∵ TWISTED ∵
|
|
|
|
"Ayah... Ibu...!!!"
Siang itu Jaemin berlarian dengan semangat digang sempit berukuran 2 meter dengan semangat, ia tidak perduli hampir beberapa kali menabrak seseorang dijalan, dirinya bahkan memegangi topinya yang menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang pelajar yang akan menuntut ilmu ditempat yang setara dengan para bangsawan.
"Jaemin Hyung berlarian seperti orang gila." Umpat adiknya yang mengintip dari dinding pagar yang terbuat dari tanah liat, ia kemudian segera membukakan pintu untuk Jaemin yang langsung masuk mencari kedua orangtua mereka.
"Gomapta Jisung-ah.."
Dengan cepat Jaemin melepas sepatu hitamnya dan berlari memasuki rumah kemudian menghampiri altar kedua orangtuanya, ia memamerkan gulungan kertas kelulusannya dalam ujian negara tidak lupa dengan senyum lebar dari bibirnya "Ayah, ibu.. Lihat aku lulus ujian."
"Benarkah?" Jisung sang adikpun segera merebut gulungan kertas di genggaman kakaknya itu.
"Ah.. Hari ini benar-benar hari keberuntunganku."
"Maksudmu?"
Jaemin menoleh pada adik satu-satunya itu sambil tersenyum lebar kemudian menggelengkan kepalanya, oh dia masih mengingat pria tampan yang menanyakan namanya padahal Jaemin yang menabrak pria itu. "Tak ada.." tidak mungkin baginya mengatakan bahwa tiba-tiba saja hatinya berdebar kuat karena ulah seorang pria bangsawan.
Pertama, itu adalah hal tidak normal.
Kedua, adiknya Park Jisung akan mengira dirinya tengah berhalusinasi.
Jisung menggendikan bahunya tanda ia tidak perduli, "Hari ini kita akan pergi ke festival bukan? Kau sudah berjanji padaku."
"Tentu saja, aku akan menemanimu. Jika bukan diriku siapa lagi?" Jaemin tersenyum senang melihat adiknya yang sangat berantusias untuk pergi ke festival malam nanti dengannya, ia melihat Jisung segera berlari kedalam kamar mereka setelah mengembalikan gulungan kertas tanda kelulusan milik kakaknya.
Jaemin meletakkan gulungan kertas tersebut di meja altar sambil tersenyum lembut, kedua netra bulatnya memandang papan nama ayah dan ibunya yang sudah meninggalkannya bersama dengan Jisung sejak 5 tahun lalu.
"Aku akan menjadi seorang cendikiawan, dan aku akan membersihkan nama kalian.." gumam Jaemin, langkah pertamanya untuk menjadi seorang cendikiawan kini sudah ada didepan mata.
Ia berniat segera menyusul Jisung untuk berganti pakaian namun langkahnya terhenti, tungkainya kembali melangkah mundur beberapa langkah hingga ia kembali berdiri berhadapan dengan altar kedua orang tuanya. Jaemin tersenyum lagi kali ini senyumannya sangat lebar seperti seorang anak yang sedang merengek pada kedua orangtuanya dengan kedua mata yang berbinar.
"Doakan aku agar bertemu dengannya lagi.."
Wajahnya seketika memerah karena meminta pada kedua orangtuanya untuk membuat Jaemin bertemu lagi dengan pria yang tadi dikenalnya secepat kilat dijalanan pasar yang padat pagi tadi.
"Aaarghhh kau gila Park Jaemin!" Jaemin berteriak dan berlari menutupi wajahnya sendiri sambil berlari ke kamarnya melewati adiknya yang menatap aneh saudaranya itu.
"Sudah kukatakan, dia bisa lulus ujian negara dengan sifat aneh seperti itu sangatlah tidak masuk akal." gumamnya setelah melihat tingkah sang kakak.
⇨ Twisted ⇦
Langit hitam yang sudah dipenuhi oleh bintang-bintang kini dipenuhi dengan gemerlap sinar kembang api, suara bisingnya bahkan bisa membuat Jaemin menutup telinganya sesekali.
Ia bersandar diatas jembatan memperhatikan langit yang berwarna saat ini seorang diri, sedangkan adiknya Park Jisung pergi entah kemana hanya satu pesan yang dikatakannya sebelum pergi tadi "Aku akan segera kembali." hanya itu, sepertinya sudah hampir satu jam lamanya Jaemin menunggu adiknya itu hingga dia hampir mati bosan.
Namun beruntung bagi Park Jaemin, sepertinya kedua orangtuanya mendengar doa dan permintaan Jaemin tadi, disaat dirinya benar-benar hampir mati bosan seseorang justru datang dan menyodorkan sebuah balon dihadapannya.
Karena terkejut Jaemin memundurkan kepalanya kebelakang, namun ketika ia menoleh kesamping alangkah terkejut dirinya melihat siapa yang baru saja menyodorkan balon padanya.
"Jeno-ssi?"
"Sepertinya kita berjodoh karena bertemu disini." seseorang yang menyodorkan balon pada Jaemin adalah Jeno, pria bangsawan itu kembali menyodorkan tali balon tersebut agar diambil oleh Jaemin "Ambillah, ini untukmu."
"Terima kasih Jeno-ssi." ragu-ragu namun Jaemin tetap mengambil balon berwarna merah tersebut, walau terlihat seperti anak kecil namun ia menyukainya.
"Bagaimana dengan ujianmu?"
"Tentu saja aku lulus, dengan nilai yang cukup baik. Bisa kubanggakan diantara para tetangga-tetanggaku." Jaemin terkekeh sendiri melihat Bibi Choi memarahi anaknya karena tidak lulus ujian negara.
Hah, rasakan itu.
Jaemin tidak cukup baik untuk ikut bersedih, karena merekapun sama sekali tidak memberikan simpati apapun pada dirinya dan Jisung saat kedua orangtua mereka meninggal.
"Jadi pengorbananku yang rela di tabrak tadi pagi tidak sia-sia bukan?"
Senyum lebar Jaemin yang mengembang dibibirnya perlahan terganti dengan kekehan pelan, ia kembali merasa tidak enak karena menabrak Jeno tadi pagi. Namun dirinya benar-benar sedang dikejar oleh waktu, andai dia terlambat 5 menit saja oh masa depannya akan segera hancur.
Jeno ikut terkekeh karena melihat Jaemin tertunduk sepertinya pria manis itu mengingat apa yang terjadi tadi pagi, senyum mengembang di bibir Jeno tidak bisa ia sembunyikan, bertemu dengan Jaemin adalah tujuannya datang ke festival ini.
Bahkan ia sudah melakukan hal konyol sejak tadi siang setelah usai bertemu dengan Jaemin. Bayangkan saja Jeno sengaja mencari tahu tentang Park Jaemin sejak terakhir bertemu dengannya tadi pagi dipasar membuat pengawal pribadi milik Donghae meledeknya hingga malam tiba. Ia berniat untuk menjadikan Jaemin pengawalnya jika pria itu mau menerima tawarannya, tapi apa tawarannya itu tidak akan berdampak pada pelajaran yang akan ditempuh oleh Jaemin nanti?
Ia sudah tahu latar belakang keluarga Park Jaemin, pria manis ini memiliki seorang adik laki-laki bernama Park Jisung, kedua orangtuanya sudah tewas dibunuh oleh prajurit istana karena dituduh menyembunyikan pemberontak padahal hingga saat ini tidak ada yang pernah mengaku melihat pemberontak yang dimaksud tersebut.
"Aku ingin menawarkanmu pekerjaan.."
"Pekerjaan?"
Jeno menganggukkan kepalanya dengan cepat "Aku tahu kau sebentar lagi akan sibuk dengan pendidikanimu, tapi bukankah kau membutuhkan pemasukan?"
Yang diucapkan Jeno ada benarnya, jika dirinya mulai sibuk dengan sekolah maka tidak akan ada pemasukan untuk kehidupannya dan Jisung. Walaupun adiknya sangat suka membuat benda-benda dari tembaga tapi tidak akan ada yang mau membeli barang seperti iti didesanya.
"Ah itu terasa sulit, bagaimana jika kau memperkerjakan adikku Park Jisung? Aku akan berterima kasih untuk itu." Jaemin semakin tersenyum lepas menampakan deretan gigi putihnya pada Jeno.
Walaupun sedikit kecewa Jaemin menolak permintaannya namun setidaknya ia dan Jaemin masih bisa berhubungan lewat adiknya "Baiklah, kau bisa membawanya kerumahku. Mansion Lee, kau tahu tempat itu bukan?"
Jaemin membuka mulutnya lebar-lebar bagaimana dirinya tak tahu tempat itu? Mansion Lee adalah rumah seorang saudagar kaya didesanya, menurut cerita orang-orang keluarga mereka di anugrahi ketampanan seumur hidup dan kekayaan seumur hidup.
Beruntungnya, ternyata Lee Jeno adalah salah satu penghuni Mansion tersebut.
"Park Jaemin-ssi? Kau masih berada disini bukan?" Jeno mengibaskan tangannya didepan wajah Jaemin, membuat si manis itu tersadar dari fase melamunnya.
"Ah, ya.. maaf, aku melamun. Aku hanya sedang memikirkan betapa kayanya dirimu dan keluargamu.. Ups.." Jaemin segera menutup mulutnya, benar-benar tidak sopan berbicara seperti itu pada orang yang akan memberikan pekerjaan padanya.
Jeno tertawa pelan mendengar kepolosan Jaemin, pria itu benar-benar sudah menarik perhatiannya. Namun yang dirinya tidak mengerti, entah mengapa Jeno seperti sudah pernah merasakan hal ini sebelumnya.
"Apa adikmu bisa bela diri?"
Sebentar Jaemin berpikir sampai kepalanya mendongak keatas dan telunjuknya berada di dagu "Hmm sepertinya tidak terlalu, apa itu menjadi poin penting dalam pekerjaan itu?"
Sebenarnya iya, namun poin itu menjadi penilaian akhir jika berurusan dengan Park Jaemin dan Park Jisung "Tidak, kami bisa mengajarinya."
"Ah syukurlah..."
Jaemin mengelus dadanya ia benar-benar bernafas lega karena tahu bahwa Jisung mungkin akan segera mendapatkan pekerjaan "Ah jika kau tidak keberatan mungkin adikmu bisa tinggal di tempatku, mungkin kau juga bisa menetap disana."
Sebenarnya ada keraguan saat Jeno menawarkan agar Jaemin dan Jisung tinggal bersama di Mansion Lee, tapi kata-kata yang sudah diajarkan oleh asisten Donghae tadi keluar begitu saja tanpa bisa dihentikan olehnya.
"Menetap di mansionmu?" pertanyaannya disambut anggukan cepat oleh Jeno ditambah dengan senyuman ramah yang hanya membuat Jaemin terpesona dengan mata sabit milik Jeno.
"Apa?! Hyuung?? Kau tidak salah??"
Kini Jaemin sudah duduk didepan altar kedua orangtuanya dengan wajah terbengong-bengong menulikan pertanyaan tidak percaya Jisung padanya. Bahkan saat ini Jisung sudah melangkah mondar mandir tak tentu arah karena tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Jaemin.
Dirinya mendapat pekerjaan secara tiba-tiba dan hebatnya bahkan yang memberikan pekerjaan menawarkan dirinya dan sang Hyung untuk tinggal ditempat mereka, yang mana tempat itu adalah Mansion Lee.
"Akupun berharap salah mendengar ucapannya."
"Haaaaaa..." Jisung mengusap wajahnya kemudian ikut terduduk didepan altar seperti kakaknya mereka berdua terdiam sebentar selama beberapa menit, kemudian saling menatap dan berteriak sambil tertawa bersama.
"Kita akan tinggal di Mansion Lee!!! Aaaaaa!!!!"
Pagipun tiba, tanpa menunggu matahari bersinar terik Jaemin dan Jisung sudah berdiri didepan pintu Mansion keluarga Lee. Mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dengan bekerja dan dapat tinggal disini secara gratis.
"Jisung-ah.."
"Ya?"
"Aku mungkin akan sangat jarang datang, jadi baik-baiklah disini." Jaemin membantu Jisung membereskan barang milik adiknya dikamar yang akan ditempati oleh Jisung, setidaknya kamar ini 2x lebih besar dari kamarnya dirumah. Jaeminpun bisa tidur disini jika dirinya libur dan bertandang kemari.
"Kau hanya pergi menuntut ilmu bukan mati Hyung."
"Ck kau ini."
⇨ Twisted ⇦
Beberapa bulan berlalu, Jisung sudah mahir bermain pedang ia bahkan sangat dekat dengan Jeno yang nyatanya mengatakan secara terang-terangan bahwa pria kaya nan tampan dan memiliki pesona luar biasa itu menyukai kakaknya yang sedikit kurang waras tersebut.
"Pasti ada yang salah dengan kepalamu Hyung, Jaemin Hyung tidak seindah yang kau bayangkan."
Selalu itu yang diucapkan Jisung pada Jeno setiap kali ia bertanya kapan Jaemin akan datang? Apa pria manis itu ada mengirimkan kabar? Dan sebagainya pertanyaan berisi dengan embel-embel nama Jaemin, sampai-sampai telinga Jisung sangat panas mendengarnya.
Hingga hari yang dinantikan oleh keduanyapun tiba, Jaemin pasti akan pulang ke mansion Lee jika tidak sebulan sekali maka 2 bulan sekali, dan hari ini Jaemin pulang dengan penampilan yang sedikit berbeda.
Dia sudah mengenakan 'Gat' dikepalanya, apa dia baru saja lulus ujian sebagai pelajar terhormat? "Hyung?!!"
Jaemin memeluk Jisung yang berlari menghampirinya, seingatnya ia hanya 2 bulan tidak datang tapi mengapa Jisung sudah terlihat bertambah tinggi dan ya sedikit berotot dari terakhir kali dirinya berkunjung ke Mansion Lee. Ah, mungkin karena latihan yang dilakukannya "Wah lihat siapa yang makin bertumbuh besar.. Ah aku sangat merindukanmu Jisung-ah.."
"Kau lulus ujian apa lagi eoh? Setiap kau datang penampilanmu selalu berubah." Jisung melepas pelukannya dan menatap kakaknya dari atas hingga bawah, tapi ia tidak menyembunyikan senyum bangganya pada keadaan Jaemin saat ini, kakaknya adalah yang terhebat dan terbaik.
Dirinya tidak sepintar Jaemin jadi ia tidak akan menghalangi kakaknya untuk mengejar impiannya tersebut, lagipula Jisung sudah sangat menyukai pekerjaannya disini. Menjadi tangan kanan Jeno sama dengan memiliki Hyung baru, pria kaya itu sama sekali tidak menganggapnya bawahan sama sekali. Bahkan bukan hanya Jeno, Donghae si tertua ditempat inipun memperlakukan dirinya sama rata dengan Jeno seolah-olah dirinya adalah adik terakhir dalam keluarga besar mereka.
Lebih tepatnya semua orang disini memperlakukannya begitu baik, bahkan hubungan antara atasan dan bawahan sangat tidak terlihat ditempat ini. Benar-benar layaknya sebuah keluarga besar yang tinggal dalam satu mansion bersama.
Lagipula siapa orang bodoh yang berniat menyerang Keluarga Lee yang terkenal itu? Jisung seperti memakan gaji buta setiap bulannya, bahkan makanan dan pakaianpun disediakan di Mansion ini.
"Jika kau melihat ini seharusnya kau tahu status kakakmu ini akan meningkat, dalam beberapa tahun lagi aku akan lulus kemudian bekerja di pemerintahan. Dan aku akan membawamu keluar dari sini."
Jisung mengembangkan senyumnya semakin bangga "Hyung kejar saja mimpimu, aku disini baik-baik saja. Jika hari itu tiba mungkin diriku yang sulit berpisah dengan tempat ini."
Ucapan Jisung ada benarnya, ia tidak pernah sekalipun mendengar adiknya mengeluh semenjak bekerja disini tempat ini seperti sumber kebahagiaan adiknya saat ini. Jaemin memandang sekitar, sangat banyak pekerja yang tinggal disini bahkan dengan keluarga mereka. Keluarga Lee tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk biaya hidup dan pendidikan bagi keluarga bawahannya, itu membuatnya semakin kagum pada keluarga tersebut.
Kedua netra bulatnya terhenti saat onyx coklatnya saling melempar pandangan dengan Jeno yang berada di pavilliunnya, Jaemin tersenyum hangat pada Jeno yang kini melambai padanya.
Malam datang, kini keduanya berada di jembatan kecil yang menyambungkan sebuah kolam buatan. Pantulan cahaya bulan penuh pada malam itu terlihat bergoyang di atas air yang cukup tenang tanpa tiupan angin.
"Bagaimana kabarmu?"
Jeno membuka pembicaraan karena keduanya hanya diam saja menikmati alunan suara jangkrik dimalam hari, atau keduanya canggung berdiri bersebelahan seperti saat ini.
"Kabarku benar-benar sangat baik, kau membuatku tidak perlu memikirkan bagaimana kehidupan adikku kedepannya, aku benar-benar bisa fokus berada disana untuk belajar. Kau benar-benar membantuku dalam banyak hal Jeno-ssi." Jaemin membungkuk sebagai rasa hormat dan terima kasihnya, namun dengan cepat Jeno menahannya ia tidak ingin Jaemin sampai berterima kasih seperti itu.
"Kau tidak perlu seperti ini, aku hanya ingin membantumu.." Kedua pergelangan tangan Jaemin masih berada dalam genggamannya saat pria bermata bulat tersebut kembali berdiri tegak dan menatap Jeno.
Untuk sesaat keduanya kembali terdiam kebisuan lagi-lagi datang menyerang keduanya, mereka seperti terpenjara dalam tatapan dari masing-masing netra yang saling melempar tatap dengan pandangan memuja satu sama lain, walau sebagian wajah Jaemin tertutup oleh lingkaran 'Gat' yang digunakannya namun itu tidak membuat keindahannya luput dari pandangan Jeno begitupun sebaliknya.
"Mengapa kau membantuku sedari awal?" Pertanyaan yang menganjal tersebut akhirnya keluar dari bibir Jaemin setelah sekian lama tertahan dalam benaknya, ia tertarik pada Jeno sejak pertemuan pertama mereka, ia akui hal itu. Namun ia tak menyangka dirinya justru akan menerima begitu banyak bantuan dari Jeno seperti ini.
Pria bermata tajam itu sudah membuka mulutnya, ia ingin sekali menjawab kalau Jeno jatuh dalam pesona Park Jaemin sejak pertama kali ia menatap kedua mata bulat tersebut. Namun, lidahnya benar-benar terasa sangat kelu saat ini.
"Jeno-ya..."
Sebuah panggilan dari dalam paviliun membuat Jeno dan Jaemin memutuskan pandangan mereka, keduanya melihat Huang Renjun berdiri disana sambil melambai padanya, sepertinya Renjun ingin mengatakan sesuatu tapi entah apa atau hanya sekedar memanggil dirinya.
"Sepertinya, sepupumu memanggil Jeno-ssi."
Jeno ragu, ia ingin menghabiskan malam dengan berdiri disini bersama Jaemin walaupun hanya suara jangkrik yang menemani mereka, tapi jika Renjun memanggilnya mungkin ada yang ingin di bicarakan olehnya.
"Aku akan kembali." Jenopun meminta Jaemin untuk menunggunya ia segera beranjak menemui Renjun yang nyatanya hanya meminta Jeno menemaninya mencari camilan dimalam hari.
"Bukankah kau bisa meminta Donghyuk menemanimu? Atau Jisung." Protes Jeno saat sedang menunggu Renjun membeli camilan.
"Aku ingin ditemani olehmu, lagipula kau terlihat sangat kaku berada didekatnya, kau butuh waktu untuk merilekskan dirimu Lee Jeno." ujar Renjun yang langsung menyerang Jeno dengan kenyataan bahwa pria tampan itu memang terlihat begitu kaku saat bertemu dengan Jaemin.
Mau tak mau Jeno tertawa hambar karena mendengar ucapan Renjun, apa sejelas itu kegugupannya terlihat? Oh Lee Jeno rasanya ingin mengubur kepalanya didalam tanah. Berumur 200 tahun lebih sama sekali tak membantunya untuk berkembang dalam menguasai emosi.
"Ini.."
Renjun memberikan sekantung kertas camilan manis pada Jeno "Makanlah berdua dengannya agar kalian tidak terlalu canggung seperti tadi."
Jeno menerima kantung kertas tersebut dan mengintip isinya bola bulat manis yang terbuat dari ubi, mungkin Jaemin akan suka. Jenopun memberikan senyum hangatnya pada Renjun kemudian mencubit gemas pipi tirus pria China tersebut. "Terima kasih Renjun-ah."
Pria berkulit pucat itu hanya tersenyum sambil menunduk dan mengangguk perlahan, ia lalu menarik Jeno agar segera kembali ke Mansion Lee bukankah lelaki tampan itu meminta Jaemin untuk menunggu, pasti pemuda Park itu masih menunggu disana.
"Jeno-ya.."
"Hmm?"
"Kau menyukai Park Jaemin?"
Jeno terkekeh pelan hingga kedua matanya hilang menjadi sebuah garis eye smile "Jika kau menyadari betapa gugupnya diriku berada didekatnya seharusnya kau sadar kalau aku menyukainya."
"200 tahun aku mengenalmu baru kali ini kulihat kau menyukai seorang manusia, pasti Park Jaemin itu sangat istimewa.."
Sebentar Jeno terdiam, ia masih melangkah bersama Renjun kembali ke Mansion. Perasaannya pada Jaemin tidak bisa dikatakan bahwa dia istimewa, ada hal lain yang tak dimengerti oleh dirinya sendiri. "Ah.. dia tidak istimewa hanya saja dia berhasil menarik perhatianku.. dadaku berdetak cepat tak karuan bahkan hampir sulit bernafas hanya karena melihatnya."
"Wah benarkah?? Kau sepertinya sangat menyukainya Lee Jeno."
"Sepertinya... aku tergila-gila padanya." Langkah Jeno yang sudah memasuki pagar kayu mansion Lee terhenti saat kedua netranya menangkap paras sempurna Jaemin masih berada dimana tempatnya tadi berdiri bersama, dimana Jeno memintanya untuk menunggu.
Renjun mengikuti arah pandang Jeno pun terkekeh pelan ia menepuk lengan pria tampan disampingnya lalu beranjak meninggalkan Jeno dan kebodohannya.
"Kau masih menunggu disini?"
Suara Jeno membuyarkan lamunan Jaemin yang tengah bercengkrama dengan ikan-ikan di dalam kolam, sudah Jisung katakan Jaemin itu aneh bukan sejak awal.
"Kau memintaku menunggu Jeno-ssi.."
Jeno mengigit bibir bawahnya, ia hampir berteriak karena jawaban Jaemin yang menunggunya "Kubawakan camilan manis untukmu." Jeno menyerahkan sekantung makanan yang diberikan Renjun padanya tadi kemudian menyusul Jaemin untuk duduk dijembatan dengan kaki mengantung diatas kolam ikan tersebut.
"Omo.. Sudah berapa lama aku tidak memakan ini." Jaemin menerima camilan tersebut dengan girang, ia merindukan makanan seperti ini karena dalam asramanya hanya ada makanan sehat.
Tanpa menawari pada Jeno yang sudah membawakannya camilan manis tersebut Jaemin melahap kue berbentuk bola itu tanpa perduli bahwa saat ini remah gula terlihat berantakan di bibir Jaemin yang mau tak mau membuat Jeno tertawa "Apa yang kau tertawakan Jeno-ssi?"
Tanpa perlu menjawab Jeno membersihkan gula tersebut dari sudut bibir Jaemin dengan ibu jari miliknya kemudian menghisap ibu jarinya sendiri tepat dihadapan Jaemin yang menatapnya "Manis.."
'Deg deg deg deg'
Jantung Jaemin berdebar kian keras bahkan ia bisa mendengar suara debarannya sendiri saat ini, mata bulatnya berkedip beberapa kali melihat Jeno baru saja memakan sisa gula dari bibirnya. Bahkan tanpa sadar wajah putihnya kian merona karena panas yang menjalar di wajahnya, rasanya ingin menunduk dan menyembunyikan wajah dalam lingkaran 'Gat' yang digunakannya namun rasanya itu adalah hal yang tak sopan.
Merasa dirinya melakukan sesuatu yang memancing rona merah di wajah Jaemin justru si bungsu Lee itu tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada Jaemin menunggu reaksi menggemaskan yang ingin dilihatnya.
"Bukankah kau ingin tahu alasanku selam ini berbuat baik padamu Park Jaemin-ssi?"
Melihat Jeno mendekat Jaemin memundurkan kepalanya namun ia masih mengangguk karena rasa penasaran. "Kau ingin menjawabnya? Dengan jarak sedekat ini?"
"Hmm, ya."
"Jika kukatakan aku menyukaimu bagaimana? Apa kau percaya seorang lelaki bisa menyukai seorang lelaki?"
"............."
Jaemin terdiam ia sama sekali tidak pernah percaya akan pendengarannya barusan, dirinya tertarik pada Jeno sejak awal pertemuan dan nyatanya pria tampan ini juga memiliki ketertarikan yang sama pada dirinya? Apa ini sebuah kebetulan? Atau memang takdirnya?
"Aku yakin, kau tidak percaya padaku." Jeno perlahan menjauhkan tubuhnya namun jemari Jaemin dengan cepat menahan bagian kerah hanbok berwarna gelap yang digunakan Jeno, ia menatap pria itu lekat-lekat mencari kebenaran atas ucapannya barusan.
"Jika kau berbohong padaku, aku akan membelah tubuhmu jadi dua Lee Jeno-ssi.."
"Jika, diriku tidak berbohong?"
Jaemin kembali terdiam sesaat sebelum menelan liurnya dan membuka mulutnya "Aku akan memberikan hidupku untukmu, baik dikehidupan lalu, sekarang, dan masa depan. Jadi jangan berbo-..."
Belum Jaemin usai dengan rentetan kalimatnya yang berisikan kalimat ancaman pada Jeno, pria itu sudah maju dan menutup akses berbicara Jaemin dengan bibirnya.
Ia tidak perduli dengan ancaman Jaemin padanya, ia akan membuat Jaemin menjadi sama seperti dirinya setelah mengaku pada pria itu makhluk apa ia sebenarnya, jadi Jeno tidak perlu menunggu masa depan datang padanya dan Jaemin.
Yang Jeno inginkan setelah ini adalah ia akan menghabiskan seluruh hidupnya bersama dengan Jaemin, dari masa sekarang hingga nanti makhluk seperti mereka akan musnah dengan sendirinya.
Ya...
Cinta keduanya tidak diragukan lagi, namun takdir yang meragukan mereka, takdir terlalu mempermainkan mereka menjebak mereka berdua dalam hubungan tabu bahkan kini merekapun bukan dalam jenis makhluk yang sama.
Takdir keduanya terlalu kejam untuk mereka jalani dan mereka mulai, andai saja mereka tidak pernah saling jatuh cinta sejak awal, andai saja mereka tidak pernah bertemu sedari awal.
⇨ Twisted ⇦
Malam festival bulan keenam yang dilewati oleh kedua pasang manusia dan makhluk penghisap darah itupun tiba, Jisung menggaruk kepalanya yang gatal sambil tetap mengenggam pedang miliknya dalam dekapan.
Ia masih tidak mengerti Jeno benar-benar memiliki hubungan spesial dengan kakaknya yang aneh itu, bagaimana mereka bisa saling mengerti satu sama lain? Yang satu indah dengan setiap keanehannya yang satu lagi tampan dengan segala sifat kekanakannya.
Jangankan Jisung, Donghaepun tidak pernah melihat Jeno selama 200 tahun bersikap semanja itu pada seseorang. Terlebih jika Jaemin pulang dari asramanya setiap bulan maka seisi mansion akan melihat tabiat asli Lee Jeno yang hanya muncul jika Jaemin berada di mansion.
"Jaemin-ah, ayo kita ke festival."
"Ah benar-benar membuat mataku iritasi.." Umpat Jisung dan memilih untuk keluar dari kamarnya saat Jeno datang menjemput Jaemin yang baru saja sampai, namun hanya menghasilkan kekehan dari bibir Jaemin yang segera beranjak bangkit untuk pergi bersama dengan Jeno tentu saja.
Jisung memutuskan untuk berlabuh ketempat sunbaenya berada Lee Eunhyuk, karena dia adalah asisten pribadi Donghae tentu pria berahang tegas yang hampir serupa dengan miliknya itu pasti berada disana.
Namun belum dirinya mengetuk pintu pavilliun pribadi milik Donghae ia mendengar suara erangan dari dalam dan telinganya sangat familiar dengan suara itu, Lee Eunhyuk.
Jisung sudah menarik setengah pedangnya keluar, berjaga-jaga jika ada serangan dari dalam namun kalimat selanjutnya yang didengar Jisung membuat rahangnya melebar dan hampir terjatuh kelantai.
"Darahmu selalu membuatku candu."
"Minumlah dengan perlahan, jangan menghabiskan darahku atau diriku bisa mati kehabisan darah."
"Apa kau tak ingin menjadi sepertiku? Kita bisa hidup bersama selamanya Eunhyuk-ah.."
"Jika aku menjadi penghisap darah sepertimu siapa yang akan memberikan darah untukmu? Akan ada saatnya diriku menjadi sepertimu dan saudara-saudaramu."
Hening..
"Tetaplah hidup sampai hari itu tiba..." Pinta Donghae dengan penuh harap, ia tersenyum saat Eunhyuk menganggukkan kepalanya sambil menghapus noda darah yang menetes disudut bibirnya.
Jisung melangkah mundur, ia bukan main terkejut mendengar pembicaraan dari dalam sana. Pedangnya kembali ia simpan, dirinya perlahan pergi dari pavilliun Donghae dengan pikiran kalut dalam kepalanya. Park Jisung sudah cukup dewasa untuk mengerti apa yang terjadi dan apa maksud pembicaraan Donghae serta Eunhyuk didalam sana, kepalanya terasa pening. Ia memikirkan kakaknya dan Jeno, apa iya majikannyapun seperti Donghae? Seorang penghisap darah?
Kakinya melangkah tanpa arah hingga membawanya menuju festival, ia melihat kakaknya dan Jeno tengah tertawa bersama dengan bahagia dan berjalan ditengah-tengah hiruk pikuk manusia sambil memakan manisan buah. Saat ini dipenglihatan Jisung, Jeno terlihat seperti manusia normal baginya. Namun ucapan Eunhyuk kembali menghantuinya "Akan ada saatnya diriku menjadi sepertimu dan saudara-saudaramu."
Kalimat itu bagaikan rekaman puisi usang yang harus dihafalnya terus menerus, ia mengingat dengan jelas setiap kata yang di lontarkan seniornya itu. Jadi kesimpulan yang didapat olehnya adalah Jeno sama seperti Donghae bukan? Selama ini dirinya tinggal dengan para penghisap darah? Apa mereka baik hanya untuk mengambil darah para pengikutnya?
"HYUNG!"
Terkejut, Jaemin dan Jeno segera menoleh saat melihat Jisung menarik lengan kakaknya dengan kasar bahkan hingga manisan ditangannya terjatuh ketanah.
"Jisung-ah? Kau menyusul? Kupikir kau tidak akan menyusul." Jeno dengan riang merangkul Jisung namun dengan cepat ditepis oleh pemuda Park tersebut dan membuat Jaemin terkejut, apalagi Jeno.
"... Jisung-ah?"
"Pulang.."
Tubuh Jaemin ditarik begitu saja oleh sang adik, bahkan dia tidak memberikan sikap sopan pada Jeno majikannya sendiri. Bagi keduanya Jisung terlihat berbeda, apa ada yang salah dengan mereka berdua hingga Jisung semarah ini pada mereka?
"Jisung!"
Jeno mau tak mau mengejar Jisung dan ikut menarik lengan Jaemin yang lain, jika memang pengawal pribadinya itu ingin membawa kakaknya pulang seharusnya dia bisa berkata baik-baik pada Jeno ataupun Jaemin, bukan menariknya seperti itu.
"Yaak!!"
Dengan kasar Jeno menarik lengan Jisung karena anak itu tetap menarik Jaemin yang merasa serba salah pada Jeno karena dirinya tak bisa tinggal ataupun pada Jisung karena ia masih ingin bersama dengan Jeno, rasa bersalah menggulung dibenak Jaemin terhadap 2 pria yang tengah menariknya tersebut disaat bersamaan. Bukan main terkejutnya Jisung saat melihat kedua mata Jeno mengkilat merah menatapnya karena menahan kesal pada dirinya, hingga Jisung melepaskan cengkramannya pada Jaemin.
"Kau... kau benar-benar penghisap darah Hyung?"
Kali ini kilatan merah itu hilang perlahan dengan sendirinya ketika pertanyaan itu terlontar keluar dari mulut Jisung, Jenopun terkejut akan reaksinya karena kedua manik matanya memerah secara tiba-tiba saat Jisung membuatnya kesal.
Berbeda dengan Jisung yang terkejut Jaemin hanya diam dan menunduk, ia sudah tahu siapa sebenarnya Jeno sejak bulan purnama pertama dan bodohnya Park Jaemin tetap ingin bersama dengan Jeno tanpa perduli makhluk mengerikan apa kekasihnya itu.
Jisung perlahan kembali cengkraman lengan Jaemin saat sadar reaksi kakaknya itu berbeda dengan miliknya, ia terkejut karena kakaknya justru hanya terdiam menunduk menyembunyikan wajahnya "Kau sudah tahu Hyung?" Tapi tak ada jawaban apapun dari kakaknya.
"KAU TAHU DIA MAKHLUK MENGERIKAN?!"
"Park Jisung... pelankan suaranmu." Pinta pria dengan hazel coklat tersebut dengan sangat, berteriak-teriak ditengah festival hanya akan membuat mereka berada dalam masalah besar nantinya.
"Apa kalian berdua tengah membodohiku? Apa kau menjualku padanya Hyung? Agar dia bisa meminum darahku?"
"Yak! Park Jisung!!"
Bentakan keras dari kakaknya tidak membuat Jisung yang sudah beranjak kian dewasa gentar, ia membalas tatapan sang kakak dengan tajam, rahang tajamnya pun mengeras. Jisung memutuskan pergi dari hadapan Jaemin, kakaknya hanya menyukai Lee Jeno sekarang dan melupakannya bukan begitu?
"Aku akan mencoba bicara padanya.."
Jeno hampir melangkah pergi namun Jaemin meraih lengannya, ia takut kedua pria yang paling berharga dalam hidupnya akan bertengkar dan berkelahi nantinya. Namun Jeno menyentuh telapak tangan Jaemin, menepuknya dengan perlahan pria tampan itu tersenyum pada Jaemin dan mengelus wajah pria tersebut dengan lembut.
"Kau tenang saja."
Usai menenangkan Jaemin, si bungsu Lee itu segera menyusul kearah mana Jisung pergi tadi meninggalkan Jaemin yang kini seorang diri ditengah festival.
Jaemin menghela nafas pelan, ia tahu hubungannya dan Jeno sudah salah sejak awal tapi mau bagaimana lagi? Mungkin karena Jeno immortal dan seorang penghisap darah jadi dirinya bisa terpikat hingga sedemikian rupa pada Lee Jeno tanpa berpikir bahwa pria itu 'monster'. Namun Jaemin tidak pernah melihat Jeno menghisap darah manusia manapun selama ini, pria itu selalu berkata ia belajar meminum darah hewan.
Seorang monsterpun berhak untuk dicintai dan mencintai. Dan tentu saja Jaemin percaya pada Jenonya.
Perlahan pintu rumah keluarga Park terbuka, Jeno mengedarkan pandangannya ia melihat rumah tersebut gelap seperti tak berpenghuni namun tetap terlihat rapi tidak berantakan. Jeno selalu meminta asisten rumah tangganya untuk datang kemari setiap minggu membereskan rumah ini.
"Untuk apa kau kemari? Kau ingin aku membunuhmu?"
Suara Jisung yang sangat tidak bersahabat masuk ketelinganya, Jenopun menoleh ia melihat Jisung duduk di anak tangga untuk naik kedalam rumahnya. Tanpa rasa takut dan ragu atas ancamannya Jeno melangkah menghampiri Jisung dan duduk disebelahnya.
"Kau marah padaku karena diriku tidak pernah jujur padamu?"
Jisung hanya diam, tangannya sibuk memainkan pangkal pedangnya menariknya keluar sedikit kemudian memasukkannya lagi hingga terdengar bunyi gesekan nyaring dari pedang panjang tersebut.
"Kau tahu, dirikupun sulit mengatakan kebenaran yang sebenarnya pada Jaemin andai dia tidak sengaja melihatku meminum darah, mungkin hingga saat ini dia tidak akan tahu." Jeno menerawang mengingat bagaimana terkejutnya dan betapa pucatnya wajah Jaemin saat mengetahui kebenaran pertama kali.
"Diriku dan Jaemin sedang mencari waktu yang tepat untuk memberitahukan segalanya pada dirimu."
"Kalian semua? Seluruh penghuni mansion? Apa kalian penghisap darah?"
Jeno menggeleng seluruh pekerjanya adalah manusia, dan mereka semua tahu tentang siapa jati diri seluruh keluarga Lee yang sebenarnya. Namun herannya mereka tetap tinggal didalam mansion bahkan membantu keluarga Lee untuk berburu hewan guna diambil darahnya.
"Mereka semua manusia sepertimu, mereka tahu siapa kami sebenarnya, namun tak ada satupun dari mereka yang beranjak pergi ataupun mengkhianati kami."
"Bagaimana bisa?"
"Dirikupun tak tahu..."
Jeno menoleh pada Jisung ia menepuk bahu pria yang sudah dianggap adik olehnya sendiri "Aku tidak akan pernah melukai kakakmu, kau tahu bukan diriku sangat menyukainya."
"Bukankah kau akan menghisap darahnya seperti yang Donghae-ssi lakukan pada Eunhyuk Sunbaenim?"
"Eunhyuk Hyung satu-satunya sumplai darah hidup milik Donghae Hyung di mansion, dia yang ingin Donghae Hyung tetap meminum darahnya tanpa mengubahnya. Kau tahu, terkadang cinta itu terkesan bodoh bukan? Itulah yang dilakukan oleh Eunhyuk Hyung pada Donghae Hyung.."
Jisung mendengus mendengar ucapan Jeno, mau tak mau kalimat itu terasa benar ditelinganya. "Lalu bagaimana dengan kakakku?"
"Sesungguhnya diriku sangat ingin mengubahnya menjadi sepertiku, tapi.. Jaemin belum tahu tentang niatku tersebut, dia masih sangat ingin lulus dengan nilai terbaik dan bekerja dipemerintahan, aku tidak akan merusak mimpinya itu."
Hening...
Baik Jisung ataupun Jeno diam, sepertinya sibuk dengan pikirannya masing-masing tentang Jaemin. Memikirkan kebahagiaan Jaemin dan masa depannya, mereka berdua sangat menyayangi Jaemin tanpa terkecuali.
"Ayo kembali ke festival, kakakku pasti menunggumu kembali."
Melihat Jisung yang sudah kembali seperti semula dan bangkit berdiri meminta mereka kembali ke festival membuat Jenopun ikut segera bangkit sambil membersihkan bagian belakang pakaiannya yang kotor.
Keduanya melangkah keluar dari pagar kayu rumah keluarga Park, namun mereka justru melihat beberapa orang berlarian kesatu arah bersamaan, menjauh dari pasar festival.
"Ada apa?"
"Pemerintah menggeledah mansion Lee, mereka menyembunyikan pemberontak Georyeo disana!"
"Apa?"
Mau tak mau kaki Jeno dan Jisung justru kembali menuju mansion Lee bukan ke pasar festival, sesampainya disana mereka bisa melihat banyaknya pasukan pemerintah yang menggeledah mansion Lee, bahkan Jeno melihat Donghae sudah terikat dan tertangkap.
"H-hyung?"
Jeno hampir melangkah maju jika seseorang tidak menahannya, Eunhyuk berada diantara kerumunan meminta Jeno dan Jisung untuk diam dan mengikutinya menjauh dari mansion Lee.
Mereka tiba di gang sempit desa yang sepi dan Eunhyuk membuka penutup wajahnya "Ganti pakaian kalian kita akan pergi dari sini."
"Tapi, Donghae Hyung?"
"Kau pikir dia akan tewas dengan mudah? Kau tahu bukan dia itu siapa?"
Jeno terdiam, ia menerima pakaian rakyat jelata ditangannya "Donghyuk? Renjun? Mereka aman?" Pertanyaannya hanya disambut anggukan oleh Eunhyuk.
"Jaemin akan segera menyusul, tadi kulihat dia sendirian di festival dia berkata akan pulang dan mengambil papan altar kedua orangtuanya."
"Aku akan menyusul Jaemin Hyung dan segera menyusul kalian."
Jisung segera pergi bahkan dia tidak mengambil pakaian yang diberikan Eunhyuk padanya, dan membuat Eunhyuk justru sedikit khawatir pada hoobaenya tersebut.
"Apa yang terjadi? Pemberontak? Kita tidak menyimpan pemberontak atau apapun bukan Hyung?"
"Sebagian dari pekerja kita adalah keturunan pemberontak yang bertahan hidup saat pembantaian 200 tahun lalu. Aku tidak tahu dari mana pemerintahan tahu tentang silsilah semua pekerja di mansion Lee."
"Sebagian dari mereka sudah kuperintahkan pergi menjauh, sebagian tewas di mansion karena melawan dan sisanya tertangkap."
Jeno terkejut, bukan main terkejut. Ia tidak menyangka akan melihat hal yang sama setelah 200 tahun berlalu "Ganti pakaianmu dan temui Donghyuk serta Renjun di hutan, kita akan pergi." Eunhyuk meninggalkan Jeno untuk berganti pakaian, bagaimanapun ia memikirkan Jaemin, Jisung dan Donghae.
Dengan langkah perlahan Jisung memasuki pelataran rumah sederhananya "Hyung?" Ia memanggil Jaemin berbisik, tapi ia tidak mendengar jawaban sama sekali yang masuk ketelinganya adalah suara benturan dan perkelahian dari dalam rumahnya yang gelap.
Jisung sudah berniat menarik pedangnya namun ia mendengar suara Jaemin dari dalam "Aku sama sekali tidak menyangka, kau.. pengkhianat di keluarga Lee? Bagaimana bisa.." Belum usai Jaemin berbicara perkelahian terjadi lagi.
"Siapa pengkhianat?" Jisung segera berlari mendekati rumahnya namun tiba-tiba saja Eunhyuk datang dan menariknya untuk bersembunyi, tak lama banyak pasukan pemerintah datang mengepung rumah keluarga Park.
Para prajurit menyeret Jaemin dalam keadaan setengah sadar dan menjatuhkan tuduhan yang sama seperti yang mereka lakukan pada ayah dan ibu mereka dahulu "Park Jaemin, kau bersalah atas kejahatan bekerja sama dengan Mansion Lee untuk menyembunyikan pemberontak. Gelar siswa kehormatanmu akan dicabut dan kau akan dijatuhi hukuman mati."
"H-hyu.." Jisung terpaksa kembali diam sambil menahan tangisannya saat Eunhyuk membekap mulutnya agar tak bersuara dibalik persembunyian mereka.
"Bawa dia.."
Ia kembali melihat tubuh kakaknya di seret keluar dari halaman rumah, menyisakan 2 orang satu prajurit satu lagi bangsawan terlihat dari 'gat' yang digunakannya sayang wajahnya tertutup membuat Jisung tidak dapat melihat bagaimana rupa pengkhianat tersebut.
"Bakar sisanya."
Sebuah obor yang menyala di lempar kedalam kediaman keluarga Park setelah api menyala kedua orang itu segera pergi, Jisung hampir berlari keluar untuk masuk kedalam untuk mengambil papan altar kedua orangtuanya dan gulungan kelulusan Jaemin namun Eunhyuk menahannya.
"Kau mau mati eoh!"
"Ada pengkhianat Sunbaenim! Aku sendiri mendengar Jaemin Hyung mengatakan itu didalam, dia yang membuat keadaan sekacau ini!"
"Aku berjanji padamu akan menemukan siapa pengkhianatnya dan membebaskan Jaemin, tapi saat ini dirimu harus aman terlebih dahulu." Eunhyuk menarik Jisung agar menjauh dari kediaman Park yang sudah terbakar namun tubuh pemuda itu merosot ia berlutut dan menangis melihat rumahnya, altar kedua orangtuanya dan satu-satunya kebanggaan Jaemin terbakar didalam.
"Aaaaaaarghh!!!!"
"Jisung-ah, ya Park Jisung. Dengarkan aku, kita akan menyelamatkan Jaemin dan Donghae kau dengar itu?" Eunhyuk menangkup wajah Jisung ia ingin anak ini mendengarkan perintahnya sekali saja, mereka harus pergi sekarang.
"Dengarkan aku eoh, aku ingin kau selamat terlebih dahulu Jisung-ah.."
Jisung masih menatap rumahnya yang penuh dengan kobaran api, iapun mencoba menahan tangisannya. Ini bukan waktunya untuk menangis, ia menghela nafasnya dengan berat sambil menghapus sisa-sisa genangan air mata di wajahnya.
"Baik Hyung.. Kita selamatkan mereka.."
⇨ Twisted ⇦
Ditengah hutan ke-2 Lee berdiri dan melangkah kesana kemari tidak karuan. Mereka memikirkan nasib Hyung tertua mereka sedangkan Renjun ia tengah memahami peta yang diberikan Eunhyuk padanya mencari jalan untuk pergi dari sini.
Ketiganya mendengar suara langkah kaki dan melihat Jisung serta Eunhyuk datang "Dimana Jaemin?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Jeno karena hanya mereka ber-2 yang kembali tanpa Jaemin.
"Dia tertangkap.. Kalian pergilah ke selatan terlebih dahulu, aku dan Jisung akan kembali menyelamatkan Jaemin dan Donghae. Jangan menoleh kebelakang jangan berhenti berjalan, kalian harus sampai diselatan dengan selamat." Titah Eunhyuk, ia menyerahkan pedang miliknya pada Donghyuk "Aku sudah mengajarkanmu cara menggunakannya, kau pasti bisa melakukannya belajarlah menjadi dewasa Lee Donghyuk."
Melihat Eunhyuk memberikan pedangnya membuat Donghyuk hampir menangis, firasatnya benar-benar tidak bagus dan entah mengapa Donghyuk benci mengatakan bahwa biasanya firasatnya selalu benar.
"Aku akan ikut dengan kalian."
"Kau disini Hyung, lindungi saudara-saudaramu. Aku yang akan menyelamatkan Jaemin Hyung, aku akan membawanya kembali padamu."
Jeno terdiam, ia melihat Jisung dan Eunhyuk pergi meninggalkannya bersama Renjun dan Donghyuk "Aku takut Jeno-ya.." Ia menoleh pada Donghyuk yang merengek takut, Jeno memeluk Donghyuk agar perasaan saudaranya ini lebih tenang. Ia bisa merasakan tubuh Donghyuk sedikit bergetar, netranya melirik Renjun yang terlihat berusaha setengah mati mencari jalur aman menuju selatan bahkan keningnya sampai berkerut.
"Renjun-ah, jaga Donghyuk. Aku akan menyusul mereka, mulailah berjalan keselatan kami akan menyusul."
"Tunggu Jeno, apa yang kau pikirkan?"
"Aku harus menyelamatkan Jaemin, karena diriku dia terjebak dalam masalah." Jeno segera pergi tanpa mau mendengar ucapan Renjun yang berniat menghalanginya.
Jisung dan Eunhyuk melangkah sangat pelan namum cepat di atap pagar istana keduanya berjalan beriringan, mereka tengah diam-diam menyusup kedalam istana tempat dimana seharusnya Jaemin, Donghae dan beberapa pekerja mereka di tahan.
Keduanya melompat turun bagaikan daun yang terjatuh ketanah tanpa suara, dalam sekali gerakan keduanya mematahkan leher penjaga disana. Jisung menurunkan penutup wajahnya dan berlari mendekati para tahanan yang menggeleng melihat kedatangannya. Dengan sigap Jisung berbalik sambil mengeluarkan pedangnya menghunuskan pedang pada siapapun yang akan menyerangnya.
"Tenang, aku tidak akan terkecoh."
Tahanan tersebut bernafas lega melihat Jisung baik-baik saja, dengan cepat ikatan tali tambang pada tangan tubuh dan kaki mereka dilepaskan oleh Jisung, ia menyuruh para tahanan mengikuti Eunhyuk untuk lari menggunakan pintu samping rahasia yang langsung menembus ke hutan.
Eunhyuk pernah bekeja di istana ia tahu seluk beluk istana lebih baik daripada siapapun di mansion Lee.
"Tunggu aku jangan pergi kemanapun."
Jisung menganggukkan kepalanya menuruti perintah Eunhyuk untuk tetap berada ditempatnya, namun suara ribut dari arah belakang membuatnya segera kembali menarik pedang sambil berbalik berniat menyerang sosok dibalik tubuhnya.
Beruntung reflek miliknya bagus dan berhasil menahan serangannya sendiri ia hampir menebas leher Jeno yang berada di belakangnya "Hyung?"
Jeno menghela nafasnya, ia menjauhkan pedang tersebut dari lehernya kemudian melihat sekeliling "Bagaimana kau bisa masuk? Diriku dan Eunhyuk sunbaenim sangat sulit untuk masuk kemari."
"Aku ini penghisap darah, dan seorang penghisap darah tidak lemah aku bisa melawan 30 orang dengan mudah."
Jisung merotasi kedua matany ia merasa Jeno tengah menyombongkan dirinya sendiri saat ini, namun biarlah kekuatan seperti itu yang dibutuhkan oleh mereka saat ini.
"Jeno? Kenapa kau berada disini?" Eunhyuk datang dengan tergesah-gesah, ia takut Jisung akan sendirian jika meninggalkannya cukup lama.
"Tidak penting bertanya seperti itu, dan aku tidak ingin kembali lagi kehutan. Sebaiknya kita berpencar kau mencari Donghae Hyung lalu diriku dan Jisung mencari Jaemin."
Mau tak mau Eunhyuk setuju, berpencar adalah satu-satunya cara mempersingkat waktu "Carilah ditempat terbuka, mereka sangat suka memamerkan tahahan mereka didepan orang banyak."
Mereka berpencar, Eunhyuk mencari kebagian sayap kanan istana ia berusaha menemukan dimana Donghae berada namun hasilnya nihil apa dia harus kesayap kiri? Mungkin Donghae ada disana dengan Jaemin.
Tapi rasa penasarannya akan penjara bawah tanah yang berada tak jauh dari posisinya justru membawanya untuk menginjakkan kakinya turun kebawah sana, tempat rahasia istana dimana mereka menyiksa para tahanan sebagai mainan.
Udara dibawah sangat pengap berbeda dengan diatas, tidak ada sedikitpun lubang ventilasi dibawah sana sehingga sirkulasi udara sangat tidak bagus. Bau tanah liat bercampur bau amis darah masuk begitu saja ke indera penciuman Eunhyuk, langkahnya berhenti saat melihat Donghae berada dalam satu sel kayu yang terbuka dan tengah dipukuli oleh seorang algojo berbadan besar.
Namun Donghae hanya diam saja, ia bahkan tidak merasa sakit sama sekali akibat pukulan tersebut justru membuat algojo tersebut semakin kesal dan memukuli Donghae hingga terjatuh terjengkak kebelakang.
"Katakan kau bersalah atau kau akan mati dalam interogasi ini."
Tapi bukan menjawab Donghae justru mendengus sambil meludahkan darah dari mulutnya "Bukankah kau yang akan mati kelelahan memukuliku?" Pria berwajah teduh itu justru menantang sambil menjilat sudut bibirnya sendiri yang terluka, karena dirinya melihat sendiri betapa lelahnya algojo itu memukulinya.
"Mungkin aku harus memakai benda lain." Algojo tersebut mengambil sebuah pisau belati dan mengayunkannya pada Donghae, hampir saja tepat sasaran andai Eunhyuk tidak tiba-tiba muncul dan mendorong Donghae menjauh dari serangan algojo itu.
"Apa yang kau lakukan?" Donghae mengomel kesal karena melihat Eunhyuk berada disini menyelamatkannya.
"Kau pikir apalagi? Pisau itu beracun bodoh! Kau bisa mati!!" Eunhyuk menarik pedang yang tergeletak di atas jerami kemudian berbalik dan menebas kepala algojo itu dalam sekali tebasan membuat kepala pria berbadan besar itu ambruk dengan kepala yang menggelinding keluar sel tahanan Donghae, jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Donghae saat melihat itu, ia bahkan merasa sulit menelan liurnya saat ini.
"Lain kali jika kau memang bisa melawannya lawanlah dia jangan dengan sengaja menunda apalagi memanasi orang gila seperti ini."
Dengan kesal Eunhyuk membuka ikatan tambang dipergelangan tangan Donghae dan membantunya untuk berdiri "Ayo cepat sebelum ada yang datang, kau harus membantu Jisung dan Jeno."
"Ada apa dengan mereka?" Donghae mengerutkan keningnya, perasaannya tidak baik mendengar adiknya berada disini bersama dengan pengawal pribadinya, bukankah seharusnya mereka bergabung dengan Renjun dan Donghyuk untuk pergi ke selatan?
"..... mereka membawa dan menangkap Park Jaemin dan akan menghukum matinya." Hyukjae melangkah keluar lebih dahulu sambil menendang kepala algojo tersebut agar tidak menghalangi jalannya.
"Menurutmu apa yang akan kedua orang itu lakukan, eoh?" tanyanya sembari menatap Donghae yang cukup terkejut menatapnya.
"Bawa diriku pada mereka sekarang.."
⇨ To be Continued ⇦
Tidak ada komentar:
Posting Komentar