myCatalog

Jumat, 21 Agustus 2020

US - BEGINING



* US *

-

-

-

-

-






NEO CITY

2044


'Pemerintah melancarkan sistem keamanan terbaru yang terhubung pada setiap rumah, setiap kejahatan akan terlacak bahkan sistem terbaru ini dikabarkan jauh lebih akurat daripada sistem keamanan sebelumnya.....'

Suara berita televisi pagi menemani dua orang pria dewasa yang tengah menyantap makanannya, wajah keduanya terlihat serupa namun siapapun tahu salah satu dari mereka berumur lebih tua.

Hanya meja kecil di tengah ruangan yang berukuran 1x1 tempat mereka memakan sarapan pagi mereka, keduanya tinggal di asrama yang terdapat didalam gedung pusat keamanan pemerintah.

Salah satu dari keduanya menghentikan acara makan pagi mereka dan segera beranjak bangkit sembari mengambil handuk yang tergantung tak jauh dari tempat tidur miliknya di sisi kiri. Sedangkan milik adiknya terdapat disisi sebelah kanan "Hyung.."

"Ya?"

"Sistem keamanan yang baru, apa kau tahu apa itu?"

Pria yang lebih tua itu melingkarkan handuk miliknya di leher kemudian menatap kearah layar televisi yang tergantung dan tertempel di dinding ruangan milik mereka "Tidak.. Tapi aku akan mencari tahu sistem tersebut nanti. Bersiap-siaplah Jayden kau akan ada misi bersama Lucas nanti."

Mau tak mau sang adik menganggukkan kepalanya menurut, ia menghabiskan sarapannya agar cepat berangkat untuk mengemban tugas lapangan kesekian bersama dengan Lucas sahabatnya.

Selama ini hanya Kakaknya seorang yang dia miliki, 'trauma' masa kecil membuat sebagian ingatannya menghilang, begitu penjelasan yang ia dengar dari kakaknya sendiri saat dirinya bertanya mengapa ia tidak mengingat apapun tentang masa kecil mereka. Kakaknya pun tak pernah membahas apapun tentang masa kanak-kanak mereka, yang dirinya ingat hanya ruangan putih ini sudah menemani mereka selama 15 tahun lamanya.

Yap.

Mereka berdua tak pernah berniat pergi meninggalkan tempat ini, mereka pun bekerja ditempat ini. Keduanya menjadi kesayangan begitu tiba di fasilitas laboratorium yang ada di gedung keamanan milik negara ini, segala macam tes dengan alasan untuk menguji kesehatan keduanya dilakukan disana.

Bahkan keduanya dilatih sedemikian rupa agar menjadi yang terbaik dari yang terbaik.

Dan disinilah mereka berada.

Aiden Lee, sekarang menjabat sebagai pemimpin tertinggi keamanan negara ditempatnya bekerja. Kepintaran dan strategi yang dimilikinya membuat seluruh pemimpin menunjuknya sebagai ketua yang bertanggung jawab atas sistem keamanan di seluruh kota.


Jayden Lee, satu-satunya adik lelaki dan keluarga yang dimiliki oleh Aiden. Kepintarannya dan sang kakak patut di setarakan dilevel yang sama, hanya saja Jayden tidak pernah tertarik berada didalam gedung untuk berdiam diri menatap layar lebar dalam sebuah ruangan. Ia lebih suka berkeliaran di lapangan bersama sahabatnya. Double Agent, itu pekerjaannya saat ini dan setiap kasus yang ditanganinya dipastikan akan memberikan hasil yang sangat memuaskan.



"Kau tahu tentang sistem keamanan yang baru? Mengapa kota ini selalu menganti sistem keamanannya setiap 3 tahun sekali, padahal kurasa sistem sebelumnya pun tak dapat dikatakan buruk."

Pria tinggi yang berjalan disisi kanan Jayden bertanya dengan suara rendah agar tak ada yang mencuri dengar pertanyaannya yang terdengar seperti sebuah komplain sebenarnya.

"Entalah, Aiden Hyungpun tak tahu mengenai hal ini. Hari ini dia akan mencari tahu mengapa sistem 
keamanan kita diganti." Pria dengan surai terang itu menatap sekeliling, ia menepuk bahu sahabatnya saat melihat seorang pria bersurai merah datang dari arah berlawanan.

"Kutunggu kau dimobil, sapalah dia sebelum berangkat." Jayden melangkah pergi terlebih dahulu meninggalkan sahabatnya yang sejak seminggu ini terlihat seperti orang bodoh yang hanya berani melempar sebuah senyum ramah pada pria bersurai merah yang baru saja bergabung di kantor mereka 2 minggu lalu.

"Selamat Pagi Lucas-ssi.."

Bagai mendapat siraman air surga begitu dirinya disapa, Lucas tak dapat mengontrol wajahnya karena baru saja dirinya disapa terlebih dahulu oleh pria bersurai merah tersebut, ia hampir melompat girang andai saja pria itu tak berhenti dihadapannya.

"Ju-Jungwoo-ssi, selamat pagi."

"Kudengar akan diluncurkan sistem keamanan baru hari ini? Kau tahu apa itu?"

Lucas menggeleng ia menoleh kearah belakang terdapat ruang laboratorium tidak jauh dari tempatnya berdiri "Aku tak tahu tapi beberapa waktu ini kulihat ruangan itu selalu ramai dikunjungi oleh beberapa orang, mungkin penelitian yang mereka lakukan benar-benar menghasilkan."

Pria bersurai merah itu menatap pintu ruang laboratorium yang tertutup rapat bahkan dijaga oleh beberapa orang disana. "Ada apa Jungwoo-ssi?"

"Ah tidak ada.." Jungwoo tersenyum manis pada Lucas yang menatapnya dengan rasa penasaran 

"Apa kau ingin makan siang bersama Lucas-ssi?"

Baiklah, Lucas hampir mengangguk dengan wajah konyolnya andai saja ia tidak lupa bahwa hari ini dia memiliki satu hari agenda penuh bersama dengan Jayden "Maafkan aku, hari ini aku memiliki banyak sekali tugas dengan Jayden, jika kau tidak keberatan beso-..."

"Berikan aku nomor ponselmu.." Jungwoo segera memotong kalimat panjang Lucas "Akan lebih mudah membuat janji untuk makan siang jika aku memiliki nomor ponselmu bukan?" Jungwoo tersenyum sangat ramah pada Lucas sambil menyerahkan ponselnya pada pria tampan tersebut dan tentu saja dengan cepat ponsel tersebut disambar oleh Lucas untuk mengetikkan nomor ponselnya.

"Hubungi aku.."

"Tentu.." Jungwoo kembali mengambil ponselnya dan menatap punggung Lucas yang sudah beranjak pergi menghampiri pria bersurai terang di luar gedung keamanan yang tadi disebut bernama Jayden.

"Jayden? Huh.." Ia menunduk dan menatap ponselnya kemudian menyimpan nomor ponsel Lucas dalam kontaknya, sebelum ia beranjak kembali kedua netranya menatap pintu laboratorium. Ada rasa penasaran yang besar dalam tatapannya namun ia tidak bisa bertindak sesuka hatinya bukan? Walau hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya semata.

Ponselnya bergetar ia melihat sebuah notifikasi pesan yang hanya berisi sebuah kalimat singkat 'mereka sudah memulainya' dan rasa penasarannya pun terbayarkan.

Kim Jungwoo, Pekerja magang yang baru saja masuk dan bekerja sebagai staff keamanan tingkat rendah, hanya mengawasi dan membantu mengisi beberapa proposal pengajuan keluhan. Namun tujuannya memasuki pemerintahan dimulai dari tempat ini bukan untuk benar-benar bekerja, ada yang harus dicari dan ditemukannya disini.



Pria itu melangkah meninggalkan rasa penasarannya melewati beberapa orang yang melangkah keluar dengan pakaian lengkap berwarna hitam, helm serta masker yang menutupi sebagian wajah serta pakaian anti peluru membalut tubuh seluruh pria yang melewatinya.

Netranya melirik dan mendapati salah satu dari mereka tengah menatapnya, satu anggukan pelan Jungwoo berikan pada pria itu dan segera dibalas dengan sebuah kedipan mata.

"Taeyong-ssi, selamat menjalankan misimu." Pria tadi mengangguk mendengar namanya dipanggil. Ia melangkah memimpin beberapa orang dibelakangnya, hanya beberapa ia tak perlu anggota lebih banyak hanya untuk sebuah misi 'kecil'.

Lee Taeyong, adalah pemimpin squadron I ia seorang sniper handal dan juga pemimpin yang sangat berdedikasi bagi timnya. Dirinya merupakan salah satu anggota dari tim rahasia milik negara, ia sudah bergabung dengan pemerintah sejak 5 tahun silam disaat Aiden mulai menjabat sebagai ketua bidang keamanan. Dia pun mengenal Jungwoo dengan baik, karena tujuan keduanya berada disini adalah sama, untuk misi yang lebih 'besar'.



"Kau lihat itu? Mereka sangat keren."

Jayden merotasikan kedua matanya malas, dirinya tak mengerti apa yang membuat tim dengan jumlah manusia lebih dari 5 dan kurang dari 10 itu terlihat keren di mata Lucas padahal mereka berdua sebagai Double Agent pun sudah cukup sangat keren.

"Sudah cepat naik atau akan kutinggalkan kau disini.." Omel Jayden dan segera masuk kedalam mobil.

Lucas Wong, dia berumur lebih tua dari Jayden 2 tahun namun terkadang sifatnya jauh lebih kekanakan daripada Jayden. Namun, skill yang dimilikinya hampir setara dengan Jayden kemampuan fighting combat miliknya dapat menumbangkan musuh dalam jarak dekat dengan waktu kurang dari 5 menit.



Keduanya melangkah dipusat kota, kali ini tugas memanggil mereka untuk berpura-pura menjadi kurir. Mengambil barang yang dijual secara ilegal, keduanya hanya perlu mengambil barang ilegal tersebut sebagai bukti kemudian akan datang lagi bersama dengan beberapa petugas untuk melakukan penangkapan.

"Tuan Hwang sudah mengirimkan uangnya.. ini barangnya."

Sebuah amplop persegi panjang berukuran 3 x 7cm dan tebal kira-kira 10cm dilemparkan keatas meja. Di dalam amplop tersebut jelas terdapat benda yang mereka cari, terdengar dari suara beratnya benda itu ketika dilempar keatas meja.

Jayden hampir mengambil benda itu namun sebuah pertanyaan meluncur "Sebutkan sandinya..."
Kening Lucas dan Jayden sama-sama mengerut, saat mereka menyerang anak buah Hwang kemarin malam kedua orang itu sama sekali tidak mengatakan tentang sandi ataupun kode "Apa maksudmu? Tidak ada sandi untuk mengambilnya."

"Tidak ada sandi maka tidak ada barang."

Sial, mereka dijebak atau memang pengedar barang terlarang ini tengah mengetes keduanya?

"Apa kau sedang menguji kesabaranku?" Lucas maju selangkah namun Jayden menahan langkahnya dan menarik pria tan itu keluar dari sana, dirinya harus menghubungi seseorang saat ini.

"Apa kau tak sadar mereka sengaja Jayden."

"Tenanglah, bukan uangmu yang dimakan oleh mafia serakah itu." Ucap Jayden dengan tenang, jika tadi dirinya tak menahan Lucas bisa dipastikan bahwa akan terjadi baku hantam didalam gedung tua tadi.

Jayden melangkah terlebih dahulu kembali memasuki jalan yang lebih ramai daripada gang sempit sepi sebelumnya yang terdapat pintu samping menuju gedung tak terpakai tersebut, ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan hampir melakukan panggilan ada seseorang yang ingin di maki olehnya saat ini karena memberikannya informasi tak akurat bagi tugasnya hari ini.

Grep!

Kedua mata Jayden membulat saat melihat ponselnya raib dari genggaman tangannya "HEI!!"

PRANG!!

Jayden hampir berlari mengejar seseorang yang mengambil ponselnya, namun kaca pecah dari lantai atas gedung tua yang digunakan sebagai tempat pertemuan mereka dengan bandar narkoba tadi membuat langkahnya berhenti.

Ziiing...

Baik Jayden maupun Lucas terkejut melihat sebuah panah melesat melewati mereka dan tertancap pada pohon tak jauh dari keduanya, beruntung keduanya bisa menghindar.

"Penyerangan!"

Lucas segera mengeluarkan pistol dari saku belakangnya "Kau ambil kembali ponselmu biar aku yang mengecek keatas!" Pria tinggi itu sudah berlari keatas sembari meminta bantuan ke pusat keamanan.

"Ck, sial!"

Mau tak mau Jayden mengikuti perintah Lucas padahal selama ini dirinya sangat enggan di suruh-suruh oleh orang lain selain kakaknya Aiden, kedua tungkainya berlari membelah jalan trotoar mengejar bocah berambut coklat yang merampas ponselnya.

Anak itupun merampas ponselnya bukan karena membutuhkan uang, ia sepertinya tengah mengerjai Jayden. Terlihat dari bagaimana cara anak itu sengaja menunggu Jayden agar pria itu tidak kehilangan jejaknya.

"Akan kupatahkan leher anak itu!"

Jayden makin berlari dengan cepat berbelok menyusul anak nakal bermata sipit tersebut namun dirinya justru menabrak seseorang hingga keduanya terjatuh dan berguling di atas trotoar.

Bruuk!

"Akh.."

Jayden segera berusaha beranjak berdiri dan membantu seseorang yang ditabraknya tadi untuk ikut berdiri. "Kau tak.... apa?" Jayden sempat terbata saat menanyakan keadaan dari sosok pria yang ditabraknya.

Tak menyangka bahwa pria tersebut benar-benar terlihat menarik di matanya ia bahkan sampai lupa harus mengejar sosok anak nakal tadi, Jayden terlalu fokus pada keadaan pria dengan mata bulat yang tengah menatapnya saat ini.

"Aku tak apa-apa.." Pria itu mengalihkan pandangannya dari Jayden ia melihat anak nakal yang membuat pria bersurai terang itu berlarian sampai menabraknya kini tengah terkekeh di tepi trotoar. 

"Yak Zhong Chenle apa yang kau lakukan?"

Jayden menatap pria itu dan anak nakal yang masih berada disana berharap dikejar olehnya sedari tadi itu bergantian "Kau mengenalnya?"

Pria bersurai auburn tersebut menghela nafas "Maafkan sepupuku, dia memang sangat suka menjahili orang lain." Tak lupa dirinya bahkan sampai membungkuk sedikit untuk meminta maaf.

"T-tak apa, sungguh.. Anggap saja diriku berolahraga." Jayden menatap anak nakal itu "Kembalikan ponselku. Kau seharusnya tak membuat sepupumu kesusahan dengan tingkah nakalmu." Ia mengulurkan tangannya berharap ponselnya dikembalikan dan memang anak nakal itu mengembalikan ponselnya.

"Sekali lagi maafkan sepupuku... Uh..? Siapa namamu?"

"Jayden namaku Jayden Lee, namamu?" Ia menjawab sambil sibuk mengecek ponselnya dan menyimpannya kembali kedalam sakunya.

"Na Jaemin itu namaku."

Jayden tersenyum mendengar nama tersebut, ia hampir membuka suara untuk berbincang dengan si manis ini namun si anak nakal itu menginterupsi ucapannya.

"Hyung ayo pulang, aku sudah lapar.."

Baik Jayden ataupun Jaemin saling melempar tatapan canggung satu sama lain "Baiklah, adikmu sepertinya sudah sangat lapar, aku akan kembali ketempat sebelumnya. Sepertinya temanku membutuhkan bantuanku."

Jaydenpun segera pamit untuk pergi meninggalkan Jaemin dan sepupunya Chenle. Begitu punggung Jayden menghilang dari pandangan keduanya senyum ramah di bibir Jaemin perlahan menghilang ia tak tahu bagaimana ia bisa berpura-pura tersenyum seramah itu tadi.

"Kau baik-baik saja Hyung?"

Jaemin mengangguk walau sesungguhnya punggungnya masih terasa sakit akibat terhantam trotoar tadi "Kau mendapatkan sinkronisasi data keponselnya?" Anggukkan Chenle membuat Jaemin menghela nafas lega, ia menerima ponsel milik Chenle yang sudah ia sinkronisasikan dengan ponsel milik Jayden.

"Kau kembalilah lebih dulu Hyung ada yang ingin kukerjakan.." Chenle segera beranjak pergi tanpa menunggu Jaemin bersuara, karena ia tahu pria itu pasti akan memintanya untuk tidak pergi kemanapun lagi.

Zhong Chenle, adalah salah satu dari beberapa manusia yang dilahirkan dengan memiliki kelebihan. Ia dapat berpindah tempat dengan mudah, ya anggaplah dirinya seorang teleporter namun dirinya menggunakan kekuatannya tersebut hanya pada saat-saat terdesak. Keahlian lainnya adalah, ia dapat meracik racun dan penawarnya apapun jenis racun tersebut ia dapat membuatnya dan menemukan penawarnya.



"Ck anak itu benar-benar.." Jaeminpun membersihkan pakaian belakangnya yang terasa berdebu karena terjatuh diatas trotoar tadi, ia tak menyangka pria tadi akan menghantam tubuhnya sekuat itu.

Na Jaemin, tidak jauh beda dengan Chenle iapun dilahirkan dengan kelebihan. Setiap perkataan yang dikeluarkannya bagaikan mantra sihir bagi para manusia normal, mungkin termasuk Jayden karena reaksi pria tadi ketika melihat Jaemin untuk kali pertama. Pekerjaannya adalah seorang Hypnotherapy disebuah rumah sakit kejiwaan, namun tak lama lagi mungkin ia akan berpindah pekerjaan.



Lucas berlari menuju lantai dimana ia melihat dari bawah kaca gedung tersebut pecah, ia mengarahkan pistol dalam genggamannya kesegala arah yang mencurigakan baginya namun ia tidak menemukan siapapun yang mencurigakan kecuali si bandar narkoba brengsek tadi kini sudah terkapar diatas lantai dengan kepala berlubang bersimbah darah.

Pria tinggi itu menyimpan kembali senjata miliknya dan menghampiri tubuh tak bernyawa tersebut, itu bukan luka tembakan. Lubang mengangga di kepala orang ini berasal dari sebuah panah crossbow bagaimana bisa ada seseorang yang menggunakan crossbow dan membuat kepala seseorang berlubang seperti ini?

Perlahan ia melangkah menghampiri kaca jendela yang sudah pecah tersebut, kedua netranya memandang penuh tanya pada anak panah yang tertancap pada pohon dibawah sana, ketika ia melihat beberapa mobil dari sektor keamanan datang dari kejauhan Lucaspun segera beranjak turun kembali kebawah. Ia menghampiri anak panah yang tertancap di pohon tersebut, dengan sapu tangan miliknya Lucas mencabut sekuat tenaga anak panah tersebut.

Entahlah ia merasa anak panah ini akan membawanya pada sebuah kasus namun ia enggan membaginya dengan sektor keamanan, Lucas akan mencoba untuk memecahkannya sendiri. Usai mencabut panah tersebut ia menyimpan benda panjang tersebut dibalik saku dalam jaket kulit yang digunakannya.

"Dia sudah mengambil apa yang seharusnya di ambil."

Mungkin Lucas tak menyadari bahwa sedari tadi seorang pria tengah memperhatikannya dari atap gedung, bibirnya menyunggingkan senyum miring sebelum menyimpan kembali crossbow miliknya dibalik lengan kirinya, siapa yang menyangka dibalik lengannya ia bisa menyimpan sebuah crossbow lipat beserta anak panahnya.

"Tugasmu sudah selesai Renjunie, kembalilah."

"Lalu bagaimana dengan tugas yang lainnya? Apa butuh bantuan?"

Suara tawa terdengar dari alat komunikasi yang digunakan di telinga kiri pria tersebut, ia sempat mengerutkan keningnya saat mendengar tawa renyah dari seberang sana "Jika nyawa mereka terancam atau mereka ingin membunuh seseorang, kau pasti akan berada disana dalam waktu kurang dari 5 menit aku yakin itu. Jadi tak perlu mengkhawatirkan yang lainnya Renjunie."

Pria bernama Renjun itu membalasnya dengan tertawa pelan, namun sembari tertawa ia mengeluarkan pisau lipat kecilnya dan melemparkan pisau tersebut pada seekor burung yang berada tak jauh darinya hingga hewan tak berdosa tersebut terjatuh dan tewas diatas atap.

"Baiklah.." Renjun memutuskan panggilan dari alat komunikasinya kemudian melirik pada jasad burung yang tergeletak diatas atap tersebut.

"Jika dinding saja punya telinga... apalagi denganmu wahai merpati kecil.." Ia menghampiri burung tak bernyawa tersebut, kemudian menarik pisau miliknya dari tubuh burung tersebut kemudian beranjak dari sana.

Huang Renjun, dialah sepupu jauh Chenle yang sebenarnya. Namun dirinya tak sama dengan Chenle, hanya saja nasib yang mereka alami tak jauh berbeda. Ia hanyalah seorang manusia biasa yang menjalani kerasnya hidup dengan berlatih dan membunuh demi menyalurkan kemarahan yang tertahan di rongga dadanya, dia seorang pembunuh berdarah dingin.



Suara decitan sepeda terdengar mengisi gendang telinga Chenle ketika dirinya tiba ditempat dimana ia memiliki urusan, mungkin dengan salah satu pria bersurai cokelat yang terduduk di tepi taman membenarkan rantai sepedanya yang terlepas.

"Kau tidak bermain?"

"Apa kau tidak melihat rantai sepedaku terlepas?" Pria itu menghela nafasnya dan kembali sibuk dengan sepedanya yang rusak.

"Biar kubantu..."

"... Jangan, aku tak ingin tanganmu kotor." Tahannya, ia sudah menahan kedua tangan Chenle sebelum melontarkan kalimat penolakan.

"Benarkah?"

"Ya.. Duduk sajalah, dan temani aku disini. Setelah selesai kita akan pulang.."

Ucapan pria tinggi tersebut dituruti oleh Chenle yang dengan patuh duduk di sisi kanannya memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh satu-satunya teman yang dimiliki olehnya saat ini, diluar dari masalah yang tengah dihadapinya saat ini.

"Jisung-ah.."

"Hmm?"

"Terima kasih kau sudah mau menjadi temanku."

Pria bernama Jisung itu menoleh, ia usai membetulkan rantai sepeda miliknya "Jika ingin berterima kasih datanglah besok saat kompetisi sepedaku berlangsung." Sahutnya tidak lupa dengan senyum hangat di bibirnya.

Park Jisung, dia seorang biker bisa dikatakan hidupnya ia dedikasikan untuk bersepeda. Ia benar-benar memulai segalanya dari awal, ketika dirinya sama sekali tidak bisa menaiki sepeda hingga saat ini dirinya menjadi stunt biker disebuah stasiun televisi yang akan memanggilnya jika ada adegan berbahaya yang membutuhkan tenaganya. Ia hanya hidup berdua dengan sepupunya yang juga menghabiskan waktunya di jalanan sama sepertinya.



"Kau sudah kembali? Ah Chenle, kau datang lagi?" Pria tampan yang baru saja memasuki flat sederhananya bersama dengan Jisung cukup terkejut melihat teman dekat sepupunya tanpa risih selalu datang kerumah mereka yang jauh dari kesan bagus.

"Iya Hyung, aku dan Jisung sudah membeli makanan kau ingin makan bersama dengan kami?"
Pria itu menggeleng sembari tersenyum, ia meletakkan kunci motornya dirak penyimpanan "Kalian makanlah lebih dahulu, aku akan mandi. Nikmati waktu yang kalian miliki."

Ucapannya membuat Jisung dan Chenle saling menatap bingung satu sama lain, namun mereka tak mendapatkan jawaban apapun atas apa yang keduanya pertanyakan didalam kepala mereka.

Kran air didalam kamar mandi dimatikan, pria tampan tadi keluar setelah mengenakan handuk yang ia lilit melingkari pinggulnya sembari menghela nafas ia meraih ponselnya yang terdapat di dekat wastafel dan membaca pesan masuk pada ponsel miliknya tersebut.

Sebelum keluar dari kamar mandi ia memutuskan untuk melakukan panggilan "Siapa lawanku besok malam? Pastikan saja dia menyiapkan bayaran yang pantas untuk berada di satu arena balap yang sama denganku."

"T-Y, kudengar itu namanya. Kau pernah mendengar nama itu Jaehyun?"

Pria itu mengerutkan keningnya tanda berpikir "T-Y? Aku tak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Siapa juga yang perduli akan hal itu, besok diriku akan datang tepat waktu." Pria yang dipanggil Jaehyun itu memutuskan panggilannya sepihak dan beranjak keluar dari kamar mandi tanpa menyadari bahwa Chenle sedari tadi bersandar tidak jauh dari pintu kamar mandi.

Jemari lincahnya mengetikkan kalimat singkat kemudian mengirimkannya pada seseorang 'Dia menerima tantanganmu Hyung.'

Jung Jaehyun, sepupu jauh Park Jisung namun keduanya hidup bersama dikota besar yang keras ini karena kedua orangtua mereka sudah tiada saat terjadi sebuah kecelakaan fatal 10 tahun lalu. Kini ia bekerja sebagai seorang Speed Racer illegal, siapa yang tak mengenal namanya di arena balap Jeffrey begitu mereka memanggilnya. Kecepatannya dalam membawa motor ataupun mobil pun dapat disetarakan dengan pembalap profesional, hanya saja ia jauh lebih tertarik menjadi pembalap illegal karena penghasilan yang didapat lebih besar dalam semalam daripada pembalap legal.



Meja berbentuk segi lima hanya diisi oleh 3 orang yang saling berhadapan dengan jarak 1 meter diantaranya, ketiganya menatap ponsel masing-masing. Mereka menghela nafas perlahan karena misi pertama milik mereka bisa dikatakan sukses.

"Ingatkan Renjun untuk kembali sebelum malam." Ucap pria bermata kucing sembari mengelus sayang puncak kepala kucing hitam yang terduduk diatas meja.

"Sudah kukatakan, tenang saja." Pria lain lagi yang menyahut baru saja usai mengetikkan kalimat panjang agar sahabat terbaiknya itu segera kembali. Ketempat dimana mereka ber-4 tinggal sedikit jauh dari kota besar.

"Apa kau yakin kita akan memulainya sekarang Hyung?" Pria lainnya yang bersurai hitam dengan pipi tirus menanyakan kembali keyakinan si pria bermata kucing tersebut.

Namun bukan menjawab pria itu justru menoleh menatap sipenanya dan hebatnya si penanya benar-benar tidak menghindari tatapannya, padahal dia tahu bahwa si pemilik kucing hitam itu bisa membaca apa yang melintas dalam kepalanya.

"Ada apa Mark? Kau tidak terlihat ragu tapi mengapa kau mempertanyakan hal ini?"

"Tidak, aku hanya harus memastikan bahwa pasukan lebahku sudah siap jika harus di gunakan.." Jawabnya dengan senyum manis yang tersungging dari bibirnya.

Mark Lee, dia terlahir dengan kemampuan yang jarang dimiliki oleh oranglain. Selain dapat mendengar dan mengerti manusia iapun dapat mendengar dan mengerti hewan disekitarnya, namun hebatnya iapun bisa memimpin para hewan tersebut dibawah perintahnya. Lolly adalah nama harimau yang selalu menemaninya kemanapun dan bahkan kini duduk di dekat kakinya menunggu Mark selesai dengan pertemuan tuannya dengan ke-2 orang dihadapannya.



"Cih, apa sengatan lebahmu akan membuat mereka tewas seketika?" Sanggah pria bersurai merah dan berkulit tan yang duduk di sisi kiri Mark.

Pria itu terlihat mengepalkan jemarinya dengan kuat hingga percikan api muncul begitu saja dari sana, ia selalu seperti ini jika tengah tak dapat mengontrol emosi dalam dirinya "Tenang Donghyuk-ah, kau bisa membakar kita semua yang berada didalam tenda." Mark menyentuh jemari pria itu walaupun ia harus merasakan panas luar biasa saat menyentuh jemari satu-satunya pria yang berharga baginya.

"Seperti yang pernah mereka lakukan eoh?" Sahutnya dengan suara bergetar menahan kesal, namun dirinya berhasil menurunkan gemuruh emosi didalam dadanya hingga panas ditelapak tangannya tak akan lagi menyiksa Mark yang masih menyentuhnya dan berusaha menenangkannya.

"Maafkan aku."

Lee Donghyuck, dia adalah sipenerima berkat yang cukup berbahaya, sudah lewat belasan tahun namun dirinya masih sulit mengatur emosi dan kekuatannya. Pyrokinesis adalah kekuatan miliknya saat ini, warna rambutnya dan kulit tan membuatnya terlihat seperti api yang menyala ditengah senja, hanya Mark yang bisa menenangkannya walau terkadang Donghyuk tanpa sengaja melukai Mark dengan kekuatannya.



"Tahan amarahmu Donghyuk-ah, bukan hanya dirimu yang ingin mengubur mereka hidup-hidup saat ini dalam penderitaan." Pria bermata kucing itu berhenti mengelus kucing hitam miliknya.

"Mereka harus membayar mahal atas apa yang sudah mereka lakukan pada kita semua, namun sebelumnya mari kita bermain dengan mereka."

Pria itu bangkit berdiri bersamaan dengan kucing hitamnya yang melompat turun dari atas meja "Bersiaplah, kita harus buka sebelum pukul 6 malam." Ia segera berjalan meninggalkan meja segi lima dan kedua pria yang dianggapnya saudara tersebut.

Tangannya menyibak kain merah dan melangkah keluar dari tenda merah yang berada di bagian belakang tenda-tenda berbentuk bulat lainnya. Kaki panjangnya melangkah menuju tenda pribadi miliknya usai melewati sebuah booth tenda yang lebih kecil yang bertuliskan 'Ten the Sorcerer'.

Ten, ia adalah tertua kedua didalam misi ini. Ucapannya akan selalu didengar selain ucapan pemimpin mereka, ia memilih untuk memisahkan diri dan tidak tinggal berkerumun dengan saudaranya yang lain karena demi keamanan. Jika mereka berkata berpencar maka akan membuatnya dalam bahaya maka Ten mengubah semua itu. Ia tinggal bersama dengan yang spesial di tempat ini, sebuah sirkus kecil yang bagi orang-orang yang datang dipenuhi dengan trik namun nyatanya tidak. Mereka tidak pernah melakukan trik apapun disini, semua yang mereka tunjukkan adalah murni kekuatan milik mereka, termasuk Ten yang dapat membuat para manusia normal kagum hanya dengan menebak apa yang tengah mereka pikirkan.



Aiden memasuki sebuah ruangan, ia menundukkan kepala membalas sapaan beberapa orang yang bekerja dibawahnya. Kedua tungkainya melangkah melewati beberapa orang dengan pakaian lab yang menutupi tubuh mereka, ia mencari pemimpin dari tim yang menaungi adiknya tapi juga menjadi penanggung jawab atas sistem keamanan baru dikota ini.

"Johnny.." Panggilnya, dan tentu saja yang bersangkutan segera menoleh dan membungkuk memberikan salam pada pemimpin mereka tersebut.

"Hyung.."

"Sistem keamanan sehebat apa yang bisa membuat mereka mengambil keputusan sepihak untuk mengganti seluruh sistem keamanan seluruh kota, eoh? Apa mereka tak mengerti dalam proses pergantian akan ada menit dimana penyerangan dapat datang dari segala arah karena kota kita tidak memiliki pengamanan apapun.."

Pria itu berbicara panjang lebar, Johnnypun mengerti iapun merasakan hal yang sama seperti Aiden, dirinya mempertanyakan hal tersebut sejak awal ia ditunjuk sebagi penanggung jawab.

Dirinya saja bahkan tak tahu jenis sistem baru apa yang akan mereka gunakan "Kurasa kau tahu mereka menunjukku kemarin malam, jadi jangan menuntut jawaban apapun dariku Hyung. Dirikupun sama denganmu, mempertanyakan hal yang sama sepertimu." Kedua netra pria maskulin itu menatap kearah depan dimana terdapat dinding kaca yang cukup tebal, dirinya yakin bahwa dinding itu membatasi mereka dengan sesuatu didalam sana yang mereka katakan sebagai sistem keamanan.

Johnny Seo, diumur yang masih terbilang muda dirinyapun sudah menjadi seorang leader untuk sebuah Tim Investigasi 2 anggotanya adalah yang terbaik dari yang terbaik Jeno dan Lucas, seluruh tugas yang diemban olehnya ataupun Timnya pun terselesaikan dengan baik tanpa cacat sedikitpun. Ia adalah seorang tim leader yang sangat loyal.



Lampu didalam ruangan tersebut dihidupkan membuat ruangan yang ditutupi oleh kaca transparan tersebut menunjukkan apa yang berada didalam sana, beberapa peneliti yang berpakaian putih serba tertutup beranjak keluar dari dalam sana usai memasangkan jarum dan segala macam alat didalam tubuh sesosok pria didalam sana yang tergeletak diatas sebuah meja berbentuk bangsal yang mengikat tubuh pria tersebut dengan tali tebal berbahan kulit.

"Apa-apaan ini?" Gumam Aiden tak percaya dengan apa yang dilihatnya, mengapa menggunakan seseorang sebagai sistem keamanan?

"Subject E-04, bagaimana menurutmu Aiden."

Suara berat dari arah belakang tubuhnya membuat Aiden terdiam, ia memejamkan matanya sebentar sebelum mengatur mimik wajahnya agar tersenyum baru berbalik "Siapa orang bodoh yang memberikanmu ide untuk menjadikan seorang subject sebagai sumber dari sistem keamanan?" Tanyanya tanpa perduli bahwa dirinya lebih muda dari pria dihadapannya.

Pria berumur diakhir 40an dengan seragam kebesaran sebagai seorang Komisaris tersenyum kaku menatap Aiden, apa dirinya tengah di permalukan didepan banyak orang? Bahkan Johnnypun tak bisa menyembunyikan kekehan di bibirnya walau ia sudah berpura-pura tidak melihat ataupun mendengar ucapan Aiden pada salah satu pimpinan mereka tersebut.

"Bagaimana bisa kau mengatakan subject itu tidak dapat menjadi sumber sistem keamanan? Kau bahkan selama ini tak tahu bahwa dirinya ada disana selama ini Aiden."

Si pria angkuh itu menggerakkan tangannya membuat beberapa orang didalam laboratorium menekan sebuah tombol agar bangsal yang berisikan Subject E-04 bergerak dari horizontal menjadi vertikal menghadap secara langsung kearah kaca dimana Aiden dan Johnny berdiri.

Aiden hampir tak bisa menyembunyikan keterkejutan dari kedua matanya, kedua bibirnya yang terbuka tertutup rapat. Rasanya ia ingin meninju siapa saja yang berada disini saat ini demi mengeluarkan pria yang tak sadarkan diri didalam sana.

Hyukjaenya, yang ia pikir sudah tewas 15 tahun lalu dihadapannya ternyata selama ini berada didalam laboratorium gedung sialan ini.

Lee Hyukjae, salah satu diantara manusia spesial yang sialnya justru menjadi bahan penelitian dalam laboratorium yang terdapat didalam gedung keamanan milik negara. Ia dapat memprediksi kejadian dimasa depan yang belum terjadi, sehingga tak salah jika petinggi sektor keamanan menjadikannya sebagai sumber sistem keamanan yang sangat akurat. Bahkan dia bisa menebak segala hal sebelum kejadian tersebut terjadi.



"Bagaimana caramu menggunakan seseorang menjadi sumber? Bisakah kau menjelaskannya? Apa pertanyaan Aiden Hyung kurang kau pahami?"

Pria angkuh itu terkekeh, ia menyentuh pundak Aiden yang terasa tegang dan meremasnya perlahan "Kau mungkin tak pernah mendengar House of Heaven sebelumnya Johnny, pria didalam sana berasal dari sana." Netra tajam pria itu melirik pada punggung Aiden yang masih menatap kedalam "Dia memiliki kemampuan untuk melihat masa depan."

Sentuhan pria itu pada pundak Aiden terlepas ia menatap Johnny si penanya "Sistem terbaik manapun tak akan pernah bisa merubah prediksi akurat dari seseorang yang spesial sepertinya. Bukan begitu Aiden?"

Lagi, Aiden menutup kedua matanya. Begitu terbuka kembali kedua netranya yang terpancar dengan emosi berubah kembali menjadi seperti sebelumnya, raut lembut dan bersahabat. Ia berbalik dan tersenyum pada pria tersebut "Ya kau benar, kita bisa menggunakannya sebagai sumber sistem. Letakkan saja laporan tentang subject itu dimejaku sebelum jam 12 siang esok hari. Permisi." Ia melangkah keluar dari laboratorium tersebut, tidak tergesah namun langkahnya panjang seolah-olah dirinya sudah tak ingin lagi berlama-lama didalam sana.

Aiden pun tak menyadari bahwa ia menjadi perhatian dari seseorang yang tengah duduk disalah satu meja pekerja dalam ruangan tersebut. Jemarinya sesekali bergerak diatas keyboard miliknya namun sesekali kedua matanya menatap sekeliling memperhatikan sekitar berharap bahwa tak ada yang tengah memperhatikannya.

Ke-10 jemari lentiknya bergerak dengan cepat memasukan kode-kode untuk membuka beberapa file yang terenkripsi tak lupa sebuah flashdisk berbentuk pipih pun sudah menempel pada mesin hard disk komputernya tanpa menimbulkan rasa curiga dari siapapun.

"Taeil-ah, kau ingin makan siang bersama?"

Salah satu teman kerjanya menyapanya, pria yang dipanggil tersebut hanya menoleh sedikit tak sedikitpun terganggu dengan apa yang sedang dilakukan olehnya, jemarinya sudah dengan cepat mengganti layar komputernya menjadi laman pekerjaan bahkan sebelum temannya itu datang.

"Tidak, aku membawa bekal. Setengah jam lagi aku akan menyusulmu ke kantin tunggulah diriku disana." Ucapnya dengan sebuah senyuman ramah, gadis cantik itu hanya mengangguk dan segera beranjak pergi terlebih dahulu meninggalkan sang pria dengan pekerjaannya.

Moon Taeil, adalah seorang Cryptologist handal. Tak ada seorangpun dalam gedung keamanan yang mengetahui kemampuannya tersebut. Lagipula siapa yang menyangka dibalik wajah sendu dan ramahnya seorang Moon Taeil bahkan bisa mengorek rahasia milik negara dengan mudah.



Pria itu berjalan dengan riang menuju kantin sembari menenteng kotak bekalnya, ia melambai pada semua yang menyapanya hingga tak sengaja dirinya bertabrakan dengan seseorang ketika akan berbelok dilorong menuju kantin.

"Ahh maafkan aku.."

"Tak apa diriku yang seharunya minta maaf.."

Taeil dan pria bersurai merah itu sama-sama berjongkok untuk membenahi beberapa berkas yang berceceran dilantai.

"Terlalu banyak data yang terkunci, berikan aku waktu lebih lama untuk menyelesaikannya.." Taeil berbisik sembari mengumpulkan berkas-berkas pengajuan keluhan sistem keamanan yang berserakan dilantai. Ia menyerahkan berkas tersebut sembari menyelipkan sebuah flashdisk pipih pada pria bersurai merah tersebut, Kim Jungwoo.

"Kau sudah sangat membantu kami Hyung.." Balas Jungwoo sembari melemparkan senyum manisnya, ia menunduk sekali sebelum beranjak pergi dari sana membiarkan Taeil meneruskan perjalanan menuju kantin sedangkan pria lugu itu kembali melangkah santai sambil bersiul.



To Be Continued


Inspired by :
Umbrella academy
Minority report 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar