* US *
-
-
-
-
-
SAPPHIRE CITY
2044
24 HOUR BEFORE
Lampu disetiap sisi dan sudut ruang berbentuk persegi panjang dengan dinding baja berwarna redup kini sudah dihidupkan itu tandanya rapat akan segera dimulai, Kun dan Jongup membagi 2 berkas dan meletakkannya diatas meja disisi kanan dan kiri untuk dibagikan nanti.
Mereka juga sudah menyiapkan sebuah papan yang tertutup kain didepan meja panjang tersebut, dan satu per satu peserta rapat pun masuk kedalam ruangan tersebut. Mengisi setiap kursi kosong hingga terisi penuh.
Mereka semua terlihat siap akan segala hal yang akan mereka hadapi seusai pembicaraan panjang
lebar ini.
"Jadi yang akan kita lakukan adalah.." Kun berbalik badan dan menatap seluruh peserta rapat yang ia adakan siang hari tersebut satu persatu "Kita akan terpisah dalam beberapa kelompok untuk mendatangi setiap kota satu persatu dan menarik kerja sama dengan mereka diwaktu yang bersamaan.."
"Apa maksudmu kita bergerak bersama?"
Pertanyaan Lucas disambut dengan anggukan kepala oleh Kun, pria itu segera berkeliling membagikan berkas yang sudah ia siapkan sejak malam kemarin sebagai rencana esok hari yang ia susun bersama dengan Jongup serta Junmyeon. "Disana rencananya.."
Jayden dan Aiden segera melempar pandangan satu sama lain, mereka akan berada dikota yang sama dalam misi ini namun dengan tugas yang berbeda.
"Detroit, kota itu keras bahkan lebih keras daripada Sapphire City semua tahu itu, jika kalian keberatan ditempatkan pada kota itu maka katakan sebelum kalian menjalankan misi di kota tersebut."
Siapapun tahu bahwa tidak ada satupun petinggi di kota itu yang mendukung freak dikota itu, jadi tugas ini cukup menyulitkan bagi mereka yang mendatangi kota tersebut.
Dalam diam Kun menunggu hingga 5 menit terlewati dan nyatanya tak ada yang merasa keberatan dengan pembagian tugas memasuki Detroit City hanya Jaemin yang menatap Jayden namun pria bersurai terang itu melemparkan senyumannya pada Jaemin mencoba untuk menenangkan pria bersurai madu itu bahwa dirinya akan baik-baik saja begitu memasuki Detroit.
"Baiklah, kebisuan kalian kuanggap kalian setuju dengan ini."
Kun melangkah menuju papan yang berada di depan dan menarik kain penutup papan tersebut, terdapat beberapa foto para petinggi yang tertempel disana beserta nama serta jabatan. Mereka akan menemui semua orang yang wajahnya tertera di papan tersebut.
Spidol dalam genggaman Kun mengarah pada kata Detroit yang tertulis di atas papan dengan spidol merah "Kita akan masuk kesana dan menemui seorang kepala polisi, mengapa?" ia melingkarkan foto August Shin dengan spidol hitamnya. "Karena hanya dia satu-satunya freak yang diperbolehkan bekerja pada pemerintahan."
Selagi peserta rapat sibuk membaca berkas tentang August Shin, Kun meneruskan penjelasannya. "Meminta mereka membantu kita sama saja membuat mereka menjadi pemberontak dan hanya August kuncinya."
Kun menuliskan sebuah nama dipapan bertuliskan 'Yuta' dan membuat seluruh mata kini memandang Yuta yang duduk ditengah. "Lakukan 3 hal dikota itu, temui August Shin menggunakan kasus milik Yuta dimasa lalu saat dikota tersebut, dapatkan lokasi para freak dikota tersebut dan dapatkan kontak dari August menuju Emerald City. Kemudian selesaikan apa yang ingin kau selesaikan disana Yuta-ssi.."
Penjelasan panjang lebar Kun membuat Yuta beserta Jayden dan Johnny saling melempar pandangan "Apa kau tak apa?" bagaimanapun juga pintu awal mereka masuk adalah menggunakan masa lalu kelam seseorang, tentu saja Johnny merasa tidak enak.
Awalnya Yuta pun hanya diam, kembali ke Detroit sama sekali bukan termasuk hal-hal yang ingin ia lakukan sebelum dirinya tewas dimedan perang nanti, namun ketika kedua netranya beradu pandang dengan Winwin dan melihat anggukan kepala dari pria itu Yutapun perlahan menganggukkan kepalanya "Tak masalah.."
Kun segera mengangguk paham dan ia melanjutkan penjelasannya, "Kalian akan datang meminta pengajuan berkas atas kasus milik Yuta dan memancing atensinya, biarkan dia yang memasukkan diri dalam masalah kalian dan biarkan dia berpikir bahwa kalian berniat membuka kembali sebuah kasus lama."
"Uhuuukk!!" pria paruh baya itu terkejut dan segera mematikan rokok yang dihisapnya "Siapa kalian?! Berani-beraninya memasuki ruanganku?!"
"Kasus kecil katamu? Meretas sistem keamanan katamu adalah kasus kecil? Apa harus kulaporkan ucapanmu ini agar jabatanmu diganti dengan seseorang yang lebih loyal pada pemerintahan?" ujar Aiden setelah memukul meja dengan kedua tangannya.
"Tapi..."
Ziiing!
Sebuah pisau melayang melewati sisi kiri wajah pria paruh baya yang menjabat sebagai ketua polisi di kota tersebut, dan menancap tepat pada bingkai foto yang terdapat di atas meja nakas dibelakang tubuh pria bernama August tersebut.
"Berikan.. Atau lemparan selanjutnya tidak akan meleset.." ujar Yuta dengan nada mengintimidasi dan tatapan tajamnya pada August tanpa basa-basi.
"Aku tahu kalian berniat membuka kasus tersebut kembali.."
"Setelah mendapat atensinya gunakan emosimu.." Kun menunjuk Yuta, karena pemeran utama dalam misi pertama mereka adalah Yuta, bukan orang lain "Biarkan dia menggunakan kekuatannya, kuharap Johnny-ssi dan Aiden-ssi dapat melihatnya saat August menggunakan kekuatannya untuk menenangkan Yuta-ssi." Lanjut Kun.
"Kau..." Johnny yang sejak tadi hanya diam karena sibuk memperhatikan akhirnya melihat kekuatan yang digunakan oleh August saat menenangkan Yuta "... freak iya bukan?"
Ucapan Johnny membuat Aiden dan Yuta berpura-pura terkejut dan saling melempar pandangan bahwa mereka berhasil, kemudian mereka segera menatap August yang kini menatap ketiganya bergantian namun usainya terkekeh pelan.
"Sekarang kau paham bukan mengapa diumurku yang seperti ini diriku baru 7 tahun menjabat di kursi tersebut, bahkan baru 2 tahun diriku dapat bertindak sesuai naluriku bukan atas suruhan atasanku.."
"Dan tarik simpatinya atas keadaan kita para freak aku tahu ini hal yang tak ingin kalian lakukan namun, tanpa itu kita tidak akan mendapat apapun dari August." Kun menggendikkan bahunya dan kembali menatap Johnny serta Aiden dan Yuta, misi pertama untuk membuka jalan agar rencana mereka berhasil adalah ketiganya.
"Jika kau membutuhkan bantuan lebih banyak freak dari kota ini kau hanya akan dapat menemukan mereka di distrik 12, distrik kumuh yang dahulu menjadi tempat tinggalku. Namun setahuku, Emerald City memberi dukungan penuh pada seluruh freak jika kau ingin kesana akan kuberikan kontak orangku yang berada dikota itu."
"Tak masalah jika kau memberikan kontak tersebut pada kami?"
"Sama sekali tidak.." August bangkit dan mengambil buku miliknya yang bersampul kulit berwarna coklat ia menyalin sebuah kontak nomor dari sana pada sebuah kertas kemudian memberikannya pada Yuta.
"Usai mendapatkan kontak, kalian segera menyelesaikan apa yang ingin kalian selesaikan sejak awal. Berikan kontak tersebut pada Taeil yang akan tetap berada disini bersama dengan Lay dan Doyoung." Sambungnya, dan mendapat anggukkan dari Lay. Sedangkan Taeil dan Doyoung tentu saja tak berada disana saat ini, mereka sedang mencoba sepatu diruang lain.
"Distrik 12, berhati-hatilah."
Donghae segera memasuki mobil usai menghubungi Jayden kemudian menyimpan ponselnya kedalam saku coat abu yang dipakainya sedangkan Johnny segera melesat menuju alamat saksi yang di dapat oleh mereka tadi ketika memotret berkas di dalam sana, dan Yuta segera mengirimkan kontak pada Lay dengan ponselnya melalui pesan singkat.
Dengan bantuan Taeil disisi kirinya Lay segera mendapatkan nama pemilik kontak tersebut dan memperlihatkannya pada Yunho yang tengah menunggu di balik tubuh keduanya "Shim Changmin, dia kontak yang diberikan oleh August."
Yunho menghela nafas, "Simpan kontak itu berjaga-jaga jika pertemuanku dengan pemimpin di Emerald City gagal dilakukan." Perintah Yunho dan disambut anggukan oleh Taeil, ia mengirimkan nomor kontak tersebut pada Donghyuk dan Somi yang sedang dalam perjalanan menuju Emerald City dan Yunhopun segera beranjak dari sana, dirinyapun harus segera menuju Emerald City.
"Park Chanyeol.."
Kini wajah pria bersurai merah tersebut yang dilingkari oleh Kun "Dia adalah pemimpin kelompok pemberontak yang berada di Detroit City tapi tidak ada yang tahu dimana keberadaannya, dan aku yakin bahwa August.." Kun menarik garis dari potret wajah Chanyeol menuju potret August "Mengetahui dimana Chanyeol dan pengikutnya serta sisa freak yang berada di kota tersebut berada."
"Begitu banyak yang pria itu tahu namun mengapa dia tidak dibungkam saja oleh pemerintah.."
Kun kembali menggendikkan bahunya, "Mungkin mereka pikir bahwa August akan berguna bagi mereka." Ia menoleh pada sepupunya Lucas "Bernegosiasilah dengan mereka, jika tak berhasil.." Kun mengalihkan tatapannya pada Jungwoo yang mengangguk paham.
"Aku mengerti.."
"Apa yang kalian lakukan ditempat ini? Apa para tikus berdasi itu mengutus kalian kemari?" Park Chanyeol bertanya dengan lantang ia bahkan masih menodongkan senapan AK47-nya pada Jayden dan yang lainnya.
"Tidak.." Jayden mencoba untuk maju satu langkah, namun ujung senapan dari beberapa orang yang mengepung mereka menempel dibalik kepalanya dengan cepat ia paham bahwa pria ini amat sangat berhati-hati dengan siapapun pendatang yang memasuki wilayahnya.
"...jika kau membenci pemerintah, kami tidak. Tetapi kami datang dengan sebuah penawaran, mungkin kau tertarik?"
Begitu Park Chanyeol menarik sejatanya dari jendela dan beranjak perg beberapa orang dibawah pun juga menurunkan senjata yang mereka angkat tadi dan tak lama pria bersurai merah itu melangkah keluar dari gedung menghampiri ketiganya Jayden yakin bahwa Park Chanyeol sudah tertarik dengan tawaran mereka.
"Penawaran apa yang akan kau berikan padaku?"
"Bergabung dengan kami, untuk melawan pemerintah dan menyetarakan kedudukan kita dengan manusia."
"Lalu? Apa yang kami lakukan di Neo City?" Jaemin mengangkat tangannya tak paham dengan tugasnya, ia tak ingin kembali ke kota tersebut sebenarnya. Namu Kun justru tersenyum lebar menanggapi pertanyan Jaemin, ia segera menuliskan sebuah nama di papan tersebut 'Kang Hojoon' membuat Renjun tersentak kaget, karena memorinya segera membawa Renjun kembali pada malam penyerangan di sirkus malam itu.
"Anak itu? Ada apa dengan anak yang diselamatkan oleh Yuta?"
"Kita akan memanfaatkannya.."
Baik Renjun dan Yangyang kini saling melemparkan pandangan tidak paham, namun Kun terus menjelaskan apa maksud dari memanfaatkan anak kecil tersebut "Percayalah padaku, mereka sudah membayar keluarga anak ini untuk tidak mencarinya, dan meminta mereka mengakui bahwa Kang Hojoon tewas didalam tenda bersama kedua orangtua nya."
"Kami antar keponakanmu kembali pada keluarganya, kedua orangtuanya meninggal karena ledakan di sirkus." jelas Jaemin tanpa basa-basi, ia bahkan menarik salah satu sudut bibirnya usai mengatakan hal itu karena melihat ekspresi terkejut dari wajah kedua manusia dihadapannya yang ternyata sesuai seperti apa yang Kun katakan.
"Kurasa kalianpun sudah tahu akan hal itu..."
"Walaupun mereka amat sangat menyayangi keluarganya, mereka tidak akan mengambil resiko dan menerima Hojoon datang kembali, pertama keselamatan anak itu terancam... dia sudah tewas bukan? Maka mungkin.." Kun tidak melanjutkan ucapannya lagi karena ia tahu para peserta rapat paham kearah mana ucapannya.
Jika mereka sudah mengatakan bahwa pengunjung sirkus tewas seluruhnya namun nyatanya masih ada yang tersisa hidup, bukankah mereka akan menghabisinya saja? Tak perduli itu anak kecil atau bukan.
"Yang kedua keselamatan mereka yang terancam.."
"Tidak.. Kami tidak akan mengembalikannya pada kalian, tapi diriku butuh bantuan kalian. Maka kami akan merawat keponakan kalian sebaik mungkin." Jaemin mengeluarkan alat perekam yang sedari tadi sudah merekam pembicaraan mereka kemudian mematikannya dirinya sudah tahu ini yang akan terjadi dan sudah menekan tombol perekam begitu mereka melangkah turun dari mobil.
"Aku sudah mendapatkan apa yang kami butuhkan, namun jika kalian tidak keberatan tolong bantu kami dalam satu hal lagi."
Sepasang suami istri tersebut menganggukkan kepalanya setelah saling bertatap satu sama lain, walau mungkin yang mereka lakukan akan menentang para petinggi tersebut namun anggaplah ini balas budi karena freak menyelamatkan keponakannya yang memang mereka kira tewas melalui berita televisi.
"Kami akan lakukan apapun, kami akan membantu.."
"Dan mereka pasti bersedia membantu kita dengan itu.." Netranya menatap pada tumpukan kertas disudut ruangan yang baru saja selesai dicetak oleh Jongup dan Taeil 10 jam lalu disusul dengan kepala para peserta rapat yang ikut menoleh kearah dimana kertas-kertas tersebut berada.
Jaemin melangkah keluar dari rumah dan membuka bagasi mobilnya ia dan Renjun mengeluarkan beberapa ikatan besar berisi selebaran dan memindahkannya kedalam rumah sedangkan suami istri tersebut berada di dekat kaca mobil menangis melihat keponakannya yang tak bisa mereka sentuh sama sekali.
"Pastikan kesehatannya kumohon."
"Tenang nyonya, kami akan menjaganya dengan baik.." Sahut Renjun, ia segera beralih menatap Jaemin yang tengah mengambil salah satu kertas dari ikatan tersebut dan memberikannya pada sang kepala keluarga.
"... Ini.."
"Kami hanya butuh bantuanmu untuk menyebar selembaran tersebut sembari diam-diam menceritakan hal ini.. Tapi jika kalian keberatan tak perlu kalian lakukan, kalian bisa membakarnya."
"Dan jangan memaksa mereka, sekali lagi, gunakan rasa simpati dan rasa balas budi yang berada dalam diri mereka."
"Tak apa, kami akan melakukannya, iya bukan yeobo?" Sang istri segera meyakinkan suaminya, yang terpenting saat ini adalah mengetahui bahwa keponakannya selamat walau kenyataan pahit menampar mereka semua bahwa mereka para petinggi kota selama ini sudah membohongi mereka dengan menggiring opini publik sesuai skenario yang mereka karang dan inginkan.
"Jujur saja, itu terdengar mudah namun terlihat sulit dalam bayanganku." Ujar Renjun sembari menghela nafasnya "Namun akan kami coba.."
"Kupercayakan misi tersebut pada kalian.. Selanjutnya.. Dire City." Johnny dan Yunho saling melempar pandangan ketika nama kota tersebut di ucapkan oleh Kun, keduanya hampir secara bersamaan melirik kearah berkas untuk melihat siapa yang akan pergi ke kota itu, dan nama Taeyong tertera disana.
"Taeyong-ssi, Jaehyun-ssi dan diriku yang akan kesana menemui.." Kun melingkari foto lain yang bertuliskan KRIS WU dibawah potret wajah pria tersebut "... Kris Wu.. Hampir segala keputusan dikota itu berpengaruh atas keputusannya, anggaplah dia salah satu pejabat penting yang diperhitungkan suaranya dikota tersebut."
"Apa dia mudah untuk didekati untuk kerja sama ini?"
Pertanyaan Taeyong membuat Kun terkekeh "Jika ini hanya kerjasama bisnis dapat kupastikan hal ini akan berhasil dengan mudah, tapi karena ini adalah usaha pemberontakan pada negara tentu saja ini akan sangat sulit Taeyong-ssi." Kun bahkan menghela nafas, ia sudah menghadapi puluhan pertemuan dan semuanya berhasil ia terkenal amat sangat handal untuk urusan bisnis dan sebagainya, namun untuk saat ini? Sejujurnya Kun pun sedikit merasa ragu.
"Kuharap kalian tak menganggap ini adalah sebuah tekanan, kita lakukan semaksimal dan sebisa yang kita sanggup lakukan. Hanya pikirkan itu untuk saat ini." Sambungnya, ia kembali menunjuk pada Kris "Jika kita mendapatkannya, maka kebutuhan akan militer dan segala taktiknya akan terpenuhi, dia..." Kembali spidol dalam genggamannya menunjuk wajah Kris ".. Sang ahli.."
"Lalu kami? Apa yang harus kami lakukan?" Chenle membuka suaranya, namun Kun mendekati Chenle serta Jisung kemudian ia memberikan denah wilayah Dire City, ada beberapa wilayah yang sudah dilingkari.
"Kalian lihat wilayah yang dilingkari?"
"Ya.. Kami melihatnya.." Jisung melebarkan denah wilayah tersebut di atas meja, bahkan ia sampai berdiri dari duduknya.
"Jika.. Jika kita tak berhasil mendapatkannya, maka kita gunakan simpati masyarakat. Sebar selembaran tersebut di setiap sisi wilayah yang sudah dilingkari. Menurut riset disanalah tempat dimana freak bermukim dengan jumlah yang lebih banyak dari wilayah lainnya."
"Tapi.. Ini wilayah yang cukup besar.." Ujar Chenle, namun Jisung segera meremas jemari pria yang sudah menjadi prianya tersebut.
"Kau lupa? Kau bisa berpindah tempat."
"Ah.. Aku lupa akan itu.."
Kun memberikan sebuah berkas bermap biru pada Kris begitu mereka tiba di ruang kerja pria tinggi tersebut. Ia duduk berhadapan dengan Kris sedangkan Taeyong dan Jaehyun berdiri disisi kiri dan kanan Kun tepat dibelakang pria itu.
"Perlu kujelaskan?"
Kris mengangkat tangannya tanda tak perlu, bahkan pria itu tengah menunduk dan membaca berkas dihadapannya dengan serius. Ia malas mendengar dirinya lebih suka membaca itupun hanya beberapa poin penting saja.
"Kau ingin memberontak? Pada pemerintah?" Setelah sekian lama akhirnya Kris mengangkat kepalanya dan menatap ketiga pria dihadapannya bergantian satu per satu.
"Apa kalian sudah mulai gila?"
"Apa kami terlihat seperti orang gila dimatamu?" Sepertinya Jaehyun sedikit tersinggung karena pria ini menuduh mereka sudah gila.
"Ya.. Rencana ini.. Mengapa baru kalian pikirkan saat ini?" Kris tertawa ia suka saat melihat betapa terkejut wajah ketiga pria dihadapannya saat mendengar ucapannya, bahkan pria bersurai silver dibelakang Kun sudah menyentuh jam tangannya.
"Tidak perlu menyebar apapun untuk menarik simpati warga sipil, aku tertarik dirikupun ingin memberikan pelajaran pada mereka yang menggunakan freak untuk kepentingan pribadi." Netra tajam Kris tak lepas dari pergelangan Taeyong, ia menarik senyumannya begitu mendongak dan saling melempar tatapan dengan Taeyong.
"Kau mengingatkanku pada Kim Jaejoong, kau mengenalnya?"
Nama itu berhasil membuat Taeyong dan Jaehyun terkejut namun Kris berdehem pelan "Sudah sangat lama sejak diriku mengenalnya dan Yunho, katakan padaku bahwa mereka juga ikut andil dalam pemberontakan ini..."
"Jung Yunho.. Dia ada dalam misi ini namun tidak dengan Kim Jaejoong, mungkin dia ada dipihak lawan."
Jawaban datar Taeyong membuat Jaehyun dan Kun saling melempar pandangan satu sama lain, mereka tentu saja merasa bahwa Taeyong terdengar berbeda ketika Kris menyebutkan nama Kim Jaejoong.
"Sayang sekali." Kris menghela nafas kemudian mengulurkan tangannya pada Kun "Kau hanya perlu memberitahukan padaku, kapan, dan dimana? Diriku akan datang."
"Namun diriku yakin dia akan menyetujui hal ini.." Ucap Yunho "Kris Wu... Jiwa pemberontak sudah ada didalam dirinya sejak dahulu. Yang harus dipastikan hanya satu, pihak mana yang akan dipilihnya diakhir.."
Untuk sepersekian detik ruang rapat menjadi sepi, mereka tak mengeluarkan kata-kata apapun karena memikirkan ucapan Yunho. Yang sulit dari hal ini adalah apakah pada akhirnya mereka semua akan memihak pada para freak atau tidak.
"Segalanya makin terdengar sulit.." Gumam Jungwoo, walau pelan namun karena suasana dalam ruangan begitu sunyi gumaman Renjun pun terdengar dengan jelas didalam sana.
Makin sunyi..
Mungkin ini yang disebut dengan fase keraguan diantara rasa semangat yang menggebu-gebu, mereka yakin dengan pemberontakan ini, merekapun pasrah dengan segala hasilnya nanti dibelakang baik menang atau kalah tak terlalu mereka pikirkan, namun sepertinya mereka tak siap dengan kenyataan bahwa nanti jika tiba saatnya tak ada satupun yang membantu mereka untuk melawan.
"Ekhmm.." Donghyuk berdehem pelan, ia meraih segelas air yang berada tak jauh dari posisi tangannya berada, namun baru ia menyentuhnya terdengar suara mendesis dari gelas tersebut, menjelaskan bahwa kekuatan Donghyuk tengah tak terkontrol dan bereaksi atas air dingin yang disentuhnya.
"Maafkan aku.." Cicitnya, ia merasa tak enak kekuatannya justru membuat keadaan mungkin jadi semakin keruh.
"Berhenti meminta maaf.." Mark menarik lengan Donghyuk agar menjauh dari gelas tersebut, ia menyentuhnya perlahan dan menautkan telapak tangannya pada telapak tangn Donghyuk, mengenggamnya dengan erat membiarkan rasa panas dari jemari Donghyuk berpindah pada kulit telapak tangannya yang sepertinya sudah kebal akan rasa panas karena selalu melakukan hal tersebut untuk Donghyuk selama bertahun-tahun semenjak kejadian malam itu.
"Semua yang kita lakukan saat ini bukan untuk meminta maaf di masa depan karena hal kecil yang dilakukan oleh para freak hanya karena manusia tak dapat menerima hal tersebut bukan?" Ujar Mark, ia tahu dengan jelas Donghyuk yang terkuat diantara mereka saat ini tapi mengapa Donghyuk juga yang harus terus menunduk dan meminta maaf atas kekuatan yang keluar dari telapak tangannya.
"Kau benar.. Kita berada disini agar dimasa depan nanti mereka menatap kita dengan pandangan biasa bukan dengan pandangan menilai seperti saat ini.." Tambah Renjun, dirinya bukan freak tapi yang para freak rasakan ia tahu dengan baik, karena tatapan menilai itu pun ditujukan padanya karena keadaan fisiknya yang tak lagi sempurna.
"Sudah sejauh ini.. Menyesal dan memikirkan hal lainpun tak akan mengubah segalanya..." Youngwoon berdiri dari kursinya ".. Apa yang sudah kita rencanakan kita laksanakan, dengan atau tanpa bantuan sekalipun." Tambahnya, "Setidaknya saat ini kita saling memiliki satu sama lain bukan?"
Ucapan ini yang akhirnya membangkitkan semangat yang sempat padam tadi, Kun pun menarik nafas dan membuangnya secara perlahan ia seperti tengah ikut merasa tertekan untuk pertama kalinya dalam hidup.
"Baiklah, kita lanjutkan, bagaimana?"
Melihat anggukan dari yang lainnya dan Youngwoon kembali duduk dikursinya sembari memainkan jemarinya Kun pun memulai kembali rancangan rencana matangnya. Ia meraih spidol yang sempat dirinya letakkan diatas meja kemudian berbalik badan dan menatap papan dihadapannya.
"Cho Kyuhyun.." Ia mengucapkan nama itu sembari menghela nafas pelan, kemudian melingkari nama dan potret pria tersebut dengan spidol hitam "Dia adalah ketua komisaris di Sapphire City. Namun dirinyapun amat suka berjudi dan melakukan hal lain... Korupsi misalnya.." Kun kembali berbalik badan kearah peserta rapat lainnya "Namun diriku yakin dia mungkin bersedia untuk bergabung dalam misi ini."
"Aku sempat mengenalnya, dia tak seburuk saat ini hingga Lee Sungmin kakak tirinya tewas untuk melindunginya." ujar Youngwoon, ucapannya menarik perhatian hampir seluruh peserta rapat "Dia bukan freak tapi kakak tirinya adalah freak kekuatan miliknya sama seperti milik Hyukjae.."
Iris mata Youngwoon meneliti sekitar, ia menatap ke meja nakas disudut ruangan dan mendapati potret Cho Kyuhyun muda dengan Kakak tirinya Lee Sungmin, ia mengenal pria kelinci itu saat mereka masih memiliki kehidupan normal sebagai remaja sebelum Sungmin akhirnya masuk kedalam keluarga Cho dan pindah ke Sapphire City, yang membuatnya harus meninggalkan Neo City.
"Lee Sungmin.. Aku mengenalnya."
Hanya sebuah kalimat namun itulah yang berhasil membuat Youngwoon dan Junmyeon berhasil mendapatkan dukungan penuh dari Kyuhyun, pria itu ingin membalaskan kematian Sungmin tentu saja.
"Jika kesepakatan berhasil, tugas kalian berdua adalah menyebarkan selembaran tersebut dari atas puncak tower tertinggi di kota ini.." Mark dan Jongup menganggukkan kepala mereka, pekerjaan mereka mudah hanya saja memanjat sebuah tower hingga sampai diatas bukanlah perkara mudah.
"Dan jika kau tak keberatan, aku sudah menempatkanmu untuk pertemuan dengan Cho Kyuhyun, Youngwoon-ssi." Dengan segala hormat Kun menatap pria yang berada diujung meja yang berhadapan dengannya, Youngwoon segera melihat berkas dihadapannya kemudian kembali menatap Kun dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Ia akan kesana bersama dengan adiknya Kim Junmyeon. "Tak masalah, setidaknya orang tua ini masih mendapat bagian dalam misi." Ucapan Youngwoon disambut senyuman hangat oleh Kun.
"Kemudian..." Kun membalik lembaran berkas miliknya "Donghyuk-ssi dan Somi-ssi kurasa kalian akan berangkat terlebih dahulu menuju Emerald City untuk mengecek bagaimana keadaan kota tersebut, apakah benar mereka sangat pro dengan freak atau semuanya hanya omong kosong belaka.."
"Mengapa kau terlihat tak percaya Ge?" Lucas benar-benar penasaran mengapa Kun bisa merasa curiga dengan keadaan kota itu padahal Emerald adalah satu-satunya kota yang terang-terangan menerima para freak menetap dikota mereka.
"Dari seluruh kota yang ada di penjuru negeri ini mengapa Emerald City harus menjadi satu-satunya tempat dimana freak dapat diterima dengan layak disaat pemerintah justru mengatakan bahwa mereka amat sangat berbahaya. Bukankah itu sedikit mencurigakan?"
"Jika kalian menemukan setitik saja keanehan dikota itu dengan mata kepala kalian sendiri, segera kabari kami dan pergi dari tempat itu secepat mungkin, kalian mengerti Donghyuk-ssi? Somi-ssi?"
Donghyuk dan Somi mengangguk, sekali lagi ini tugas yang berat bagi mereka berdua, itu artinya mereka akan naik kereta menuju Emerald City saat subuh nanti ketika matahari saja belum nampak batang hidungnya.
"Hal yang sama pun berlaku untuk Jisung-ssi dan Chenle-ssi, kalian harus sudah sampai lebih dahulu di Dire City sebelum diriku, Taeyong-ssi dan Jaehyun-ssi tiba." Kun menoleh pada Chenle yang masih memahami letak wilayah bersama dengan Jisung "Jika kau tak bisa menggunakn teleportmu karena terlalu jauh, gunakan kereta berangkatlah dipagi hari bersama dengan Donghyuk-ssi dan Somi-ssi, kau paham?"
"... Ya.."
Ketika hari masih gelap baik Jisung, Chenle, Somi dan Donghyuk sudah bersiap, mereka bahkan mengenakan rompi anti peluru dibalik pakaian yang merek gunakan guna berjaga-jaga. "Apa ini benar?" ujar Somi mengundang perhatian ketiga pria lainnya yang tengah memakai sarung tangan.
"Kalian berdua akan pergi ke Dire City, kita semua tahu bahwa pelatihan yang kalian jalani belum cukup bukan?"
"Somi-ya, percayakan saja semuanya pada Kun-ssi, aku yakin dia memikili alasan mengapa keduanya mendapat tugas di Dire City." Donghyuk masih mencoba untuk berpikir positif, ia bahkan menyelipkan sebuah pistol kecil di balik sakunya.
"Kau bisa menggunakannya Hyung?"
Donghyuk terkekeh, Jisung yang penasaran sangat menggemaskan "Tentu saja. Selama kalian berlatih diriku dan Mark juga berlatih hanya saja dengan benda yang lebih modern."
"Aku sudah selesai, akan kutunggu kalian didepan.." Somi memakai coat coklat ditubuhnya dan menggunakan kacamata coklat lalu beranjak keluar, dan disusul dengan Donghyuk.
"Cepatlah, atau kalian akan ketinggalan kereta."
Usai Somi dan Donghyuk keluar tersisa hanya Chenle dan Jisung yang kini saling melempar tatapan, ada keraguan dan sedikit rasa takut yang terlintas ditatapan keduanya namun perlahan hal tersebut hilang ketika mereka saling melemparkan senyuman satu sama lain.
"Genggam tanganku Chenle-ya, jangan pernah melepaskannya apapun yang terjadi. Aku yang akan melindungimu.."
Anggukan kepala Chenle menghasilkan senyuman hangat di bibir Jisung, ia mengecup puncak kepala Chenle sesaat kemudian kembali memasukkan sebuah crossbow kedalam tasnya dan sebuah belati kecil miliknya yang selamat setelah kebakaran malam itu.
"Kau membawa belati itu?"
"Ya.. Untuk berjaga-jaga.."
Chenle menunduk saat ia melihat Jisung mengulurkan tangannya, setelah ia menggunakan masker hitam untuk menutup setengah wajahnya Chenle segera meraih uluran tangan Jisung dan menggenggamnya kemudian keluar bersama.
"Hangeng.." Kun melingkari potret terakhir yang tertempel di papan "Dia adalah pemimpin Emerald City, diriku tidak salah saat mengatakan pemimpin. Yunho-ssi dan Himchan-ssi akan menemui pemimpin Emerald City secara langsung dengan tujuan dan maksud yang jelas."
"Apa bisa seperti itu?" Jujur saja Himchan sedikit ragu jika mereka kesana dengan identitas dan maksud yang jelas.
"Kenapa tidak? Bukankah mereka kota yang amat terbuka?" Pertanyaan justru dibalas dengan pertanyaan "Itulah sebabnya Donghyuk dan Somi akan sampai lebih dulu guna melakukan pengamatan, jika positif kita gunakan jalan ini. Jika negatif.." Kun menggantung kalimatnya, ia menghela nafas dan menuliskan kata 'CONTACT' dengan sebuah garis panah disisi kiri foto Hangeng kemudian melingkarinya.
"Kita hubungi kontak dari August, oleh karena itu, keberhasilan di Emerald City sekali lagi bergantung pada pertemuan dengan August.." Kun menarik garis panjang dari kata 'Contact' menuju potret wajah August Shin.
"Ini benar-benar terasa sulit.." Gumam Somi, jemarinya sedari tadi tak berhenti meremas ujung kertas dari berkas dihadapannya, hanya sesekali kertas tersebut dibaca olehnya sisanya ia hanya menggunakannya sebagai alat melampiaskan kecemasan.
"Tenang saja, kami pasti bisa mendapatkan kontak itu dari August.." Aiden meyakinkan, ia menghela nafas dan menganggukkan kepalanya seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Semua yang berjalan esok hari akan berhasil jika misi pertama selesai, maka tujuan dari segala rencana inipun harus berhasil.
"Baiklah..." Kun menghargai semangat Aiden walau terlihat ragu namun itu bukanlah alasan mengapa Aiden terpilih menjadi pemimpin di badan keamanan negara, jabatannya lebih tinggi dari siapapun yang berada dalam ruangan ini termasuk para petinggi negara tetangga, ia yakin Aiden bisa mengatasi hal tersebut dan melancarkan misi pertama mereka dengan baik.
"... dan selanjutnya.." Kun menoleh pada Winwin yang sedari tadi diam tak bersuara, dia hampir 11 12 dengan Yangyang pendiam, namun dalam arti berbeda diantara keduanya. "Mungkin tugasmu yang paling berat, karena harus menyelinap masuk kedalam Gedung Keamanan.."
Seluruh mata kini segera menoleh pada Winwin, namun hanya Yuta yang merespon "Apa dia hanya sendiri? Apa kau sudah gila?" Seburuk apapun interaksi diantara keduanya tetap saja Yuta tak pernah berharap Winwin akan masuk kedalam kandang macan seorang diri.
"Setidaknya untuk saat ini hanya dia yang bisa masuk kesana tanpa dicurigai dan tak ada yang mengenali wajahnya." Jelas Kun, ia menghela nafas pelan karena Yuta masih menatapnya tak terima "Tapi jika kau keberatan.."
"Aku tak keberatan.." Selanya memotong kalimat yang akan diucapkan oleh Kun, baginya Yuta terlalu mengkhawatirkan keadaannya "Bekerja sendiri jauh lebih baik, sehingga tidak akan ada yang menganggu misiku." Lanjutnya.
Winwin melangkah dari pintu depan dengan menggunakan kartu pass yang sudah dimanipulasi oleh Jongup dan Taeil, mereka menjadikan Winwin salah satu dokter seperti Jaemin agar lebih mudah masuk kedalam sana setelah dirinya menghafal peta jalan yang harus dilewatinya tanpa tertangkap kamera CCTV.
Dengan wajah datar ia membenarkan letak kacamatanya ketika turun dari mobil Jaemin yang mengantarkannya. Dan perlahan memasuki gedung keamanan, tungkai jenjangnya menuntun Winwin menuju bagian belakang gedung seperti arah yang di beritahukan oleh Minseok dan Jongdae.
"Bawalah belatiku untuk berjaga-jaga.."
Belati Yuta hanya tersisa 6 buah, hanya belati itu yang selamat dari kejadian di sirkus karena belati tersebut menempel ditubuhnya, dan kini Winwin melihat Yuta mendorong 2 belati diatas meja kearahnya.
"Baiklah, terima kasih, akan kukembalikan kedua anakmu ini."
"Kau kembali hidup-hidup itu jauh lebih baik." Sahut Yuta sembari memalingkan wajahnya dan kembali menatap kearah depan.
"Ini cetak biru lorong dan koridor yang memikiki CCTV dan tidak, serta dimana letak CCTV tersebut, kau harus mempelajarinya mulai saat ini hingga esok." Kun memberikan gulungan kertas cetak biru denah Gedung Keamanan pada Winwin.
"Kau hanya perlu masuk dan segera menuju ruangan Jung Yunho.."
"Apa yang harus kuambil?" Winwin segera menoleh pada Yunho yang berada disana.
"Ada sebuah dokumen didalam brankasku, serta stempel didalamnya." Yunho memberikan sebuah kertas pada Winwin yang bertuliskan kode brankasnya "Berhati-hatilah.."
Bertabrakan dengan Hendery dan melihat keberadaan Ten sama sekali tidak terdapat dalam rencananya saat ini, setelah melepas jas dokternya Winwin mengikuti Hendery menuju koridor yang tak dilalui CCTV menuju ruangan Yunho di lantai 4.
Winwin meraih belati dihadapannya kemudian menatap pantulan wajahnya sendiri dari belati tersebut, ini kali pertamanya naik panggung seperti ini. Ia lakukan ini demi membalas apa yang sudah mereka lakukan pada sirkus tempatnya bernaung selama ini, dan tentu saja demi menemukan Ten.
"... Lay-ssi akan tetap disini karena dirinya belum pulih benar sedangkan Taeil-ssi akan membantu disini dengan tim ku yang lain dan untuk Doyoung-ssi, dia akan disuntik obat penenang agar dapat tidur seharian, kau tak apa Youngwoon-ssi."
Pria itu menganggukkan kepalanya atas keputusan yang diambil oleh Kun, ia melakukan apapun yang terbaik untuk anaknya agar dia tak perlu lagi melihat hal buruk apapun.
"Lakukan.. Jika itu yang terbaik untuk anakku."
Kun yang ditatap dengan penuh kepercayaan oleh Youngwoon segera menundukkan kepalanya sebagai bentuk hormat, ia kemudian kembali mendongak dan menatap satu per satu peserta rapat hingga berakhir pada Lucas yang duduk didekatnya.
"... Baiklah.. Rapat berakhir, semoga kalian berhasil dalam misi ini." Ucapnya dan mengakhiri rapat siang itu.
⇨ To Be Continued ⇦
Hangeng, pemimpin tertinggi Emerald City dirinya mencetuskan ide pertama kali untuk melindungi para freak dari kecaman pemerintah dan merupakan satu-satunya kota dengan teknologi paling maju di seluruh penjuru negeri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar