahkan dirinya yang tengah terburu-buru. Padahal kedua orangtuanya pernah berkata bahwa jangan sekali-kali bersinggungan dengan para bangsawan.

Sayangnya Jeno hanya terdiam saat ini, ia bahkan tidak bisa membuka mulutnya sama sekali, wajah dihadapannya, kedua mata bulatnya, rambut hitamnya yang terlihat dari balik topi lebar yang digunakannya, hidung mancungnya dan bibir tipis dihadapannya mengalihkan Jeno dari kesadarannya.

"Jeno-ya.."

Donghyuk menepuk punggung Jeno agar tersadar dari fase melamunnya, ia sudah melemparkan senyum canggungnya pada pria tersebut karena ulah Jeno yang justru terdiam bukannya menerima permintaan maaf dari manusia tersebut.

Apa sekarang Jeno punya penyakit mematung secara tiba-tiba?

"Ah.. Oh ya tak apa, aku baik-baik saja."

Pria tersebut tersenyum canggung karena menyadari Jeno melamun sambil menatapnya cukup lama, apa yang dibayangkan dan dipikirkan oleh pria itu? Apa jangan-jangan ia memikirkan bagaimana cara memberikan pelajaran bagi dirinya?

"Sekali lagi aku meminta maaf, diriku sedang terburu-buru untuk mengikuti ujian negara. Permisi." Pria tersebut kembali beranjak pergi, sebaiknya secepatnya menghindar sebelum pria itu benar-benar menemukan cara yang tepay untuk memberikannya pelajaran. Namun belum ada selangkah dirinya melangkah, pria itu, Jeno dengan nekat menahan langkahnya dengan mencengkram lengannya.

Membuat pria tersebut cukup terkejut dan kembali menunda perjalanannya yang hampir terlambat, bahkan Donghyukpun ikut terkejut dengan perbuatan Jeno barusan "Jeno-ya apa yang kau lakukan?" Omelnya sambil berbisik tidak enak mereka akan menjadi bahan perhatian banyak orang.

"Boleh aku tahu siapa namamu?"

"Namaku?" Pria itu semakin terkejut karena seseorang yang terlihat seperti bangsawan itu menanyakan namanya, padahal dirinya hanya seorang pelajar biasa. Akhirnya ia bisa bernafas lega karena pria tampan ini menanyakan namanya dengan lemah lembut itu artinya, dirinya aman daro bencana.

"Jaemin, Park Jaemin imnida."

"Jeno.. Lee Jeno Imnida..."

Sepertinya Jeno jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pelajar yang baru saja menabraknya tersebut, dadanya berdebar sangat kuat walaupun dirinya bukan manusia sekalipun.

Aliran darahnya seperti mengalir lebih cepat dari biasanya terlebih lagi ia mencium aroma manis yang menguar dari tubuh pria dihadapannya ini, bukan aroma yang membangkitkan insting membunuhnya namun, aroma manis yang seperti pernah dikenalnya seperti buah plum dan Jeno sangat menyukainya.

"Tapi, maaf Jeno-ssi... Diriku harus segera pergi untuk ujian, semoga kita bisa bertemu lagi nanti."

Dengan tidak mengurangi kesopanan pria itu Jaemin menarik perlahan lengannya yang masih ditahan oleh Jeno hingga kedua jemari mereka bersentuhan sesaat sebelum terpisah, lalu Jaemin segera pergi meninggalkan Jeno dan Donghyuk setelah membungkuk.

Sesekali Jaemin masih menoleh kebelakang dan mendapati Jeno masih berdiri diposisinya semula dan masih menatap kepergian Jaemin. Sebuah senyum manis tidak bisa disembunyikan dari bibir Jaemin, entah mengapa ada perasaan senang didalam dadany hanya karena perkenalan singkat tersebut, ia berharap bisa kembali bertemu dengan Jeno segera setelah ujian negara selesai nanti.

"Apa kau akan menatapnya sampai kedua bola matamu mengelinding keluar dari rongga matamu? Ayo cepat bantu aku memilih.."

Donghyuk kembali menepuk punggung Jeno bahkan hingga pria itu melangkah maju beberapa langkah karena kuatnya tepukan Donghyuk, tapi karena tidak ada respon apapun dari Jeno akhirnya ia memutuskan untuk mencarinya sendiri dan membiarkan Jeno kini masih berdiri ditengah jalan menatap punggung Jaemin yang kian menjauh.

Ada debaran aneh yang tidak pernah dirasakan olehnya sepanjang ia hidup 200 tahun ini sebagai seorang penghisap darah dan kini ia kembali merasa hidup layaknya manusia karena seorang Park Jaemin muncul dalam hidupnya, Jeno bahkan tidak bisa melupakan bagaimana cara Jaemin meminta maaf dan tersenyum padanya.

"Sial... Apa aku jatuh cinta?"

Cinta?

Cinta dan kutukan merupakan sebuah garis jodoh yang sama, mereka bertemu dikehidupan sekarang entah apa mereka pernah saling mengenal dikehidupan masa lalu, atau masa depan.

Yang Jeno dan Jaemin tidak tahu benang merah dan benang hitam yang terikat dijemari kelingking mereka adalah takdir permainan cinta dan kematian bagi keduanya, yang entah kapan berhenti.

Dan entah siapa yang akan memutuskan benang hitam itu terlebih dahulu atau benang merah terlebih dahulu....


To Be Continued

Finally i can reupload this fiction again.

After editing and ofc praying, i hope my acc don't get closed again, wkwkwkwk.

Let's give our TWISTED big support, love and VOTES.


Love you guys ^•^

Happy Reading... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar